Wanita Tersayang

Wanita Tersayang
Sidang


__ADS_3

Teng teng teng


"Gawat aku telat.." Arash buru buru melajukan kencang motornya kegerbang sekolah. Tepat didepan gerbang pak satpam ternyata masih mau membukakan gerbang untuk Arash.


"Tumben mas Arash telat? Biasanya selalu datang bareng saya hehehhe." Sapa pak satpam disekolah Arash.


"Iya pak, saya survei bagaimana rasanya telat pak. Dan ingin melihat juga siapa saja yang biasanya telat" Jawab Arash asal sambil tersenyum pada pak satpam sambil memarkirkan motornya.


"Oh begitu ya mas.. Kalau mau survei disini saja berdirinya bareng saya.. ngapain juga harus ikut telat? Jadi ga bisa lihat murid yang telat dong" kara pak satpam semangat.


"Eh i iya pak... saya masuk dulu ya.. makasi" Arash berlari lari kecil menuju kelasnya.


"Ada ada aja, mau ngaku telat ya malu... anak muda.. anak muda" pak satpam tertawa menggeleng gelengkan kepalanya. Dia menatap punggung Ar


arash yang mulai menjauh.


.


.


"Apa kak Arash ga masuk ya Vi?" Tanya Anin yang mulai bersuara karna teman disebelahnya kelihatan agak cemas karna belum bertemu dengan Arash sejak pagi tadi.


"Kenapa ga ngasih kabar ya kalau mau izin?" Jawab Avi dengan wajah penasarannya melihat Anin.


"Kalian kemaren kemana? apa kak Arash sakit sepulang kencan kemaren?" selidik Anin penuh tanya


"Dia baik baik saja kok. Kenapa bisa sa.. kit?" Avi membelalakan matanya kearah Anin. Anin yang melihat sontak mengecilkan matanya melihat Avi.


Apa setelah kejadian itu... kak Arash? Tapi.. masa sih cuma dicium bisa sakit. Lagipula itu cuma sebentar saja. Kamu dimana sih... bikin kepo aja. Batin Avi


"Apa yang kalian lakukan?" bisik Anin dengan suara tegas.


"Apaan sih? ga ada apa apa juga ." Wajah Avi merona seketika mengingat tentang saat itu.


"Kenapa wajahmu merah begini? mencugari.." Anin tetap menatap temannya itu dengan penuh tanda tanya.


"Curiga nin... apaan cugari. Benaran kita hanya mencari kerang dipantai. Trus makan cumi bakar." bela Avi. Padahal dia terus terbayang akan kejadian itu.


"Apa kak Arash alergi seafood ya?"


"Astaga.. Anin aku ga nanya...Dia juga makannya banyak kok"


"Nanti kita bicarakan... buk Rahmi udah masuk." Anin yang semangat seakan akan mau menyidang temannya.


Sementara itu Avi masih memikirkan Arash.

__ADS_1


Aku harus cari dia nanti, jangan sampai benar apa yang dikatakan Anin. Kapan perlu aku kerumahnya... Batin Avi


.


.


"Ketos kita sudah bisa telat sekarang bro..." kata Roy yang melihat Arash baru masuk kelas.


"Ketiduran gw..." jawabnya singkat


"Lancar bro..?" Tanya Tara


"Aaahahha.. kalian udah bisa kepo sekarang" Arash malah meledek temannya.


"Lo.. belum...." Roy menyelidiki wajah Arash yang keliatan bahagia pagi ini. Tapi langsung dipotong oleh Arash.


"Belom sama sekali. Gw bertanggung jawablah jaga Avi. Ntar aja yang gitu gituan setelah halal.. biar lebih apaaa gitu.." Arash kembali tertawa melihat temannya lega mengelus dada.


"Arash, nanti kita meeting sebentar pas jam istirahat ya, pulang sekolah gw ga bisa." Kata Putri mendekati Arash.


"Okeh. Mang ada masalah apa?" tanya Arash yang mendapat tepuk tangan dari teman temannya. Dia hanya melihat teman temannya satu persatu.


"Bro.. gimana sih lo udah lupa aja. Sekarang kita udah hampir mau ujian akhir bro. Jadi kita tentuin kandidat buat pengganti posisi kita lah. Biar ga terganggu dengan kegiatan OSIS lagi saat persiapan ujian. Udah ingat lo?" jelas Tara menepuk nepuk pundak Arash.


"apa cinta begitu indah bro? menggugah rasa... sampai lo lupa dengan ucapan lo sendiri?" tanya Roy twrtawa kecil melihat Arash yang kini salah tingkah.


"Udah santai aja... kita ada buat ngingetin lo." Putri menengahi perdebatan para temannya.


"Makasi put.." ucap Arash senyum.


Kemudian pelajaran dimulai karna guru telah memasuki kelas yang dari tak mereka sadari.


.


.


.


Avi berjalan kearah taman sekolah. Tepatnya tempat keramat dibawah pohon saksi cinta nya bersama Arash.


"Kamu yakin kak Arash bakalan kesini?" yanya Anin ragu.


"Ga tau." jawab Avi singkat.


"Aku ketoilet bentar suamikuh.. mau sidang" Anin nyengir berdiri didepan Avi.

__ADS_1


"Sidang apaan ke toilet?" tanya Avi heran


"Hooh... sidang buat ganti pejabat." Lalu ia langsung berlalu.


Avi memainkan ponselnya sembari menanti Anin balik dari toilet. Ia seperti mendengar langkah kaki mendekat. Tanpa menoleh ia bertanya...


"Sudah selesai sidangnya?" Karna dia mengira orang yang mendekatinya adalah Anin.


"Nin, mau ganti pembalut bilang aja... pakai ngeles segala.."


Karna masih belum menyahuti nya. Avi melihat kearah belakang.


"Ternyata kamu..." Avi melihat ponselnya lagi.


"Begitu saja?" Arash duduk disebelah Avi memperhatikan apa yang dilihatnya diponsel. Sampai Avi tak menghiraukan kehadirannya.


"Kamu lagi apa?" Tanya Arash melihat Avi


"Ga ada... "


"Trus..."


"Trus..?"


"Kenapa cuekin aku?" selidik Arash terus menatap kekasihnya


"Apa?" Avi kemudian menatap Arash.


"Kenapa?"


"Kak Arash kemana saja?" tanya Avi lembut.


"Oh... maaf sayang. Tadi aku telat." tutur Arash yang mulai mengerti kenapa Avi tak menghiraukannya.


"Telat? kamu ketiduran?" Avi sedikit tersenyum melihat Arash yang mulai salah tingkah.


"Iya sayang, aku diganggu bunda semalam. Hampir pukul tiga pagi baru tidur." jelasnya dengan sedikit tertawa kecil melihat Avi.


"Cerita apa saja?"


"Tentang calon istriku."


.


.

__ADS_1


.


Bersambung..


__ADS_2