
Perusahan Denis termasuk perusahan yang sangat sibuk. Kadang mereka tak sempat untuk keluar guna makan siang. Mak dari itu perusahaan mengeluarkan kebijakan untuk membuat kantin khusus karyawan.
Mereka hanya tinggal makan apa yang mereka suka. Dengan begini waktu bekerja mereka menjadi hemat dan menguntungkan bagi perusahaan. Dan para karyawannya lebih irit dalam mengeluarkan biaya untuk makan siang. Jadi sama sama menguntungkan.
Kebijakan itu dibuat oleh Denis. Menjadi kan tempat yang sudah lama kosong tepat disebelah gedung menjadi kantin yang bermanfaat bagi seluruh karyawan disana.
"Maaf pak, ibu Anin datang menemui anda." Sekretaris Denis memberitahu melalui panggilan telepon kantor.
"Baiklah, silahkan dia masuk" Denis mengambil ponselnya untuk segera memanggil Avi. Tapi panggilan itu tak diangkat leh Avi.
Kemana dia? Aneh sekali.
Tok
Tok
Tok
"Silahkan masuk.." Denis yang duduk dikursi kebesarannya. Mempersilahkan Anin masuk.keruangannya.
"Selamat siang pak Denis.." ia menundukan tubuhnya setelah melihat Denis.
Anin berpenampilan sangat seksi. Saat berjalan ke ruangan Denis tak henti tatapan pekerja disana menatapnya dengan tatapan lapar bahkan sampai geleng geleng kepala. Bahkan ada yang meneteskan air liurnya.
"Duduk lah Anin." Denis terus memandangi komputernya tanpa menoleh pada Anin.
"Aku kesini untuk mengajukan kerja sama dengan kontrak baru pada perusahaan pak Denis." Anin membuka pembicaraan.
"Tunggu sebentar, kita tunggu Avi datang." Denis masih tak menoleh pada Anin.
Sekitar 45 menit Avi baru melihat ada notifikasi diponselnya. Sebuah pesan dari Denis jika ada Anin datang dan berada diruangannya.
Avi bergegas berjalan menuju keruangan Denis yang terdapat dilantai paling atas.
__ADS_1
Ini sudah 45 menit lebih semoga saja mereka belum selesai. Avi mempercepat langkah kakinya.
"Astaga..." Avi membuka pintu melihat pemandangan yang tak menyedapkan.
"Sayang kamu sudah datang?" Denis menghampiri Avi yang masih berdiri didepan pintu.
"Kemarilah..." Denis tersenyum padanya.
"Apa yang kalian lakukan?" Tanya Avi dengan wajah kesal.
"Apa sayang... tak ada apa apa disini." Denis heran dengan pertanyaan Avi.
"Hi Avi... lama tak bertemu. Bagaimana kabar mu?" Anin menyapa Avi dan bermaksud utuk memeluknya. Avi menghindari Anin.
"Ada apa vi?" Tanya Anin heran. Ia melihat Denis kemudian kembali menatap Avi.
"Maaf aku sudah mengganggu... lanjutkan kegiatan kalian..." Avi bergegas keluar ruangan itu. Sedikit berlari kemeja kerjanya. Mengambil tas dan menuju pintu keluar. Ia memesan taxi online.
Setelah taxi online itu datang ia segera masuk dan memberitahu alamat tujuan pada sopir.
Sebenarnya apa yang dilakukan Denis dengan Anin? Author juga penasaran. Kita mundur beberapa langkah kebelakang ya der...
Flash back on..
"Aku kesini untuk mengajukan kerja sama dengan kontrak baru pada perusahaan pak Denis." Anin membuka pembicaraan.
"Tunggu sebentar, kita tunggu Avi datang." Denis masih tak menoleh pada Anin.
"Baiklah." Anin mengeluarkan ponselnya dan memainkan benda itu.
Karna merasa cukup lama menunggu ia bertanya pada Denis.
"Maaf pak Denis, apa kita memang harus menunggu Avi? Aku sudah menunggu 30 menit disini. Aku masih ada pekerjaan lainnya." Anin mendesak Denis untuk memulai pembicaraan mereka tentang pekerjaan.
__ADS_1
"Sebentar aku akan menghubungi nya." Denis beberapa kali menghubungi Avi tapi tak ada jawaban. Pesan yang ia kirim sejak tadi bahkan belum dibaca Avi.
"Bagaimana pak Denis?" Tanya Anin tak sabar.
"Hmmm... mungkin ia ada meeting dengan klien. Kita mulai saja pembicaraan nya." Ucap Denis melegakan Anin.
Dia mendekati Denis kemejanya dengan membawa beberapa map yang dirasa penting. Ketika asik berbicara seputar pekerjaan. Tak sengaja Anin menjatuhkan tasnya. Semua isinya keluar terjatuh disamping meja kerja Denis.
"Oh astaga... maafkan aku pak Denis. Aku akan mengambilnya." Ucap Anin segera jongkok didepan Denis.
Karna merasa lama dan kasihan Denis juga ikut membantu memungut satu persatu isi tasnya yang isinya rata rata alat alat make up Anin.
Klek..
"Astaga..." Avi terkejut membuka pintu saat melihat Denis dan Anin sama sama berdiri dari balik meja.
Mereka terlihat sedang melakukan kegiatan terlarang. Apalagi pakaian Anin yang sangat mini mendukung dugaan itu.
Flash back off..
"Ada apa dengan Avi pak Denis? Kenapa ia bertingkah seperti itu?"
Anin bingung dengan tingkah sahabatnya itu. Ia memasukan kembali isi tasnya. Kemudian berjalan kearah sofa. Membersihkan beberapa map untuk dibawanya kembali.
"Aku juga tak tau. Nanti aku akan menyusul. Biarkan dia tenang dulu." Ucap Denis menghampiri Anin yang siap siap akan pergi.
"Baiklah, terimakasih atas kepercayaan perusahaan pak Denis lagi pada perusahaan saya. Semoga hubungan kerja sama ini berjalan lancar tanpa gangguan apapun."
Anin menyalami Denis kemudian pamit meninggalkan ruangan itu. Ia masih terpikir dengan Avi. Bukannya menyambut sahabatnya malahan bertingkah seolah olah sedang memergoki Anin yang sedang selingkuh dengan suaminya.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...