Wanita Pekerja Malam

Wanita Pekerja Malam
Ancaman


__ADS_3

Alvino benar-benar menemani Bianca selama proses tindakan untuk nenek Bianca. Sedetik pun Alvino enggan untuk pergi dari sisi Bianca. Alvino bahkan jadi banyak melupakan pekerjaan dikantor, fokusnya saat ini hanya untuk seorang Bianca.


Bianca sangat mengharapkan neneknya itu kembali sehat. Setelah bertahun-tahun melawan sakit yang tidak diobati dengan maksimal, semoga apa yang Alvino perbuat bisa menolong nenek yang sangat disayangi Bianca.


Namun takdir berkata lain, Nenek Bianca justru menghembuskan nafas terakhirnya sebelum tranplantasi jantung itu dilakukan. Jantung itu benar-benar berhenti berdetak satu jam sebelum operasi dilakukan. Membuat Bianca menangis tidak berdaya, kini malah jantungnya yang terasa ditikam.


"Jangan menangis.." Alvino tidak tega melihat Bianca seperti itu. Bingung harus berbuat apa karena Bianca benar-benar terpukul sekali.


"Hikss.." Bianca menangis, sungguh hatinya sangat terluka meratapi kepergian nenek. Satu-satunya orang yang ia miliki didunia ini.


Bianca bahkan tidak menolak pelukan Alvino, ia membiarkan tubuhnya direngkuh erat sambil menangis.


~


Kediaman Bianca..


Setelah kepergian nenek, Bianca tinggal sendirian dirumah yang sangat kecil sekali. Rumah itu sebenarnya bukan miliknya ataupun milik nenek, mereka hanya menyewa gubuk itu selama berbulan-bulan. Pindah dari satu rumah sewaan ke rumah sewaan berikutnya, begitulah keadaan Bianca.


"Apa yang kau lakukan terhadap Tuan Muda ku hah? kau membuat dia sangat berantakan sekali!" James berbisik dengan suara penuh emosi yang tertahan.


"Saya tidak melakukan apapun Tuan, saya bersumpah." Bianca masih lemah, suaranya pun keluar tanpa berdaya. Meskipun nenek sudah pergi beberapa hari yang lalu, namun luka itu masih belum hilang.


"Tidak melakukan apapun bagaimana? kau membuat Tuan Muda lupa semua pekerjaan. Bahkan dia menghabiskan uang miliaran untukmu! Kau harus membayar itu Bianca!" Suara James benar-benar penuh pengancaman. Membuat Bianca jadi menciut ketakutan.


"Aku tidak punya uang sebanyak itu untuk membalas semua yang diberikan Tuan Muda mu, a-ku....


"Kau akan membayar semuanya dengan seluruh hidupmu! kau harus melakukan apapun yang diminta Tuan Muda tanpa membantah. Kau juga harus membuat dia bahagia! Pekerjaan Tuan Muda sudah sangat menumpuk, Bianca. Jika terus begini hidup Tuan Muda juga akan hancur!"

__ADS_1


"Hancur? maksutnya?" Bianca tidak mengerti.


"Jika dia lalai dalam bekerja, maka Tuan Muda akan kehilangan segalanya.. Dan jika itu terjadi, kau menjadi orang pertama yang akan lebih aku hancurkan!" Ucapan James sungguh sarkas, namun sepertinya ancaman itu bukan main-main.


Tidak! Hidup Alvino tidak boleh hancur hanya karena aku.. Alvino adalah orang baik, dia sangat berjasa untuk hidupku..


"Baiklah.. Saya akan melakukan apapun untuk Tuan Muda. A P A P U N!!." Rela... Bianca rela melakukan apapun untuk Alvino. Bianca siap memberikan seluruh hidupnya yang sebenarnya terasa sudah mati.


"Bagus! Tunggu disini dan jika Tuan Muda datang kau harus berhasil membuat dia tersenyum dan semangat lagi untuk bekerja." James akan beranjak dari sana, namun Bianca tiba-tiba menahan langkah James.


"Bagaimana caranya?"


"Lakukan apapun yang kau bisa! Termasuk memberikan tubuhmu juga! Jangan harap kau bisa menerima kebaikan Tuan Muda dengan cuma-cuma. Aku akan mengawasi dirimu!" James menatap tajam ke arah Bianca sebelum akhirnya benar-benar pergi.


Kenapa James yang jadi penuh penekanan terhadap Bianca? padahal kan Alvino biasa saja. Bianca harus merelakan hidup dan tubuhnya juga, apa maksutnya Bianca harus menjadi budak Alvino? Entahlah. Yang jelas Bianca sudah kepalang mengatakan akan melakukan apapun.


"Iya Al.." Sebisa mungkin Bianca memasang wajah ceria. Ingat, 'kau harus membuat Tuan Muda senang'.


"Ada apa? kenapa tersenyum seperti itu?" Alvino merasa heran dengan mimik muka Bianca. Tersenyum namun seperti dipaksakan.


"Tidak Al.. Hmm,, Mari duduk." Bianca mempersilahkan Alvino untuk duduk dikursi lusuh yang ada disana. Lalu tanpa aba-aba langsung menyetuh kedua bahu Alvino untuk dipijatnya. "Kau pasti lelah.. Maaf sudah merepotkanmu."


"Jangan sungkan Bee.." Alvino rasanya jadi ikutan tersenyum kecil.


"Owh iya, beberapa hari ini kau selalu menemani aku.. Apa kau tidak pergi bekerja?" Bianca mulai memancing Alvino. Semoga saja Alvino sudah kembali mood bekerja dan Bianca tidak perlu melakukan hal yang lain agar Alvino mau bekerja seperti yang James perintahkan.


"Aku akan menemanimu sampai kau baik-baik saja." Alvino meraih tangan Bianca yang sedang bermain dibahunya.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja Al, jauh lebih baik setelah ada kamu yang selalu menemaniku." Bohong, bukan hati Bianca yang mengatakan itu. Kata-kata itu keluar dengan sendirinya. Bianca hanya berusaha membuat Alvino senang. Begitu kira-kira.


"Kemasi barang-barang mu Bee, kau tidak boleh tinggal ditempat seperti ini." Tangan Bianca digenggam oleh Alvino. Dan tatapan mereka kini bertemu.


"Apa maksutnya?" Bianca menatap tidak mengerti.


"Kau harus tinggal ditempat yang lebih layak. Aku sudah membeli apartemen dan juga rumah. Kau bebas memilih ingin tinggal dimana." Alvino berujar santai. Tidak merasa keberatan memberikan yang terbaik untuk gadis yang dia kagumi itu.


"Jangan berlebihan Al, aku masih bisa tinggal dirumah ini."


"Jangan menolak Bee. Kau hanya memiliki aku sekarang." Alvino menatap Bianca penuh ketulusan.


Jangan menolak? yaaa. Jangan menolak. Kau harus melakukan apapun tanpa membantah. Ingat itu Bianca.


Bianca menyimpulkan senyuman palsu. Padahal dalam hatinya menjerit merutuki nasib. Kenapa takdirnya harus se-pilu ini. Sebatangkara dan harus menjadi budak. "Terserah kau saja." Pasrah. Bianca hanya bisa pasrah. Hari ini Bianca menyerahkan takdirnya ditangan Alvino, sebisa mungkin Bianca akan melakukannya untuk membalas budi kepada lelaki ini.


"Jangan merasa terpaksa Bee. Aku hanya ingin membuatmu senang." Alvino tersenyum sambil menangkup wajah Bianca dengan satu tangannya. Pandangan mereka bertemu dan saling menatap dalam satu sama lain. "Kau kekasihku, kau ingat?"


Gulp! Bianca menelan ludah. Lalu mengangguk pelan dengan ragu-ragu.


"Aku mencintaimu Bianca." Cup! Refleks Alvino menempelkan bibir miliinya dengan milik Bianca. Melakukan ciuman pertama bagi Alvino juga Bianca. Mungkin lebih tepatnya kedua, karna mereka pernah melakukan ini. Hanya saja saat itu mereka sedang mabuk. "Maaf aku lancang." Alvino tersadar dengan apa yang baru saja ia lakukan. Kenapa Alvino bisa terbuai sih.


"Tidak apa Al, berciuman untuk sepasang kekasih adalah hal yang wajar bukan." Bianca tersenyum manis. Namun jiwa milik Bianca rasanya sudah pergi jauh meninggalkan raga itu. Tidak peduli dengan perasaanya, yang penting Bianca harus membuat Alvino senang. Apapun caranya.


Cup! Kini Bianca yang memulai adegan itu. Alvino tidak boleh merasa bersalah pikirnya. Dan percayalah, pada akhirnya mereka saling menikmati pagutan itu. Bahkan sepertinya adegan itu menuntut sesuatu yang lebih.


Alvino juga tidak malu lagi untuk sekedar berciuman dengan Bianca. Keduanya kini saling membalas satu sama lain dan semakin lama ciuman itu menjadi kian panas. Dan lagi-lagi mereka melakukan penyatuan itu, meskipun sudah pernah melakukan hal itu sebelumnya, tapi bedanya kali ini Alvino tidak mabuk. Mereka melakukan semuanya dengan hati.

__ADS_1


__ADS_2