Wanita Pekerja Malam

Wanita Pekerja Malam
Enam


__ADS_3

Monica Masih bersama Emily, berbincang saling menanyakan kabar, bertanya dan bercerita seperti pertemuan saudara pada umumnya. Belum sempat melihat kotak pemberian Alfian yang Alvino maksud.


"Bagaimana keseharian Ken saat menjadi daddy sekarang? Aku sangat penasaran.." Emily bertanya sambil meraih setoples camilan.


"Memangnya kamu belum pernah liat? Ya masih seperti itu, terkadang heboh dan terkagum juga, dan yang paling aneh terkadang kakakmu itu iri kepada anak-anaknya sendiri.." ujar Monica sambil menatap adik iparnya.


"Iri? maksutnya?" Emily memberengut aneh sambil memasukan cemilan kacang ke dalam mulutnya.


"Terkadang kakakmu itu tidak rela membagi waktu diriku dengan mereka, selalu inginnya berduaan dan menempel seperti perangko." Monica mencontohkan sambil menempelkan jari-jari telunjuknya.


"Hahaha... Mana mungkin seperti itu kak?" Emily tertawa tidak percaya.


"Bahkan dia sempat meminta ingin membuat sebuah kesepakatan tentang aku dan anak-anak!!" Monica semakin memperdalam curhatnya, karena untuk pertama kali memiliki teman ngobrol.


Hahaha.. Emily semakin tertawa kencang. Mana mungkin kakak lelakinya itu melakukan hal yang sangat konyol?


"Bersabarlah kak.. Mungkin itu resiko punya suami lelaki aneh seperti Ken.." Emily belum bisa berhenti terkekeh.


"Entahlah.. terkadang kakakmu itu menyebalkan."


"Tapi dia sangat mencintaimu kak.. Aku bersumpah seumur hidupku baru pertama aku melihat Ken bisa tersenyum penuh makna, bisa bersikap tulus penuh cinta.. Yaaa walaupun memang terkadang menyebalkan hehe.." Emily membela sang kakak.


"Memang sih,, terkadang dia menyebalkan namun ujung-ujungnya aku tertawa juga." Monica tersenyum lebar saat mengingat bagaimana sikap suaminya itu. "Eh iya.. bagaimana sekarang? apa Rose sudah akan memiliki adik?"

__ADS_1


"Entahlah kak,, aku masih ada rasa trauma saat mengingat masa kehamilan ku yang pertama.." Emily memberikan ekspresi tidak tertarik dengan obrolan seputar kehamilan, kembali mengingat bagaimana masa lalunya.


"Kenapa trauma? Dulu mungkin kamu sendirian, tapi sekarang kan keadaannya sudah berbeda.. Setiap orang punya masa lalu Em.." Monica meraih tangan Emily yang nganggur di paha.


"Lagipula aku sepertinya akan mengikuti gaya Ken, masih ingin berdua duaan dengan Johan, hehe.."


"Dasar adi kakak sama saja!!" Monica ikut tersenyum kecil mendengar ujaran adik iparnya.


"Mungkin karena kami baru merasai apa itu hidup sekarang, jadi kami akan enjoy lyfe sepuas-puasnya."


Benar juga.. Mungkin karena kehidupan berbulu puluh tahun yang lalu itu kelam, maka dari itu Ken dan Emily benar-benar ingin menikmati dahulu.


"Aku akan melihat anak-anak dulu sebentar ya.." pamit Monica.


Dan detik selanjutnya monica menuju Alvino yang sedang bermain bersama Rose. Ingin segera membayar rasa penasaran tentang kotak yang tadi pagi Alvino ceritakan.


Dua bocah itu sedang asyik bermain di tempat yang memang di desain sebagai ruang bermain untuk anak. Dengan berbagai furniture warna-warni, mainan-mainan, dan juga spot-spot berbentuk unik. Membuat mereka betah bermain disana seharian.


"Apa aku mengganggu?" Tanya Monica sambil mendekati dua bocah yang sedang duduk dikursi gantung yang mirip sebuah tenda.


"Hai mamii,, kami sedang bermain puzzle." Alvino membalas sapaan Monica sambil menunjukan puzzle yang sedang ia mainkan bersama Rose.


"Look at this, aunty.. Nino is very clever, he can finish it!" Rose memuji Alvino yang lebih dulu menyelesaikan kotak puzzle.

__ADS_1


"Hehehe.." Monica hanya tertawa bangga. "Kalian berdua memang anak pintar!!" puji Monica sambil menjawil ke dua pipi bocah-bocah itu.


"Nino, mamii ingin berbicara sebentar. Boleh?" tanya Monica kepada putra sulungnya.


"Sure,, Mamii.." jawab Alvino.


"Tunggu sebentar ya Rose, aunty pinjam dulu teman main mu.."


Lalu anak dan ibu itu beranjak dari ruang bermain, berjalan bersama menuju kamar Alvino untuk segera mengetahui apa isi kotak tersebut.


"Apa mamii ingin melihat kotak rahasia itu?" bisik Alvino saat mereka sudah sampai di kamar. Dan Monica hanya mengangguk sambil tersenyum. "Tapi mami harus berjanji dulu." anak itu menatap ibunya.


"Berjanji apa?"


"Berjanji bahwa rahasia ini tidak akan diketahui siapapun, apalagi daddy.." bocah itu berujar serius, menirukan permintaan sang papii saat memberikan kotak itu.


"Oke sayang, ini hanya rahasia kita berdua.." ibu dan anak itu saling mengacungkan jari kelingking, menautkan nya sebagai tanda mereka saling berjanji.


Dan detik selanjutnya bocah berusia 4 tahun itu berjalan menuju laci dimana dia menaruh kotak pemberian papii, mengambilnya kemudian membawa kotak itu ke arah Monica.


Monica hanya menatap gerik anaknya, memperhatikan Alvino yang sangat hati-hati membawa sebuah kotak berukuran sedang.


"Mami buka ya?" izin Monica saat bocah itu sudah memberikan kotak. Dan Nino hanya mengangguk tanda setuju.

__ADS_1


Monica membuka kotak itu perlahan-lahan, menatap satu persatu isinya yang ternyata adalah beberapa lembar foto.


Apa maksutnya ini?


__ADS_2