Wanita Tersayang

Wanita Tersayang
Firasat


__ADS_3

Deg...


"Eh i-iya kak.." Avi canggung terlihat dari tangannya yang dingin ketika dipegang Arash tadi.


Ketemu juga kamu .. yang selama ini hadir dimimpiku vi. Batin Arash.


.


.


Sejak pertama mereka pacaran, banyak hari mereka lalui tanpa ada pertengkaran. Karna Arash yang sangat menyayangi Avi dan tak ingin kekasihnya itu merasa kecewa akan dirinya.


Avi, gadis yang tak terlalu sulit untuk masuk kedalam dunia baru dalam hidupnya. Pelan pelan dia mulai menyukai Arash, bahkan merasa rindu setelah berpisah dengan Arash. Walaupun besoknya mereka bertemu lagi disekolah.


Jangan senang dulu. Avi masih memikirkan cara agar hubungannya direstui oleh mama Lena dan para kakaknya.


Semoga saja sesuatu yang baik senantiasa ada dalam hubungannya dengan Arash. Karna dia sudah sangat menyayangi Arash. Hubungan yang berjalan hampir setahun itu tak ingin ia lepaskan.


.


.


Dirumah


Hari ini mama tidak membuka warungnya karna merasa tidak enak badan. Mungkin saja wanita paruh baya itu sangat kelelahan karna warung mama Lena sering rame oleh pengunjung. Bahkan Vita yang baru hamil 4 bulan selalu membantunya.


"Ma, setiap hari minggu sebaiknya mama tutup warungnya, biar ada jeda sedikit ma, kan sekarang warung udah sering rame pengunjung. Saran aku sih ma..." kata Vita yang tengah memberi vitamin untuk mamanya.


"Mama juga berfikiran seperti itu. Nanti kita perbarui lagi merk warung mama ya.." kata mama menyetujui usul Vita.


"Assalamualaikum... maa Avi pulang." Vita keluar melihat kearah depan.


"Waalaikumsalaam.. setelah makan nanti jagain mama ya, kakak mau periksa dulu" Avi mengangguk.


"Gimana ma? udah reda sakit kepalanya? Tadi Avi ga enak ninggalin mama lagi sakit dirumah." Mama tersenyum melihat anaknya yang sedang memijit mijit kaki mama.


"Ganti baju ya, mama mau ngomong sebentar" Avi mengangguk dan berjalan kekamarnya untuk ganti baju.


Tak berapa lama ia masuk lagi kekamar mama sambil membawa bubur putih yang tadi ia beli sepulang sekolah bersama Arash.


"Cobain deh ma." Sambil menyuapi mama bubur putih.


"Udah, letakan disana nanti mama habiskan" Avi merasa ada sesuatu yang penting yang akan dikatakan mamanya.


"Kenapa ma?"Avi siap mendengarkan


"Sebenarnya sudah dua bulan yang lalu, tapi mama ragu bilang sama Avi. Setelah mama pikir pikir sebaiknya mama bilang saja. Avi siapkan mendengarnya?"


Pertanyaan mama membuat Avi sedikit gelisah. Mungkinkah mamanya tau jika selama ini ia dan Arash berpacaran? Atau... Avi hanya menerka nerka dikepalanya.


"Mama ngomong saja. Avi siap kok. Jika itu baik untuk kita dan untuk Avi Alhamdulillah kan ma." jawabnya mantap. Dan itu membuat mama tersenyum.


"Ternyata.. anak mama sudah hampir dewasa, syukurlah" Mama menghela nafasnya pelan seraya memperbaiki duduknya. Avi yang tak sabar penasaran cerita mama.

__ADS_1


"Sekitar dua bulan yang lalu. Ada seorang pemuda, dia bertanya tentang kamu. Sebenarnya sudah lama. Tapi mama tidak terlalu menanggapinya. Mama pikir dia hanya bertanya saja. Ternyata terakhir mama tau, dia bersungguh sungguh ingin menjalin hubungan dengan Avi..."


Kalimat mama terpotong karna Avi sedikit kaget dan rait wajahnya berubah lesu. Tapi ia tetap penasaran tentang siapa penuda itu. Dengan senyum yang dipaksakan...


"Lalu ma?"


"Kamu taukan Rahman? dia orangnya" Avi kaget dan langsung berdiri. Dia hanya diam melihat raut wajah mama yang sangat bahagia. Dia mengangguk karna dia mengenal pemuda yang bernama Rahman tersebut.


"Jadi mama ga jawab dong lamaran nya kekamu. Justru mama ingin dengar dari Avi. Bagaimana pendapat kamu?" Mama penasaran menatap Avi menunggu jawaban yang mama tunggu.


"Avi sudah punya pacar ma, dan Avi ingin tetap setia.." Ujar Avi lirih dengan mata yang mulai berkaca kaca.


Spontan ia memeluk mama Lena. Ternyata bulir bening itu turun dari mata nya dengan deras. Ia merasa sedih teringat akan meninggalkan Arash yang telah lama ia sayangi.


"Eh.. eh.. kenapa kamu nangis?" Mama merangkul pundak Avi dan mencium jening anak gadisnya itu.


"Avi sedih aja ma... ga tau kenapa."


"Siapa orangnya?" Avi kembali mengangkat kepalanya dan melihat mama. Dia ragu untuk bercerita lebih jelas.


"Nanti mama akan bertemu juga dengannya." Kemudian ia memeluk mama lagi.


Mama terlihat kecewa dengan jawaban Avi. Mungkinkah mama juga menghendaki Rahman untuk jadi pendamping Avi nanti? Karna terlihat raut kekecewaan diwajah mama.


Aku akan biarkan semua berjalan santai dulu. Toh anakku juga masih sekolah. Pelan pelan aku akan beri rasa pada Avi agar dia mau menerima Rahman.


Pemuda itu tidak buruk, dia ramah dan pekerja keras, bertanggung jawab. Tentu saja Avi akan bahagia bersamanya. Cinta bisa datang belakangan.


Semua tidak akan bisa hanya mengandalkan cinta. Karna makan ga pakai cinta, tapi pakai nasi.


Batin mama Lena


.


.


.


Dikamar Avi


Kata kata mama tadi membuat nya tidak tidur nyenyak malam ini. Dia teringat Arash, lalu mengambil ponselnya.


Avio


Hi kak... sudah tidur?


My Boy


Hi sweety.. belum nunggu kamu. Lagi apa?


Avio


Lagi mikir aja.

__ADS_1


My Boy


Kenapa?


Avio


Besok kak Arash bisa jemput aku?


My Boy


Tentu...


Aku sudah sering kan bilang mau jemput kamu. Kamu nya aja yang ga mau.


Avio


Avi tunggu ya.


See u sayang..


My Boy


Oke sweety... selamat tidur ya..


jangan lupa baca doa, nanti mimpi dilamar lagi... hehehe


Avio


hah? dilamar?


Kalau beneran dilamar ?


My Boy


Aku ga rela.


Karna aku dan kamu bukan hanya untuk sekarang.. tapi nanti untuk jadi istri aku sayang...


Avio


Iya deeh... night...


My Boy


night...


Apa kak Arash diberi semacam firasat gitu? batin Avi


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2