
"Aku tak sabar ingin bersama mu Avi.." seseorang bergumam memandang keluar jendela kamarnya.
Sepertinya sudah banyak rencana tersusun dikepalanya. Bayangan mereka bersama terlintas dikepala Arash. Sedangkan ditempat lain Avi sudah menetapkan tanggal pernikahannya dengan Denis.
Benar benar tak ada lagi tempat dihati Avi untuk Arash. Dan waktu 24 jam yang ia berikan percuma. Semua akan berjalan sebagaimana mestinya, ada atau tidak ada Arash.
Disini Arash menyusun rencana nya dengan matang. Disana Avi bersama Denis tengah bahagia menantikan hari pernikahan mereka. Menikmati liburan kesebuah pulau bersama kedua keluarga.
Kisah Avi sangat menarik bukan? Beberapa tahun yang lalu disebuah pulau Avi bertunangan dengan Arash. Dan sekarang ia menentukan hari pernikahan nya dengan Denis juga dengan liburan ke sebuah pulau.
Perasaan itu sama sama yakin jika mereka akan bersama. Berjumpa dengan pria yang dewasa juga sangat menghargainya memnmbuat Avi tak akan pernah ingin melepaskan Denis.
Pria yang ia rasa bisa membahagiakan nya kelak. Mengarungi kehidupan dimasa depan yang penuh kerikil tajam. Mereka yakin akan bisa menjalaninya berdua.
"Jangan sampai hal ini diketahui Arash. Bisa bisa ia akan menculik mu" sebuah saran dari Ica pada sepasang kekasih itu.
"Biar saja kak, biar dia tak lagi berharap banyak padaku." Ketus Avi saat mengingat nama Arash.
"Kemungkinan terburuk akan terjadi Vi. Bisa saja dia menculikmu. Karna waktu 24 jam nya hanya akan sia sia, toh kamu menikahnya sama Denis juga" jelas Ica lagi.
Avi berpikir itu memang mungkin terjadi. Karna sifat Arash yang sedikit pemaksa. Dan nekat untuk berbuat apa saja yang menguntungkan dirinya.
"Sebaiknya kamu menyimpan rencana ini rapat rapat sayang, jangan buat Arash lebih marah lagi. Dan... jika kalian pergi nanti. Jelaskan semua perihal tentang hubungan kamu dengan nya." Sambung Denis.
"Baik lah.. baiklah. Aku akan diam. Aku akan mempercepat waktu itu dengan nya. Aku mulai bosan melihat nya." Avi terlihat semakin kesal karena akan menghabiskan waktu bersama dengan Arash.
__ADS_1
"Jangan begitu... semua harus ada penyelesaiannya. Kamu ingin hidup damai bukan? Begitu juga dengan ku sayang. Jadi mari lakukan ini.. demi kedamaian."
Denis menyemangati Avi. Ica yang dari tadi bersama mereka meninggalkan mereka. Memberikan sedikit ruang bagi keduanya.
"Masih lama sampainya?" Dia menatap Denis dan mengalihkan pandangannya keluar kapal. Karna merasa cukup lama didalam kapal.
"Sebentar lagi sayang.."
"Sepertinya aku mabuk laut.." Dia mulai merasa bosan.
"Lebih baik beristirahat lah dikamar. Nanti setelah sampai aku panggil." Denis mengusap ngusap tangan Avi.
"Aku bosan..." dia menunduk lesu.
"Mau aku temani? Hmmm" tantmya Denis penuh harap.
"Baiklah... tunggu aku sayang.." Denis berlari kecil mendekati Avi yang terus berjalan.
"Uda lambat sekali.." ia tersenyum tanpa menoleh.
"Kamu yang berjalan duluan tanpa aba aba."
"Kemarilah..."
Avi berhenti dari jalannya. Menunggu Denis mendekatinya. Dia langsung memeluk lelaki itu. Denis sontak kaget dan terdiam.
__ADS_1
"Ada apa hmmm?" Denis membalas pelukan Avi.
"Aku merasa seperti akan berpisah lama dengan mu sayang." Dia tetap berada dipelukan Denis.
"Kenapa? Karena apa?" Denis bertanya penuh keheranan dengan sedikit tertawa.
"Entahlah... aku hanya merasakan sangat merindukanmu." Dia mendongak melihat Denis. Lalu mengecup bibir pria itu. Denis memerah dan detak jantungnya begitu kencang.
"Hmmmm... kamu mulai nakal ya sekarang.."
Denis mengecup lembut pucuk kepala Avi yang memakai hijab.
"Baiklah... ayo kekamar." Dia melepaskan pelukan nya dengan Denis. Menarik tangan pria itu buru buru kedalam kamar.
"Aku juga ikut kekamar?"
"Tentu saja Uda..."
Ada apa dengan wanita ku hari ini. Begitu agresif dan manja. Apa yang sebenarnya dipikirkannya. Oh Tuhan maaf kan aku yang berdosa ini.... Aku janji tidak akan melewati batas... hmmmm...
.
.
.
__ADS_1
Bersambung