
Setelah turun dari taxi online, Avi berjalan masuk ke apartemennya dengan Denis. Avi masih teringat keseruan makan Tahu genjrot bersama Arash. Senyuman nampak tersungging dibibirnya.
Seandainya waktu 24 itu tak ku curi dari Arash, sepertinya akan sedikit menyenangkan. Dia memang penuh dengan kejutan sejak dulu.
Astaga... apa yang aku pikirkan? Sekarang aku seorang istri.. aku tak harusnya bersenang senang dengan pria lain. Hanya boleh dengan suamiku saja.
Pikiran Avi berkecamuk dihatinya. Satu sisi ia sangat marah melihat adegan dikantor Denis dan disisi lain ia merasa bersalah pada Denis karna bertemu dengan Arash walaupun itu hanya kebetulan saja.
Pintu apartemen nya tiba tiba terbuka. Ia mundur beberapa langkah melihat siapa yang keluar dari apartemennya. Dengan tergesa gesa Denis keluar mengenakan jaket dan membawa helm.
Mau kemana dia? Aku pura pura tidak lihat saja.
Avi melanjutkan berjalan kearah pintu Apartemen dengan kepala menunduk.
Prok...
Kepalanya tertabrak pada sesuatu. Ia mendongak keatas melihat dada siapa yang ia tabrak.
"Sayang? Kamu dari mana saja. Aku baru saja hendak keluar mencari mu." Denis langsung memeluk Avi.
Rupanya ia mau mencari ku. Suami yang baik. Atau berpura pura baik supaya aku tak marah padanya.
Avi melepaskan pelukan Denis. Ia masuk ke apartemennya langsung menuju kekamar mereka. Denis pun kembali masuk dan menutup pintu Apartemen mereka.
__ADS_1
"Avi... " Denis mengikuti Avi masuk kekamar.
"Apa?" Avi duduk dimeja riasnya sambil membuka hijabnya.
"Kamu kemana sejak sore tadi?" Denis duduk dibibir ranjang.
"Menenangkan diri" jawab Avi singkat.
"Kenapa?" Selidik Denis penasaran.
"Setelah melihat adegan dikantor mu tadi" ia menatap suaminya yang duduk dibibir ranjang.
"Ooh... " Denis tertawa kecil berjalan kearah istrinya yang sedang menyisir rambut panjangnya.
"Kenapa tertawa?" Avi memalingkan wajah nya ketika didekati Denis.
"Apa aku salah? Kalian bermain dibakik meja. Itu sangat mesum" Avi mengangkat bahunya berulang kali.
"Mesum? Ahahahha...
Kamu salah mengira sayang." Denis menarik tangan Avi agar mau duduk ditepi ranjang. Avi juga mengikuti tanpa menolak.
"Kamu tau? Aku sudah membuat Anin menunggu mu. Kamu bisa lihat sendiri jam berapa aku mengirim pesan dan menelpon mu. Lalu kamu datang jam berapa? Dia sudah sangat menunggu lama sahabat nya ini. Maka dari itu aku putuskan untuk membahas kerja sama kita yang harusnya diurus oleh kamu sayang..
__ADS_1
Ebtah dia lelah atau bosan atau mungkin lapar, ia menabrak tasnya sendiri hingga jatuh kebalik meja kerja ku saat ia memberikan proposal kerja sama kita.
Isi tasnya semua tumpah, aku hanya membantunya mengumpulkan isi tas nya yang tumpah. Supaya lebih cepat. Dia juga bisa segera keluar dari ruangan ku. Kamu datang bukannya membantu,malah langsung pergi."
Penjelasan Denis yang panjang itu didengar Avi dengan seksama. Tanpa mengalah dan mengaku salah ia berusaha mengorek kebenaran dari mulut Denis.
"Kenapa kamu ingin Anin cepat pergi?" Tanya Avi dengan nada sedikit mengejek.
"Kamu lihat cara berpakaiannya? Aku sudah risih sejak pertama ia datang. Makanya berulang kali aku berusaha menelpon istriku. Agar dia bisa membawa sahabatnya itu keluar dari ruangan ku."
Denis menatap Avi yang terlihat menahan senyuman nya. Tapi Denis mencoba pura pura tidak tau. Lama kelamaan Avi tertawa. Denis terkejut dan juga ikut tertawa bersama Avi.
"Harusnya aku membantu mu tadi. Ahahahha.. apa Anin menggodamu?"
"Jangan tertawakan aku sayang.. dia bahkan keliatan bosan satu ruangan denganku" Jawab Denis dengan wajah cemberut.
"Maafkan aku... pemandangan tadi sungguh sangat menyesakan dadaku. Aku cemburu dan marah. Kalian seperti sedang bermain disana. Maafkan aku Uda..."
Avi memeluk Denis dari disampingnya. Sekarang dirinya lah yang merasa sangat bersalah. Karna bertemu dengan Arash.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...