Wanita Tersayang

Wanita Tersayang
Pemandangan indah


__ADS_3

Pagi ini begitu melelahkan. Avi telat tidur karna ada dua pemuda di apartemennya. Apalagi Denis yang menemaninya tidur disofa.


Sebenarnya Denis tak berbuat apa apa pada Avi. Dia tetap menjaga jarak dengan wanita pujaan hatinya yang telah lama memakai hijab. Bahkan tidur pun kali ini Avi memakai hijabnya.


Selesai melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Avi tak lupa membangunkan Denis untuk beribadah bersama.


Sedikit berbenah karna hari ini rencananya ia akan menemui keluarganya. Berkutat didapur memasak sarapan untuknya dan kesu pria itu.


Denis melihat kedalam kamar tempat Arash istirahat. Ia mencoba membangunkan Arash. Berniat mengantarkan kerumah sakit. Tapi Arash menolak. Dia memilih untuk pergi sendirian.


"Bukankah semalam kau sempat pingsan. Lebih baik aku antar." bujuk Denis


"Aku bisa sendiri" Jawab Arash yang mulai merasa membaik.


"Bersihkan dirimu, kita sarapan bersama. Aku tunggu diluar" Arash mengangguk dan berjalan kearah kamar mandi.


"Dia sudah bangun?"Tanya Avi ketika Denis mendekati meja makan. Sementara ia masih menyiapkan makanan.


"Sudah. Sedang membersihkan diri"


"Kita antar kan dia ya Uda? aku tak sabar bertemu mama dan kakak"


"Aku sudah berusaha bilang ingin mengantar, tapi dia menolak."


"Biarkan saja" Avi mulai meletakkan beberapa makanan diatas meja makan.


"Duduk lah Arash..." Denis mempersilahkan Arash duduk didepannya.


Dengan perasaan aneh Arash duduk diantara mereka. Nampak Avi yang memperhatikan Denis. Itu membuat selera makan Arash menjadi buruk.


"Kenapa kau tak makan? Makanlah... ini sangat enak"


Denis melihat Arash yang sedari tadi memperhatikan Avi.


"Kalian sudah seperti suami istri" Arash murka melihat pemandangan indah dihadapannya.


"Ya... dia calon suamiku" jawab Avi


"Apakah kalian sudah melakukannya?" selidik Arash. Sontak membuat Avi marah dan memukul meja disebelah piringnya.

__ADS_1


"Jangan sama kan dia dengan mu Arash!" Avi membentak Arash sambil berdiri menatap tajam pria itu.


"Jaga kesopanan mu Arash! Aku tak pernah berbuat tak senonoh dengan nya. Karna cibtaku untuknya benar benar tulus." sambung Denis.


"Maafkan aku.." Arash menata piringnya yang berisi makanan. Avi kembali duduk setelah mendengar ucapan maafnya.


"Habiskan makanmu. Setelah itu pergilah" Arash mendongak kearah Avi yang mengusirnya.


"Maaf aku menganggu kalian. Semoga kalian bahagia" Arash berdiri lantas pergi meninggalkan apartemen Avi tanpa memakan sarapan yang disajikan Avi.


huuf...


Dasar lelaki tak sopan! umpat Avi dalam hati


"Tenanglah. Bersiap siap lah setelah ini. Kita akan kerumah keluargamu." Denis kembali menyantap sarapannya.


"Uda mau kemana?" tanya Avi melihat Denis berdiri.


"Makanan ku telah habis , aku mau keluar" tanpa melihat Avi ia berjalan kepintu depan.


"Tapi aku bukan menyuruhmu?" Avi cemas.


"Ooh... jangan lama lama" Dia kembali menghabiskan makanannya.


"Kamu tak ingin aku pergi?" Denis berhenti lalu menatap Avi dimeja makan.


"Aku hanya takut jika dia kembali lagi"


"Hanya sebentar" Denis buru buru keluar.


"Bagaimana tuduhan itu keluar dari mulutnya? apakah dia memang seperti itu? atau hya aku yang tak menyadarinya. Karna cinta yang kumiliki dulu untuknya.


Benar benar keterlaluan.. Aku harus mencari tempat tinggal baru. Bisa saja sewaktu waktu ia berbuat nekat kepadaku." Gumam Avi yang msih terpikir ucapan Arash tadi. Dia bersiap siap kedalam kamar setelah membereskan semua nya.


Dia menyiapkan beberapa baju diatas ranjang. Menyiapkan beberapa hadiah untuk mama Lena dan kakaknya dalam sebuah tas. Tak lupa untuk ponakannya yang sudah tumbuh besar.


Setelah itu ia berjalan kekamar mandi. Sementara Denis yang telah kembali mengambil pakaiannya. Langsung masuk kekamar mandi. Karna sesuatu yang penting akan keluar.


Klek

__ADS_1


"Aaaa.... " Avi berteriak melihat Denis masuk kekamar mandinya. Denis langsung berbalik dan menutup lagi kamar mandi.


"Apa yang Uda lakukan??" teriak Avi dari dalam kamar mandi.


"Maaf.. aku kebelet" jawab Denis yang masih syok melihat pemandangan didalam kamar mandi.


"Tak bisakah Uda mengetuk pintu?"


"Maaf.. aku masih mengira kamu didapur. Lagian pintunya juga ga dikunci."


Avi terdiam mengingat dia juga lupa mengunci pintu kamar mandi.


"Aku hampir selesai. Keluarlah dulu" Denis sudah memerah menahan sesuatu yang akan meledak.


"Kumohon, cepatlah sayaang... aku tak tahan lagi" Dengan sekuat tenaga Denis berjuang menahan bom atom yang mulai ingin pecah dipagi ini.


"Uda kenapa?" Tanya Avi sesaat keluar dri kamar mandi.


Tanpa menjawab pertanyaan Avi Denis langsung melesat kekamar mandi. Avi mengunci pintu kamar mandi dari luar. Agar Denis tak keluar lagi saat dia ganti baju.


"Apa bom nya akan meledak ya? heheheh..


Apa dia tadi melihat semuanya? ah.. aku sangat malu" gumam saat memakai pakaiannya. Sesekali menatap kearah kamar mandi. Wajah nya memerah karena malu.


Bingung apakah dia harus bertanya atau bersikap biasa saja. seolah hal itu tak pernah ada. Sementara Denis yang melihat nya pun bingung dengan keadaannya saat ini.


Bagaimana nanti setelah ini selesai? Aku harus jujur jika dia bertanya. Aku melihat semuanya.. benar benar cantik.. Aku harus segera menikahinya.


Batin Denis yang masih berjuang didalam kamar mandi.


Aku akan bersikap biasa saja. Berpura pura tak melihat. Mata ku yang suci telah ternoda dengan pemandangan makhluk Tuhan yang paling indah


batin Denis. Ia tersenyum senyum sendiri membayangkan segala kemungkinan.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2