
"Hei... kamu masih marah?"
Avi berhenti membalikan tubuhnya menghadap Denis.
"Uda mengabaikan ku sejak pertama menaiki kapal ini. Berapa lama aku menunggu. Aku juga menutupi kekesalan ku dari mata mama. Aku tak ingin Uda terkesan jelek dimata keluargaku. Aku tersiksa..."
Penjelasan Avi panjang lebar menatap Denis tajam dengan mata yang berkaca kaca.
Cup...
Denis tiba tiba melayangkan sebuah kecupan ke bibir Avi. Gadis itu terpana. Darahnya terasa hangat menjalar keujung kepalanya. Dada nya berdetak tak beraturan. Bagaimana tidak? Karna, walaupun mereka lama berhubungan. Adegan intim saat pacaran jarang sekali mereka lakukan.
"Untuk permintaan maaf ku sayang .."
"Kenapa kamu mencium ku?"
"Aku tak tau minta maaf dengan cara apa lagi sayang..."
"Kamu... membuat ku semakin berdebar..."
Denis kembali menyatukan kedua bibir mereka. Mereka saling diam harus melanjutkan gerakan nakal itu atau hanya memilih untuk saling mengecup.
Mata mereka saling memandang. Keduanya menjadi sangat gugup. Dan melepaskan kecupan itu tiba tiba. Denis membuang pandangannya ke segala arah.
Avi hanya tersenyum melihat Denis terlihat malu. Wajahnya juga tampak memerah. Ia mendekat dan memeluk erat tubuh pria yang ia cintai.
"Maaf... aku hanya kesal tadinya"
Denis membalas pelukan wanitanya. Merasa sedikit lega.
"Apa Uda ragu berbuat lebih jauh tentang 'hal tadi'?" Avi masih memeluknya dan merasa malu dengan pertanyaan nya sendiri. Senyuman terukir diwajahnya yang masih berada didada Denis.
"Apa.. kamu mau aku melakukan lebih 'hal tadi' hmmm?"
"Aku hanya bertanya. Kenapa kamu malah balik bertanya?"
__ADS_1
"Karna jika seseirang tengah malu ia akan menjawab pertanyaan dengan sebuah pertanyaan. Padahal pertanyaan tadi ditujukan untuk dirinya"
Avi melepaskan pelukan Denis menatap pria itu lembut dan hangat.
Tanpa ragu Denis menyatukan kembali kedua bibir mereka. Kali ini tanpa ragu ragu menelusuri setiap inci daerah yang sudah lama ia rindukan untuk menggapainya.
Nafas mereka tersengal sengal, sama sama tak mau melepaskan kegiatan yang penas itu. Merasa sudah cukup Denis melepaskan pautannya. Mengecup sekilas bibir ranun itu. Menatap sekilas lalu kembali memeluk Avi lagi.
"Aku ingin segera menikahi mu sayang..."
"Ya?"
"Aku tak ingin kegiatan hangat tadi hanya dicatat sebagai sebuah dosa."
"Uda..."
"Aku ingin menghalalkan mu"
Avi semakin menguatkan pelukannya pada Denis. Menetralisir detakan jantungnya yang sejak tadi bernada keras dan tak beraturan.
Mereka berjalan menuju tempat yang dimaksud. Dengan wajah yang sama sama merona. Denis sangat menghargai wanitanya. Ia masih menahan segala bentuk bisikan syetan. Tak ingin malaikat mencatat dosa yang ia perbuat bersama Avi.
Kamar yang dimaksud telah tampak. Avi membuka kamar itu. Sedangkan Denis masih berdiri disampingnya.
"Kenapa gelap sekali?"
"Nyalakan lampunya sayang..."
Tek..
Nampak mereka orang orang tersayang Avi tengah tersenyum padanya. Bahkan orang tua Denis juga disana.
"Kenapa lama sekali Denis?" Kak Ica bertanya pada Denis.
"Adik kakak ini sedang ngambek, itu membutuhkan perjuangan untuk membuatnya tersenyum lagi." Penjelasan Denis membuat mereka yang diruangan itu tertawa.
__ADS_1
"Ooh... rupanya kamu tadi sedang berperang ya..?" Tambah Vita lagi.
Iya... sampai kini aku memerangi diriku yang meminta lebih dari Adik mu kak...
"Sudah ayo duduk disini." Mama memanggil mereka duduk diantara semuanya.
"Avi... Denis. Kami sebagai orang tua kalian ingin bertanya serius dengan kalian."
"Ya ma..." mereka serentak mengangguk.
"Apa kalian saling mencintai?"
"Tentu saja ma... aku mencintainya" Avi menoleh menunjuk Denis pada mama.
"Dan aku juga sangat mencintai Avi"
"Baguslah.. kalau begitu kita bisa tentukan tanggal pernikahan kalian" ucap ayah Denis.
Avi menunduk malu. Berbeda dengan Denis ia lebih antusias mengikuti perbincangan ini.
"Tadi kami semua sudah memutuskan satu bulan kedepan kalian akan menikah. Tepatnya tanggal 20 desember, apa kalian keberatan dengan tanggal itu?" Tanya ibu Denis lagi.
Mereka saling memandang. Dan melihat orang tua mereka lagi.
"Aku setuju.... lakukanlah ma" kata Denis pada ibunya.
"Alhamdulillah... " mereka sama sama merasa lega dan mengucapkan syukur.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1