Wanita Tersayang

Wanita Tersayang
Taruhan


__ADS_3

Avi menatap Rahman dalam dalam. Kemudian melihat kearah pakaian yang ada ditangannya.


"Terimakasih kak, maaf aku selalu merepotkan kakak" Dia menunduk. Airmata itu tumpah. Ia merasa menjadi beban bagi Rahman yang sangat baik padanya. Memperhatikan kebutuhannya dalam segala hal.


"Jangan sungkan... bukankah teman seharusnya begitu?"


"Eh .. iya kak. Terima kasih"


"Apa kamu tak ingin tau tentang ku" Tanya Rahman mendadak membuat Avi kembali menatapnya.


"Aku...mmm. Hanya bingung saat dokter itu kesini lagi memeriksaku. Dia memanggil kakak Denis.. "


Avi tak melanjutkan ucapannya karna Rahman tersenyum mendengar nya.


"Maaf ... aku tak bermaksud lancang" dia kembali menundukan pandangannya.


"Benar. Nama ku sebenarnya Denis. Denis Abdurrahman."


"Oh begitu.. "


"Tapi ditempat kerja, aku dipanggil Rahman. Jika keluarga dan orang terdekat memanggilku Denis. Kamu juga boleh memanggilku Denis."


"Baiklah "


"Avi, ceritalah jika itu bisa mengurangi beban mu. Aku siap membantu jika kamu mengizinkan." Dia menatap Avi. Gadis cantik yang bersemayam dihatinya. Tapi lebih mencintai pria lain.


"Aku tidak mau mengungkitnya lagi."


"Apa kamu tidak memikirkan mama dan kakakmu?"


"Aku akan kembali kak, jika waktunya sudah tepat."


"Berlari itu memang membuat kita bebas dari masalah Vi, tapi masalah itu tidak pernah selesai. Semua bisa dibicarakan baik baik bukan. Semua sebab dan akibat pasti bisa diceritakan. Belajarlah sedikit dewasa. Lari tidak akan menyelesaikan apa apa, bahkan akan menambah masalah baru."


"Tapi aku tidak mau menikah diusia ini"

__ADS_1


"Kenapa mereka memaksa kalian menikah?"


"Arash mejebakku"


"Dia melakukannya padamu?"


"Tidak, dia tak melakukannya. Hanya membuat seolah olah kami telah melakukannya. Dan para orang tua itu percaya pada Arash."


"Dia sangat menginginkanmu"


"Dia tak sanggup menunggu, bahkan akan kuliah diluar kota"


"Cibta memang buta, tak bisa berpikir secara matang. Hanya mementingkan perasaan nya saja. Tanpa mengetahui apa yang pasangan nya inginkan. Apa kah itu cinta atau obsesi?"


"Rasa cinta ku bisa hilang dalam sekejap jika dia terus memaksakan dirinya kak. Aku juga punya harapan untuk ku, untuk keluargaku."


Rahman atau Denis hanya menghela nafasnya. Masalah Avi tidak terlalu rumit baginya. Mungkin karna dia tak tau pihak mana yang salah dan yang benar.


"Sebenarnya tidak rumit vi, kamu temui keluargamu dan keluarga Arash. Beritahukan yang sebenarnya.


Aku rasa mereka akan mengerti. Ditambah lagi kamu sudah pergi dari rumah beberapa hari ini. Tentu mereka akan mendengarmu, karna tak ingin kamu kabur lagi. Itu hanya logika ku saja" Denis menyalakan Televisi dan mencari chanel favoritnya.


"Apa kak Rahman, eh kak Denis suka juga dengan acara ini?"


"Tentu saja... aku ingin melihat Marquez menang lagi"


" Tapi itu takan mungkin, apalagi dengan cideranya"


"Semua bisa terjadi... jika dia berusaha" Denis merasa tak mau kalah dengan Avi.


"Tidak mungkin. Aku rasa Quartararo juara nya kali ini" Avi mantap dengan idolanya.


"Baiklah, jika Marquez menang kamu akan jadi pengikutku selama sebulan."


"Jika Quartararo menang, kak Denis yang akan menjadi pelayanku selama sebulan, dikurang 9 hari... " Denis terkekeh mendengar ucapan Avi. Dia merasa lucu dengan tingkah gadis itu. Apalagi sekarang Avi tampak tersenyum licik. Karna tak mau kalah daei Denis.

__ADS_1


"Kenapa dikurang 9 hari?"


"Karna aku disini sudah 9 hari, bukan kah bagus? masa hukuaman kak Denis lebih sedikit. hehehhe" Akhirnya tawa itu pun lepas juga. Avi terlihat cantik.


"Deal"


"Deal"


Mereka kembali melihat tayangan ditelevisi. Kemenangan jatuh pada Denis. Setelah sekian lama rider tersebut berhasil mendapat juara pertama. Denis sangat gembira bahkan ia berlari mengelilingi sofa didepan tv.


"Aaah... akhirnya.. aku mempunyai pengikut juga ahahahha" Arash duduk tepat disebelah Avi dengan tertawa penuh kemenangan. Avi yang melihat merasa menyesal telah mengikuti taruhan tersebut.


"Baiklah tuan muda, Selamat atas kemenangan idolanya" Avi berdiri seraya membungkukkan tubuhnya seperti sedang melayani tuan muda.


"Ahahahah... tidak perlu seperti itu wahai pengikutku.." Denis mendekati Avi, tiba tiba menarik gadis itu kedalam pelukannya.


"Cukup begini saja.. untuk kali ini. Tugas mu berakhir jadi pengikutku."


Deg


Dada Avi berdetak kencang seperti genderang yang mau perang. Bak lirik lagunya Ahmad Dhani. Disana ia juga merasakan jantung Denis yang berdetak kencang.


"Tunggulah sebentar" Denis kembali menguatkan pelukannya saat Avi hendak melepaskannya.


Perasaan apa ini. Aku belum pernah merasakannya. Apakah ini... cinta? batin Avi


"Terima kasih" Denis melepaskan pelukanya dan mengecup kening Avi. Lantas masuk kekamarnya.


Sementara Avi masih seperti patung menatap Denis yang berjalan menjauhinya. Dia tidak mengerti apakah akan marah atau senang. Senang kenapa juga senang. Bukan dia tak mempunyai perasaan apa apa pada Denis? Dia belum menemukan jawaban yang tepat.


Tetapi selama 9 hari tinggal bersama. Dan pria itu tak berbuat apa apa padanya. Sudah cukup menjamin jika pria itu memang orang yang baik dan menghargai perempuan.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2