
Dua hari sudah rumah Ken dan Monica ramai dengan kehadiran anaak-anak mereka. Namun hari ini rumah itu kembali sepi karena mereka sudah kembali ke kota A. Ditambah kali ini Fam juga ikut bersama Sam dan Alvino. Yaa... Gadis itu akhirnya mendapat izin karena Alvino berhasil membujuk Ken dan juga Monica. Alvino benar-benar meyakinkan bahwa Fam akan selalu baik-baik saja disampingnya. Dengan catatan Rose juga ikut untuk mendampingi.
Disinilah kisah para anak muda itu dimulai. Sebagai anak yang memang hidup dan tinggal dikota yang terbilang bebas, remaja seusia mereka memang sudah terbiasa atau bahkan diwajibkan untuk hidup mandiri. Jauh dari orang tua.
Sebenarnya bukan mandiri yang menjadi alasan mereka ingin tinggal jauh dari orang tua, toh segala keperluan mereka sudah sangat tercukupi. Mereka hanya ingin hidup bebas, berkelana mencari jati diri dan juga pengalaman yang baru.
Rose dan Fam ikut tinggal bersama Alvino sementara Sam masih tinggal di apartemennya sendiri. Fam tidak merasa kaget ketika mendapati Sam hidup benar-benar sendiri begitu. Fam sudah mencium gelagat Sam yang ini sejak lama. Tapi tak apalah, Fam tidak mau mendebat hal itu dulu. Yang terpenting sekarasng keinginannya untuk tinggal bersama Alvino sudah terkabul.
"Terimakasih kak, aku sangat menyayangimu." ujar Fam sambil memeluk Alvino ketika mereka baru saja tiba dirumah yang Alvino tempati.
"Senang sekali kau rupanya." Alvino tersenyum kecil sambil mengelus rambut gadis manja itu. "Ayo.. biar kutunjukan kamar untukmu dan Rose.. Ayo Rose." Alvino melepas pelukan kemudian memimpin langkah menuju ruangan kamar yang memang masih kosong.
"Yang ini kamar untukmu Fam, dan yang ini kamar untukmu Rose." ujar Alvino sambil menunjuk pintu-pintu kamar. "Kalian bebas mendekorasi sesuai keinginan kalian."
"Terimakasih kak.. Selamat beristirahat." jawab dua gadis itu bergantian. Dan Alvino kemudian bergegas menuju kamarnya untuk beristirahat setelah perjalanan yang cukup melelahkan itu.
Dikamar Alvino..
Alvino menatap sebuah potret diaplikasi chat media sosial miliknya. Tanpa disadari Alvino menyimpulkan sebuah senyuman untuk gadis itu. Bianca.. itu adalah Bianca. Orang yang memang Alvino sukai dan sedang berusaha dicuri hatinya.
Alvino kemudian menyentuh tombil telpon, bermaksut untuk sekedar menyapa. Karena selama dua hari kemarin Alvino sama sekali tidak menghubungi wanita itu.
Panggilan terhubung..
📱 Hallo Bee..
Hi Al..
📱Sedang apa? kau baik-baik saja bukan.
Hmm.. a-ku..
__ADS_1
📱Kenapa? dari suaramu sepertinya kau sedang gelisah.. Ada apa?
Nenekku masuk rumah sakit.. Akuu.. hmm a-ku..
📱Rumah sakit? kirim lokasi dimana dirimu sekarang! Aku segera kesana!
Hanya mendengar nada cemas Bianca saja, Alvino langsung bergegas dari kasur empuk yang baru saja ia hinggapi. Alvino tiba-tiba lupa rasa lelahnya dan malah ingin segera berada disamping Bianca.
James dengan setia mengantar Tuan Mudanya itu menuju titik dimana Bianca berada. Sedikit heran namun James tidak berani bertanya.
Mengapa Alvino bisa mengkhawatirkan Bianca seperti itu? apa Alvino benar-benar mencintai Bianca? syukurlah.. Akhirnya Tuan Muda jatuh cinta juga. Tapi.. Kenapa harus kepada Bianca? dia kan......,
"Lebih cepat James!" titah Alvino yang sudah gusar duduk di jok belakang. Pikiran dan hatinya sudah berada bersama Bianca sekarang.
"I-iya Tuan." Sudah dikecepatan rata-rata tapi Alvino masih ingin yang lebih cepat dari itu. Kenapa tidak naik helikopter saja supaya tidak tersendat macet kan.
Sudah sampai tujuan..
"Bee?" Hah.. Nafas Alvino berantakan gara-gara setengah berlari tadi. Namun hatinya lumayan lega ketika melihat Bianca baik-baik saja.
"Al?" Bianca menatap sendu. Ada ketakutan dalam pancaran mata gadis itu.
"R u oke?" Alvino duduk disamping Bianca dan menatap gadis yang sudah jelas sedang cemas.
"Aku takut.." Bianca meremat ujung dressnya sendiri. Bahkan lututnya bergetar sejak tadi. Hanya nenek yang ia punya didunia ini, lalu jika sesuatu terjadi pada nenek, akan bagaimana nasib Bianca selanjutnya.
"Jangan takut.. Ada aku disini.." Alvino mengelus bahu Bianca lembut. Kemudian menuntun kepala gadis itu agar bersandar pada dirinya.
"Hanya nenek yang membuat aku semangat dalam hidup Al, aku tidak bisa membayangkan jika....."
"Sssttt.. Semua akan baik-baik saja.. Berfikirlah positif.. Karena mind set kita kadang menentukan apa yang akan terjadi."
__ADS_1
"Terimakasih sudah datang Al."
Bianca kemudian duduk tegak lagi. Belum bisa se-nyaman itu berada dipelukan Alvino. Hatinya masih risau akan nasibnya, lagipula Bianca tidak begitu mengenali Alvino lebih dalam. Belum se-akrab itu.
Satu jam..
Dua jam..
Tiga jam..
Mereka berdua masih duduk diruang tunggu. Belum juga mendapat kepastian tentang keadaan nenek Bianca. Meskipun lumayan lapar, mereka bahkan enggan beranjak hanya untuk sekedar makan. Mereka hanya memakan beberpa slice pizza yang tadi dibawakan oleh James.
"Keluarga Ny.Sofi.." suara seorang dokter memecah keheningan diruang tempat Alvino dan Bianca duduk. Membuat kedua orang itu langsung saja berdiri dan menghampiri dokter itu bersamaan.
"Aku cucu-nya." ujar Bianca dengan sangat gugup. Merasa cukup berdebar menunggu ucapan dokter selanjutnya tentang keadaan nenek.
"Ny.Sofi masih belum menunjukan apapun.. Beliau belum juga siuman." ujar dokter yang lumayan lelah karena sejak tadi menangani nenek Bianca. "Penyakit Ny.Sofi sepertinya semakin parah. Kita harus segera melakukan operasi untuk Ny.Sofi. Namun kami juga tidak bisa memastikan jika langkah ini bisa berhasil seratus persen."
"Memangnya penyakit apa yang diderita nenekmu, Bee?" Alvino menyahut sambil menatap Bianca yang sepertinya langsung diam mematung setelah mendengar penuturan dokter.
"Jantung.. Kita harus segera melakukan tindakan transplantasi jantung. Karena jantung Ny.Sofi sudah benar-benar tidak bekerja optimal. Hanya transplantasi jantung satu-satunya usaha pamungkas jika semua pengobatan penyakit jantung yang dilakukan pasien tidak memberikan hasil."
Deg!! Bianca hanya memejamkan mata saat mendengar penuturan dari dokter. Sejak lama Bianca ingin melakukan tindakan itu, namun apa daya. Biaya transpantasi jantung tidaklah murah. Bianca tidak sanggup untuk itu. Masih bisa makan dan membeli obat-obatan untuk nenek saja, Bianca sudah bersyukur.
"Lakukan tindakan apapun yang diperlukan! Berikan semua yang terbaik untuk kesembuhan Ny.Sofi." Suara Alvino menggelegar memecah kebisuan Bianca dan juga dokter.
"Al? apa yang kau katakan. Biaya pengobatan,,,,"
"Aku akan bertanggung jawab atas semua biaya nenekmu, Bee. Kau tidak perlu takut." Alvino berujar dengan sangat enteng. Seolah uang yang harus ia keluatkan hanyalah remahan rengginang.
"Tapi aku tidak akan bisa mengembalikan uangmu nanti." Wajah Bianca mulai memanas. Ia ingin menangis saat itujuga. Sungguh, Bianca tidak berdaya dan tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Dunia seakan sedang menghimpit dadanya.
__ADS_1
"Jangan memikirkan hal yang lain.. Yang terpenting nenekmu kembali sembuh."