
Hari demi hari bergulir.. Namun tidak ada perubahan yang terjadi. Hasrat Ken masih terus terhalang oleh riuhnya suara anak mereka yang membuat Monica sangat sibuk. Jika biasanya Ken bisa menyalurkan hasratnya kapanpun dan dimanapun, kini semuanya jadi berbanding terbalik. Sudah lama tidak ada peperangan yang berkualitas bagi Ken. Rasanya..... Fantasi gilanya tidak bisa direalisasikan lagi.
"Aku juga mau jadi bayimu saja!!" Hih, pak tua itu merajuk dengan bibir mencebik.
"Apa maksudnya sayang?" Monica mengelus-elus dagu Ken yang ditumbuhi bulu-bulu halus.
"Kau selalu sibuk dengan mereka, aku merasa diabaikan!!" Ken masih mencebik gemas, membuat Monica rasanya ingin tertawa saat itujuga.
Memang benar yaa.. Laki-laki seperti apapun pasti akan bertingkah seperti anak kecil jika dihadapan wanita yang dicintainya..
"Hey.. mereka siapa? maksudmu anak-anak?" tanya Monica.
Ken hanya diam, lelaki itu belum terbiasa sepenuhnya dengan keadaan ini. Padahal kemarin ia sangat bahagia karena memiliki buah hati.
"Maaf jika aku kurang membagi waktu untukmu, tapi kau mengerti kan bahwa sekarang kita adalah orangtua? bukan sepasang kekasih seperti kemarin." Monica merebahkan diri dipangkuan lelaki itu, menatapnya dengan senyuman. "Masa iya kau iri dengan Sam, Fam dan Nino?"
"Bukan begitu sayang.. eh tapi iya, aku memang iri.. Para bocah itu lebih menguasai kamu daripada aku.. kau melupakan dia yang harus kamu rawat juga." ucap Ken sambil meraih tangan Monica dan meletakannya digundukan ular cobra yang sepertinya setengah tegang.
Hahaha... Monica hanya tertawa sambil menarik tangannya. "Dasar!! kau masih selalu mesum yaa.."
__ADS_1
"Hei... itu artinya aku normal bukan? memangnya kau mau hidup tanpa dia?" ujar Ken dengan menunjuk cobra itu dengan kode matanya.
"I know baby.. tapi sekarang kan keadaanya berbeda.. kita tidak harus melulu tentang havingsexs, apa kau tidak kenyang menyiksaku sebelum kita menikah?" Monica menatap Ken dengan senyum kecilnya.
"Kau tahu aku sangat menyukai itu, mana mungkin bisa aku terus menahan ini semua? Tidak!! aku tidak bisa terus-terusan tersiksa sendirian. Aku harus membuat peraturan baru." Ken mengangkat kepala Monica yang sedang menggelayuti dirinya.
"Peraturan?" Monica mengkerutkan kedua alisnya.
"Wait!" Ken beranjak menuju rak buku yang ada dikamar itu, mengambil secarik kertas dan pulpen kemudian kembali duduk disamping Monica. "Kau yang menulis." tambahnya sambil memberikan kertas dan pulpen itu.
"Apasih?" Monica semakin tidak mengerti. "Mansutnya kita membuat kesepakatan seperti dulu lagi?"
"Tapi sekarang kita sudah menikah Ken!" Monica menatap Ken lalu meremat kertas yang ada ditangannya.
"Tapi aku merasa tidak memilikimu sekarang, bukan hanya menyita waktumu, bahkan bagian favoritku sudah menjadi milik Sam dan Fam." Ken berujar jengah, antara menyayangi anaknya dengan keinginannya yang terkesampingkan. Ken belum bisa menyeimbangkan semuanya.
"Kau tidak bisa se-egois itu, Ken!! Mereka adalah buah cinta kita, bagian dari kita. Mana mungkin harus ada kesepakatan!!" Monica menghempas kertas dan pulpen itu.
"Satu... mulai besok Sam dan Fam tidak akan menyusu dari pabriknya lagi. Aku akan memberikan mereka yang terbaik, aku janji." ucap Ken dengan entengnya. Membuat Monica memutar bola matanya sambil menatap lelaki disampingnya itu.
__ADS_1
"Dua... saat aku dirumah kita hanya akan menghabiskan waktu dengan mereka 30% saja, sisanya biar suster itu yang merawat.. bila perlu aku akan menambah suster lagi untuk mereka.."
Jih sultan mah bebas!!
"Keeeeen..."
"Monicaaaa..."
Keduanya saling menatap.
"Aku hanya ingin merasa kau tetap disampingku namun tanpa mengesampingkan mereka.. mengertilah.. aku membutuhkanmu lebih dari apapun. Selain cinta dan kasih sayang, aku juga menuntut kau menghabiskan waktu bersamaku.. seperti kemarin sebelum kita menikah."
"Artinya kau tidak mencintaiku!! kau menikahi aku hanya ingin sebuah kepuasan kapanpun kau mau!!" Monica beranjak dari sofa menatap tajam ke arah Ken yang memang terlihat raut berantakan disana. Tapi ini tidak bisa dibenarkan, masa iya harus ada kesepakatan segala?
"Aku hanya ingin kau lebih seimbang. Karena bukan hanya mereka yang butuh kamu, akujuga.."
Ah entahlah.. Monica tidak mengerti jalan pikiran suaminya itu. Ia lebih memilih menuju kasur dan bersembunyi dibawah selimut.
Melihat airmuka dan respon Monica yang seperti itu, Ken hanya bisa berdecak... memangnya aku salah?
__ADS_1