
Sam dan Alice masih berada di tempat yang sama. Hari ini mereka berdua sudah bergelung dengan api kenikmatan dua kali. Sam nampak menikmati suasana hari itu begitupun Alice. Mereka sama sekali tidak canggung, bahkan sudah sangat akrab.
"Apa besok kau akan bekerja dikafe itu lagi?" Sam duduk disebelah Alice sambil memberikan gadis itu sebotol minuman dingin. Sama-sama duduk disofa yang sudah menjadi saksi bisu kegiatan mereka. Bukan hanya dengan Alice, sofa lebar itu sudah menjadi saksi bisu bagaimana Sam bergulat dengan beberapa wanita.
"Tentu. Dalam satu minggu aku hanya libur satu hari." jawab Alice sambil memutar botol minuman dan segera menenggaknya. Membasahi leher yang terasa kering sekali.
Sam hanya mengangguk kecil. "Dimana rumahmu?"
Astaga! bahkan mereka sudah bercinta dua kali. Namun hal seperti ini baru saja ditanyakan.
"Tidak jauh dari kafe. Aku tidak punya rumah, aku menyewa disana." ujar gadis yang baru selesai menenggak minuman.
"Keluargamu?" Sam menatap gadis itu lagi dan lagi. Entah kenapa Sam sangat tertarik kepada Alice. Biasanya Sam tidak pernah basa-basi atau bertanya lebih kepada para wanita. Sam akan menghilang setelah dia mendapat kepuasan dari wanita yang ia bawa kesana. Karena pria itu juga sebenarnya memiliki kekasih.
Alice hanya menggeleng pelan. Kemudian mengulum sebuah senyuman. "Boleh aku menginap malam ini? aku mengantuk dan ingin segera tidur. Hoaaamm." Alice bahkan sudah menguap sebelum kalimatnya selesai.
"Tentu. Menapa tidak.."
"Satu lagi. Hanger.. Aku harus menggantung baju-baju ku. Mana mungkin esok aku bekerja dengan pakaian kusut seperti itu." Ekor mata Alice memberikan kode bagaimana pakaiannya berantakan disembarang tempat. Dan itu karena ulah Sam.
"As u want. Kau juga boleh memakai bajuku malam ini." Sam bangkit dari sofa itu. Menuju kamar untuk mengambil gantungan baju dan juga kaus miliknya.
Sam sudah kembali. Ia membantu memungut pakaian Alice untuk ditaruh dihanger. Sementara Alice mengenakan kaus Sam yang lumayan lebar ditubuhnya yang kecil. Membuat gadis itu tampak semakin seksi dimata Sam. "Kau tinggal disini sendirian Sam?"
"Iya.. Eh, apa kau sudah benar-benar mengantuk? kita bahkan belum makan malam."
Kelewat Asique jadi lupa segalanya!
"Kita makan, baru kita tidur." Sam kemudian mengambil ponsel dan mengotak-ngatik sebuah aplikasi, memesan beberapa makanan untuk mereka berdua. Sambil menunggu makanan datang mereka lanjut berbincang, basa-basi untuk saling mengenal satu sama lain .
__ADS_1
~
"Temukan gadis itu James aku tidak mau tahu! kau yang membuat semua ini terjadi." sudah marah kepada Sam, kini Alvino juga harus marah kepada James. Saraf dikepala Alvino rasanya sakit sekali. Betapa berat hari-harinya belakangan ini.
"Apa Tuan ingin pesta itu lagi?"
"Tidak James! cukup temukan gadis itu dan bawa dia. Aku harus meminta maaf."
Maaf? kenapa Tuan harus minta maaf? memangnya apa yang sudah bos nya itu lakukan.
"Baik Tuan." James tidak mau terlalu banyak bertanya. James langsung memenuhi perintah Tuan Mudanya dengan setia. Segera keluar dari ruangan itu."Eh.. saya harus membawa dia kemari atau ke rumah?"
Alvino sedang memejamkan mata dikursi putar yang selalu setia menjadi tempatnya berkutik dengan pekerjaan. Pria itu kemudian menimang-nimang pertanyaan James barusan. "Rumah." James mengangguk kemudian segera bergegas menunaikan titah Alvino.
"Astaga.. apa yang sudah aku lakukan.." Alvino benar-benar merasa bersalah terhadap Bianca, gadis yang memang ia kagumi di universitas. Betapa jahat dirinya sudah merenggut mahkota milik Bianca begitu saja. Meskipun Alvino mabuk tapi tetap saja itu salah. Apalagi saat mengingat bagaimana gadis itu menangis, Alvino jadi merasa semakin bersalah.
Sudah dirumah Alvino..

Disinilah Alvino tinggal dan kini Alvino sedang berhadapan dengan gadis yang semalam tidur se-ranjang bersamanya. Alvino nampak salah tingkah, tidak tahu apa yang harus ia lakukan dan katakan kepada Bianca.
Sementara Bianca hanya diam seribu bahasa. Tidak berani mengucap satu kata atau sekedar melihat Alvino yang sudah menyakitinya.
"Bee.." Panggil Alvino. Mulai berani membuka suara meskipun sangat gugup.
"Kenapa memanggilku Bee? Namaku Bianca." Gadis itu menyela dengan nada tidak suka. Masih menunduk tidak mau melihat pria dihadapannya.
"Aku minta maaf untuk kejadian semalam.. Aku mabuk." Alvino berusaha menjadi seorang gentle man yang bisa mengakui kesalahan dan segera meminta maaf.
__ADS_1
"Heh.." Bianca hanya tersenyum smirk. "Orang ber-uang sepertimu memang selalu semena-mena. Kau bebas melakukan apapun tanpa memikirkan perasaan orang lain! Lihat.. kau bahkan dengan mudah membawaku ke tempat ini."
"Apa maksutnya Bee? aku benar-benar tidak berniat untuk melakukan itu kepadamu. Lagipula bukan aku yang menginginkan pesta itu."
"Sudahlah Al. Semuanya sudah terjadi.. kalo kau sudah selesai, sekarang aku mau pulang."
"Aku minta maaf.. ku mohon.. Aku tidak bisa hidup dengan rasa bersalahku terhadapmu." Refleks Alvino menggenggam tangan gadis itu. Meminta Bianca akar menolehkan wajahnya yang tertutup helaian rambut yang menjuntai. Ingin tatapan mereka bertemu.
"Tidak perlu meminta maaf.. Harga diriku lebih rendah dari kata maaf mu itu. Untuk sekian tahun aku dicemooh sebagai pel*cur yang menjual diri dan aku selalu berusaha menepis tudingan itu. Tapi sekarang... lihatlah.. kau membayarku dan kita sudah melakukan hal itu. Aku benar-benar pel*cur sekarang." Bianca menepis tangan yang digenggam Alvino. Membeo dengan sarkas dan nada kosong. Ekor mata itu tidak lagi bisa menahan betapa sakit hatinya, membuat bongkahan air mata itu turun dengan sendirinya.
"Aku akan menebus kesalahanku Bee. Kau akan disebut pel*cur jika berganti-ganti pria. Sebagai gantinya, Aku akan jadi satu-satunya pria mu.. Sex bersama kekasih bukan melacur bukan?"
Kekasih?
"Berhentilah menari dan jadilah kekasihku.. kau mau kan?" Alvino menatap gadis dengan mata merah berair itu. Menyiratkan bahwa ia mengatakan semuanya dengan tulus.
"Apa yang kau katakan Al?"
"Aku melakukan ini bukan hanya karena kejadian semalam. Tapi karena akujuga mengagumi mu sejak lama.. Aku hanya tidak pernah berani mengungkapkan semua yang ku rasakan terhadapmu. Apa kau keberatan Bee? ataaaaauu kau sudah punya kekasih?"
Bianca menggeleng pelan. Kemudian balik menatap Alvino dengan pandangan nanar. "A-ku.. Aku tidak tahu harus bagaimana bersikap. A-aku..
"Tidak perlu terburu-buru.. Biar saja semuanya mengalir.. Tapi untuk soal menari, kau harus benar-benar berhenti."
"Ta-pi Al, itu adalah sumber uang ku. Jika aku berhenti menari maka..
"Aku yang akan bertanggung jawab."
"Tidak Al. Jangan menggunakan kekuasaanmu seenaknya! Aku tidak mau menerima uang cuma-cuma. Aku harus bekerja untuk mendapat uang."
__ADS_1
"Kalau begitu.. kau bisa ikut aku bekerja di kantor. Bagaimana?"