
Hari ini adalah hari dimana, katanya, Alfian akan dihukum. Entah hukuman apa yang akan dia terima, yang jelas hati Monica tidak bisa untuk bersyukur tentang ini. Meskipun Alfian memang sudah sangat keterlaluan, tapi... dan tapi... banyak yang mengganjal dihati Monica.
Bisakah hatinya kuat saat melihat orang yang pernah ia cintai dan mengisi kisah hidupnya di masa lalu, tersiksa didepan matanya sendiri? Monica masih berkutik dengan lamunannya. Bahkan hari sudah pagi, ia masih terjaga.
Ting..Tong..
Ting..Tong..
Monica abai. Ia masih terpaku ditempat rebahan.
Ting..Tong..
Ting..Tong..
Lagi dan lagi bel itu ditekan dan menyebabkan bunyi yang sangat mengganggu. Hingga akhinrya ia beranjak meninggalkan tempat hangat yang sejak semalam memeluknya.
"Siapa sih yang bertamu jam segini?" Gerutunya. Ia mengira bahwa saat ini hari masih gelap.
Berjalan menuju pintu, mengintip sebentar dilubang kecil dan kemudian membukanya dengan malas. "Ada apa?" ucapnya.
"Maaf mengganggu nona, saya hanya ingin menyampaikan pesan Mister Ken..." ucap lelaki berpakaian hitam yang kemudian menunduk sopan. "Apa nona akan menghadiri undangan Mister? jika iya... saya akan menunggu nona dibawah." tambahnya.
Cih, undangan apa? undangan untuk menyaksikan adegan pembunuhan?
__ADS_1
"Aku tidak akan datang!" ucap Monica ketus. Ya memang mana mungkin ia mau datang.
"Baik nona.. atau anda ingin menyaksikannya melalui rekamana?" tawarnya lagi.
"Apa maksudmu, Alex? kau ingin aku merekam adegan sadis dan membuat aku menontonnya sambil memakan pop corn dan segelas soda? huh." Monica naik pitam. Entah kenapa ia merasa dirinya dikuasai rasa marah.
"Tidak ada adegan pembunuhan, nona.. ini hanya hukuman kecil." jawab pria yang masih sedikit menundukan kepalanya.
"Tunggu.. maksudmu Alfian.. Eh.. maksudmu Kevin tidak akan dibunuh?" tanya Monica mulai penasaran.
Alex mengangguk.
"Sungguh? apa kau berani bersumpah untuk itu?" Bertanya lagi, ingin memastikan.
***
Karena Monica menganggap ini masih malam, ia memutuskan untuk tinggal di apartemen dan hanya menyaksikan rekaman saja. Ia bahkan bisa menontonya di layar tv yang sudah disambung sebuah alat sebelum Alex pergi.
Baiklah... Nyali Monica tidak begitu menciut jika hanya mneyaksikan ditv. Ia bisa mematikannya jika adegan itu menyeramkan baginya.
Menit bergulir...
Tayangan itu belum juga muncul, sudah berapa kali Monica memencet tombol on/of. Penasaran dan rasa was-was bercampur aduk sekarang, hingga Monica menyadari jarum jam sudah menunjukan pukul 7 malam.
__ADS_1
Sebenernya Ken ngasih hukuman apa sih? Pikir Monica.
Aaaaahhh.. dia benar-benar penasaran, tapi ia juga takut jika harus so-soan ingin tahu. Takut-takut Ken memaksanya untuk menyaksikan.
Ucapan Ken se-menakutkan itu meskipun ia sudah berkali-kali diberitahu bahwa tidak akan ada sehelai rambut Alfian jatuh dalam hukuman ini. Lalu hukuman seperti apa?
Apa harus Monica menghubungi Alex untuk menjemputnya sekarang?
Monica jadi tidak bisa diam. Tubuh dan jiwanya tidak bisa singkron, ia jadi bolak-balik hanya untuk sekedar memastikan.
Hingga akhirnya layar lebar itu menunjukan pergerakan. Memunculkan gambar siaran langsung yang entah siapa yang merekam.
Divideo itu..
Terlihat Ken dan beberapa pengawalnya memasuki sebuah ruangan. Dengan pakaian serba hitam mirip algojo... hiiiiiiii.. belum apa-apa Monica sudah dibuat merinding.
Diruangan itu terlihat ada seorang wanita yang sedang duduk dikursi, menundukan kepalanya tanpa pergerakan.
Sementara diruangan lain, terlihat Alfian yang juga sedang duduk. Dengan penutup kepala juga tangan dan kaki yang diikat. Mirip seorang tahanan yang sedang diculik.
Hayooooo... kira-kira dihukumnya gimana nih😅
Dikit dulu yaaaa, mao pacaran dolooo akutuh🤭
__ADS_1