
Monica ikut-ikutan megutuk perbuatan yang Ken lakukan. Itu semua benar-benar terlalu kejam meurutnya, ia sungguh tidak menyangka sama sekali.Sampai-sampai author juga banyak dikata-katain sadis. hahaha..
"Gila!! Ken bener-bener gila. kenapa dia menghukum sampai sebegitu kejamya!! apalagi hukuman untuk Chyntia.'' Monica bergidik ngeri.
Kira-kira apa ya kesalahan Chytia sampai dia ikut-ikutan dihukum? gak mugkin cuma gara-gara dia adalah istri Alfian kan? Pasti ada kesalahan fatal yang sudah Chyntia lakukan. Monica bergumam penasaran.
Tidak terasa sudah berjam-jam Monica hanya duduk diam didepan layar tv. Tanpa makanan ataupun miuman. Bahkan mugkin sudah sejak semalam tidak ada apapun yang masuk kedalam perutnya.
krukk..!! krukk..!! krukk..!!
Perutnya sudah merota minta diisi, tapi si empuya malah santai saja.
"Jam berapa sih ini?" gumamnya sambil meraih ponsel.
"Astagaaa!!!" pekiknya. Ini sudah pukul 10 malam. Dan dia belum memakan apapun.
Kenapa rasanya seperti baru kembali dari mesin waktu sih?
Monica bangkit, berjalan meuju dapur mencari sesuatu untuk meggnajal perutnya. Namun sialnya tidak ada makanan apapun disana.
Haaa..kenapa lapernya baru kerasa jam segini sih?
Monica kemudian memutuskan untuk pergi makan diluar. Sekalian meghirup udara segar dan membeli beberapa keperluan diSuper market.
***
Setelah seleai makan tiba-tiba Monica kembali teringat putaran rekaman tadi. Apa yang selanjutnya terjadi pada Chyntia dan Alfian? Bagaimana nasib mereka sekarang? Masih bernafas atau sudah tertimbun dibawah tanah.
Ken.. manusia jenis apa kau sebenarnya? megapa kau bisa begitu megagumkan dimataku, namu terkadang kau juga meakutkan bagiku.. Apa rasa cintaku untukmu ini salah? Dan apa benar aku sugguh mencitaimu? atau mugkin... rasa ini sekedar hadir karena aku meridukan bagaimana rasanya diperhatikan,disayangi dan dilindugi?
Mata Monica terpaku pada kendaraan yang berlalu lalang dari balik dinding kaca sebuah cafe. Menyaksikan hiruk pikuk kehidupan malam dikota, degan orang-orang yang datang juga pergi degan tujuan mereka masing_masing. Pikiran Monica berlarian tak tentu arah.
Ken.. Alfian.. Dua orang lelaki yang hadir dihidupnya dan belakangan ini meguras pikiran Monica. Dua orang lelaki yang megukir kisah dalam hidupya. Meniggalkan jejak yang tidak sepenuhnya manis.
Apa yang harus kulakukan?
Monica dilema.
Detik selanjutnya Monica meninggalkan Cafe itu. Menaiki moilnya dan membelah jalanan yang saat ini sedang diguyur hujan. Ia kemudian menepikan mobilnya disebuah supermarket, mengingat untuk membeli beberapa keperluanya. Padahal sebenarnya diapartemen Monica juga menyediakan fasilitas retaurant dan supermarket,tapi Monica memilih untuk keluar darisana dan bereancana akan pulang menuju rumah yang baru diberikan Ken beberapa hari yang lalu.
Satu peratu barang mulai memenuhi troli belanja Monica. Lanjut mendorong meuju rak-rak tinggi yang menampilkan bayak sekali barag.Dan kali ini Monica sedang menuju rak khusus makanan kaleng. Memuat cadangan untuk diapartemen,takut-takut ia medadak lapar dikemudian hari seperti tadi. Monica memilah dengan teliti sebelum barang itu benar-benar masuk kedalam keranjang belanjanya.
Gepp!! Monica megambil kaleng berikutya. Namun sepertinya kali ini berbarengan dengan orang yang akan megambil barang yang sama.
__ADS_1
Eh.. Monica menoleh. "Jo?" panggilnya.
"Eh.. Haii, Mon.. nice to meet you.." Orang itu ternyata adalah Johan, lelaki yang Monica kenal. "apa kabar? udah lama gak ketemu..'' Johan menyapa ramah.
"Baik, Jo. Lo gimana?" Monica balik menyapa.
"Baik juga. ini...buat lo aja.." ucap Johan sambil memberikan kaleng yang tadi sama-sama mereka ambil.
"Gapapa,kali. Buat lo aja, gue beli yang lain aja." Monica tersenyum. "Yaudah, gue duluan yaa." Tambahya,Monica sedang malas untuk berbasa-basi.
"Tunggu dulu!' ucap Johan sambil menahan troli Monica yang mulai didorong. " Gue temenin bolehya? gue pengen ngobrol bentar... Hmm.... sambil jalan aja.." tambahya.
Monica diam, tidak mejawab ucapan Johan. Sebenarnya ia sedang malas untuk mengobrol,tapi tidak apalah.. daripada bertele-tele mending dia Iya-kan saja, toh sebentar lagi acara belanjanya selesai.
Kemudian mereka berdua berjalan bersama, menelusuri lorog-lorong rak disana. Berbasa-basi sambil mencari-cari barang yang mereka butuhkan dan tidak lama kemudian mereka sudah akan menuju kasir.
"Makasih lho, Jo. udah nemenin gue dan bantu bawain barang-barag gue,hehe.." Johan baru saja seleai membantu Monica memasukan belanjaan kedalam mobil.
"Slow aja kali.." Johan tersenyum dan menatap Monica. "Apa mau sekalian gue anter nyampe apart lo? ini udah malem banget tauk!"
"Gak usah, Jo. Gue bisa sendiri kok."
"Serius? belanjaan lo banyak gitu.."
Belum sempat menjawab, tiba-tiba ponsel Monica berdering. Karena mereka sedang berada dibasement, nada dering itu terdengar sangat nyaring sekali.
Monica merogoh tasnya, mencari benda itu.
Ken.. bisiknya pelan. Nomor itu bahkan sudah menghubunginnya berkali-kali.
"Siapa?" tanya Johan.
"Eh.. nggak.. bukan siapa-siapa kok." Monica kembali memasukkan ponselnya.
Kring..kring..kring..kring..
Tapi lagi-lagi ponsel itu berdering.
"Angkat aja dulu, siapa tau penting." ucap Johan
Dan Monica, ia diam sebentar sebelum akhirya ia mengeluarkan ponsel itu lagi.
Monica menggeser tombol hijau, sedikit menjauh dari Johan lalu mendekatkan ponsel itu kekupingnya. Mendegarkan suara dari orang diujung sana.
__ADS_1
"Diamana kau?"
"megapa kau tidak ada dikamarmu?"
"Selarut ini Monica?!"
"Apa?" jawab Monica dengan nada yang beda dari biasanya. Ia masih merasa ambigu dengan perasaannya sendiri.
"Aku bertanya dan kau hanya mejawab apa? cepat pulang atau aku akan..
"akan apa?hah.. menghukumku semaumu seperti kau menghukum wanita direkaman itu?!!"
"Monica!!! Cepat kembali!!!"
"Tidak mau."
"Jangan membuatku mengulangi perkataanku!!! Cepat kembali, gadis nakal!!!"
"Kalau aku tidak mau, kau mau apa hah?"
Aaaww... Tiba-tiba Monica meringis. Perutnya terasa nyeri sekali.
"Kau kenapa?"
"Hallo, Monica.. kau masih disana?
Aaaawwwww.. Monica kembali meringis, semakin kencang sambil me-re-mas perutnya. Rasa sakitnya kuat sekali.
"Monica!!! jawab aku!! Kau dimanaaaaaa!!"
Orang diseberang telpon masih berbicara, tapi Monica sudah tidak mendegarkannya. Ponselnya bahkan hampir terjatuh karena Monica benar-benar merasa perutnya sakit sekali.
Sementara Johan yang berdiri tidak jauh dari Monica, langsung berlari kearah Monica. Membantu Monica untuk bertumpu kepadannya. "Ada apa? kok kayak kesakitan?" tanya Johan
"Perut gueeeee... sakit banget.." jawab Monica lirih.
"Kok bisa sih?" Johan bahkan masih sempt untuk bertaya.
"GAKTAUU!! POKOKNYA SAKIT!!!!"
"Mmm...Eh yaudah.. Ayo..gue anter lo kerumah sakit."
Johan kemudian memopong tubuh Monica kedalam mobil. Membantunya dengan sangat hati-hati. Dan mereka berdua bergegas menuju sebuah klinik.
__ADS_1
"Monica!!!! kau bersama siapa disana?!!!" Teriak Ken disambungan telpon yang belum terputus.