
Sudah berhari-hari Monica bungkam tentang kenyataan sesungguhnya. Menutupi kenyataan bahwa anak yang ia kandung bukanlah darah daging pria yang ia cintai.
Meskipun Ken selalu disampingnya dan selalu bertanya apa yang ia inginkan dan apa yang ia cemaskan, Monica tetap menggeleng tidak menjawab. Dia hanya berkata baik-baik saja dan mengatakan hormon kehamilan lah yang membuatnya seperti itu.
Galau.. Murung.. dan selalu diam dikamar..
Begitulah Monica saat ini.
Monica terlihat sangat sedih setelah pulang dari pemeriksaan rutin kehamilannya. Dan meskipun Ken mencari tahu apa penyebabnya, lelaki itu tidak diberitahu oleh pihak rumah sakit dengan alasan itu adalah sebuah privacy. Dan Ken tidak punya waktu banyak untuk menyelidiki lebih dalam, yang ia fokuskan sekarang hanyalah tentang keadaan Monica.
"Katakan, ada apa denganmu sayang? kulihat, kau tidak ceria beberapa hari ini.." Tanya Ken sambil mengelus Monica yang sedang rebahan.
Hah.. pertanyaan Ken membuat Monica kembali jatuh ke jurang tentang kenyataan pahit itu..
"Aku hanya ingin istirahat.. aku baik-baik saja.." jawab Monica dengan senyum palsunya. Padahal batinnya tidak berhenti menjerit.
"Ada yang kau sembunyikan dariku.." Ken menatap lekat mata Monica, membuat tatapan mereka bertemu. Membuat mata Monica tiba-tiba terasa perih.
Bagaimana bisa aku mengatakan ini, Ken? apa kau akan terus mencintaiku, jika kau tahu kebenaran ini? Atau aku yang akan membohongimu seumur hidup agar kita tetap bisa bersama-sama? Bathin Monica meronta.
"Sayaaang.." Monica memanggil Ken dengan sebutan itu, tulus dari hatinya. Ken selalu mengatakan "Panggil aku sayang jika kau mau, bukan aku yang meminta.." Maka, kini Monica melakukannya. "Jangan khawatir.. wanita hamil memang seperti itu.. Sulit ditebak dan mudah berganti suasana hati." ucap Monica lagi sambil mengelus bulu-bulu halus diwajah Ken.
"Begitukah?" tanya Ken sambil menatap Monica lagi. "Tapi aku tidak bisa melihatmu seperti ini.. katakan apa yang bisa membuatmu tersenyum saat ini juga."
Aaaahh.. Bahkan Ken memperlakukan Monica semakin lembut.. Terlihat dari cara lelaki itu menyentuh dan berbicara pada Monica.. Membuat Monica semakin merasa berdosa saja.
"Baiklah.. aku akan tersenyum sekarang.." Wingss!! Monica menarik kedua ujung bibirnya, membuatnya tersenyum meski terlihat dibuat-buat.
__ADS_1
Ahaha.. Mereka berdua kemudian hanya tertawa kecil.
Tawa itu... Monica tidak ingin kehilangan tawa itu.
"Apa kau ingin jalan-jalan atau memakan sesuatu? Alex bilang wanita hamil sering menginginkan itu." ucap Ken menawari.
"Ide bagus.. Aku ingin makan tapi kau yang harus memasaknya.. Special untukku." ujar Monica menerima tawaran Ken.
"Aku? mana bisa aku memasak." ujar Ken sambil duduk.
"Tapi kau tadi menawari!!" Monica cemberut imut.
"Aku menawarkan jalan-jalan dan makan saja, bukan memasak." Ken menyangkal.
Monica hanya melipat tangan didada, semakin mengerucutkan bibir dan memalingkan muka.
"Ternyata wanita hamil sangat rumit yaaa." tambah Ken setengah berbisik.
"Kau bilang apa? rumit?" jih, pendengaran Monica tajam sekali rupanya. "Kalau kau tidak mau yasudah. Aku tidak memaksa." Monica merajuk lagi.
"Yalord!!" Ken menengadahkan wajahnya, menatap langit-langit kamar. "Kau ingin memakan apa tuan putri? Master chef Ken siap membuatnya dengan senang hati." ujar Ken lagi sambil tersenyum hingha matanya sipit.
Hahaha dia lucu juga ya kalo seperti itu!!
"Spaghetti carbonara.."
Huffftt!! Ken menghembuskan nafas malas sambil memutar bola matanya. Tapi detik selanjutnya lelaki itu beranjak mengajak Monica menuju dapur.
__ADS_1
***
Didapur..
Lelaki itu menyingsingkan lengan kemejanya, kemudian menggunakan apron. Bersiap untuk memasak makanan yang diinginkan Monica bermodalkan buku resep dan juga tutorial di jejaring interner. Dan Monica hanya duduk menyaksikan lelaki itu dikursi bar meja makan.
Detik pertama lelaki itu mendidihkan air, memberinya sedikit garam dan juga minyak untuk merebus sebungkus spaghetti. Mudah sekali, Ken tampak tidak kesulitan.
Lalu detik berikutnya Ken harus mengupas bawang bombai. Uhuuu.. Monica tidak sabar untuk melihat adegan ini.
"Apa kau kesulitan sayang?" tanya Monica menggoda.
"Ini sangat mudah. Tunggu saja, kau akan mendapatkan spaghetti terenak dari seluruh dunia." ujar Ken sombong sambil menggesek-gesek dua pisau ditangannya.
"Baik.. mari kita lihat."
Kemudian Ken dengan gagahnya memperlihatkan bahwa dia bisa melakukan itu dengan mudah. Ia mengupas bawang itu, mulai memotongnya perlahan kemudian mulai mencincang.
Hahaha.. Monica tertawa riang melihat air mata Ken bercucuran. Senang sekali melihat lelaki itu yang terkadang bertingkah lucu dan seperti anak kecil.
"Kenapa kau menangis master chef?" Monica meledeknya dengan tawa yang belum hilang.
"Ah sial! Kenapa mataku perih seperti ini!!!!" ucap Ken sambil mengelap air mata dan mencoba membuka matanya lebar-lebar.
Tawa mereka semakin tercipta seiring tingkah Ken yang gelagapan karena pertama kali memasak. Dari menangis karena mengiris bombai, keciprat minyak karena menumis bawang itu, memecahkan telur dan mengocoknya.
"Ternyata membuat masakan seperti ini rumit sekali yaaaaaa!!!" Ken hampir menyerah.
__ADS_1