
Monica duduk di taman belakang rumah dengan senyuman manis ketika menyaksikan Alvino tengah berlarian dengan umpan bola yang di berikan oleh Ken.
“Come on Big bro!” Ungkap Ken meminta Alvino menendang bola ke dalam gawang kecil disana.
“Yeaaayyy! Goal!” Monica memberi tepuk tangan untuk putra sulungnya itu.
Sementara di sampingnya Famela dan Samuel duduk di bouncher ditemani para suster. Monica sedang berkumpul bersama orang terkasih sambil piknik menikmati hidangan lezat di tengah semilir angin di udara.
Monica merasa amat bahagia melihat Alvino tumbuh dengan senyuman yang selalu menghiasi putra sulungnya itu. Monica bangga bisa memberikan kehidupan layak dan membelikan apapun yang Alvino mau, meskipun sebenarnya tidak ada yang cukup untuk menebus rasa bersalah tentang masa kecil Alvino.
Lihatlah, anak berusia enam tahun itu begitu lucu, begitu bersemangat dengan hari-harinya yang kian menyenangkan. Jika biasanya hanya di rumah dengan Isabella, sekarang Alvino memiliki keluarga lengkap.
Punya Momy, punya Daddy, dan ke dua adiknya.
Monica tidak pernah berhenti bersyukur dengan segala kebahagiaan yang menimpa dirinya, perempuan itu menuai buah manis yang sebanding dengan rasa pahit yang dulu menggerogoti kewarasannya.
Monica memiliki segalanya sekarang. Punya rumah layak tinggal yang mirip seperti istana, punya suami yang sangat mencintainya, serta anak-anak yang tumbuh sehat dan bahagia. Tidakkah itu semua merupakan suatu berkat.
__ADS_1
“Dia sangat lincah, energinya tidak habis-habis sejak tadi.” Tutur Ken sambil duduk di atas tikar di sebelah Monica. Pak tua cukup kelelahan mengimbangi energi Alvino, untuk itu dia meminta Alex untuk menggantikan dirinya.
Monica hanya tersenyum sambil menyodorkan sebuah jus kepada suaminya itu. Menatap penuh cinta dan kasih pada orang yang membawa bahagia ke dalam hidupnya.
“I love you, Ken.” Tutur Monica dengan pandangan yang tetap mengunci pria itu.
“Genit sekali.” Ken masih saja tersipu jika Monica menggodanya, dia tidak bisa menahan untuk melepaskan sebuah senyuman.
“Thx for always loving me, aku sangat bersyukur memiliki mu sayang.” Monica meraih tangan Ken untuk di genggamnya. Kemudian menyandarkan kepalanya ke sebelah bahu Ken yang masih berkeringat. “Aku tak pernah merasa cukup untuk berterimakasih padamu, semua yang kumiliki di hidupku benar-benar membuat hatiku ingin meledak dipenuhi bunga kebahagiaan.”
“Kau memberiku lebih dari itu sayang. Lihatlah, kau membuat rumah ini tidak mirip seperti kuburan lagi. Kau membawa senyummu, tawa dan tangis mereka, kau membuatku hidup Monica.” Ken meraih wajah Monica yang bersandar pada bahunya, kemudian menatap wanita yang amat dicintainya itu.
Dengan orang yang tepat kau memang tidak perlu bekerja keras untuk menjadi bahagia, hal Itu terjadi begitu saja.
“Aku menemukan kepingan dirimu dalam setiap lagu yang aku dengar.” Tutur Monica.
Dua orang yang saling mencintai itu memang tidak pernah bosan untuk mengungkapkan betapa mereka sangat bahagia untuk memiliki satu sama lain.
__ADS_1
“Oh, beb. Kita harus berciuman.” Salting. Ken benar-benar tidak tahan jika Monica melemparkan kata-kata manis seperti itu. Tubuhnya langsung meleleh.
Cap..cip..cup. Berpagutan sebentar. Mereka tidak peduli meskipun di tempat itu bukan hanya ada mereka berdua.
“Bibirmu manis.” Puji Ken ketika ciuman mereka terlepas. Sementara Hanya tersenyum kemudian tertawa kecil.
“Sayang aku gerah, temani aku mandi.” Ken bangun dari duduknya kemudian meminta Monica untuk ikut bersamanya.
“Kita baru 15 menit disini. Kau bisa berenang saja, aku akan menonton mu dari samping.”
“Beeeeeebb.”
“Pak Tuaaaaaa.”
“Janji kau takkan menyesal.” Ken segera merengkuh Monica ke dalam pangkuannya. Kemudian segera membawa wanita itu untuk pergi sebentar dari sana.
“Alvino Momy segera kembali!” Teriak Monica yang tidak bisa mencegah perbuatan suaminya.
__ADS_1
“I Love You.”
“Love you more.” 💋