
"Sama seperti kita.. hanya kamu dan aku" Arash memegang lengan Avi membalikkan kearahnya.
"Kamu hanya boleh dicintai oleh seorang Arash saja. Sampai hubungan ini menjadi halal." Ia mencium kedua punggung tangan Avi.
"Tapi.. aku masih belum cukup umur untuk membicarakan itu sekarang kak, perjalanan kesana masih begitu jauh." Avi berjalan melihat banyak tanaman lainnya. Dia kembali menatap Arash yang mematung menatapnya.
"Apakah kamu tidak yakin kepadaku?" tanya Arash yang masih diam disana.
"Aku percaya sama kak Arash. Jika boleh memilih.. aku lebih memilih bertemu denganmu saat lulus sekolah.. bukan sekarang" Avi melihat tanaman didepannya dan melirik Arash yang terlihat tidak senang dengan ucapannya.
"Kenapa begitu?" Arash penasaran...
"Jika aku bertemu denganmu saat lulus itu, aku tak akan ragu untuk segera menjadi istri mu. Dari pada sekarang aku sangat tersiksa dengan waktu ku yang sangat lama" Arash mendekati Avi dan memeluknya. Avipun membalas pelukan itu.
"Jadi itu? jika kamu tersiksa.. mari menikah saja." Avi tertawa mendengar ucapan Arash. Dia semakin mengerat kan pelukannya.
"Kenapa tertawa? Jika kita menikah aku akan lebih tenang untuk kuliah. Karna aku tak khawatir lagi seseorang akan merebutmu dariku."
"Masuk akal... tapi kak Arash yakin akan sanggup?" goda Avi. Arash menjadi salah tingkah. Dia mengambil bunga dan menyelipkan ditelinga Avi.
"Kalau untuk yang satu itu aku tidak yakin" bisik Arash ditelinga Avi.
"Baiklah, kita sama sama menunggu waktu indah itu tiba.Kak Arash cepat selesaikan kuliahmu. Dan aku akan lebih giat lagi belajar. Waktu itu hanya sebentar, kamu saja yang tidak sabar" Avi mengandeng tangan Arash dan mengajaknya berjalan jalan.
"Karna rasa takut kehilangan kamu itu juga besar."
"Maka percayalah padaku wagai kumbang. Bunga mu ini tak kan rela dihinggapi kumbang lain."
"Baiklah bunga cantikku.." Mereka berjalan menuju pantai.
" Sebentar lagi matahari akan tenggelam, akan ada pemandangan indah disini. Mau menemaniku menikmatinya?" Avi mengangguk dan memperlihatkan senyum ala pepsodent. Sehingga Arash gemas mencubit hidungnya.
Mereka duduk ditengah pasir menikmati langit yang berubah jingga. Angin dingin mulai terasa menusuk.
__ADS_1
Pelukan hangat itu membuat keduanya nyaman. Tak lama matahari kembali keperaduannya.
Suasana yang sangat indah bahkan saat pasangan itu menyatukan wajahnya larut dalam deru nafas yang menggebu. Perasaan terlalu cinta dan ingin memutar waktu kedepan dengan cepat. Andai mereka punya kekuatan itu.
Avi masih tersandar dalam pelukan Arash, merasakan detak jantung Arash yang sangat dicintainya. Bisakah cinta mereka bertahan bahkan di umur mereka yang masih sangat muda. Rasa takut untuk berpisah pun kembali hadir diantaranya. Hingga mereka enggan untuk menghadapi hari esok.
"Kak.."
"hmmm...."
"Aku mulai nyaman dengan pelukanmu. Jangan terlalu lama pergi ya "
"Sayang... mari menikah saja.."Ajak Arash serius menatap Avi yang menatap nya juga.
"Jaga saja hatimu... akan kujaga juga hatiku" jawab Avi berkilah kembali merebahkan kepalanya ke pelukan Arash.
"Baiklah bidadariku" Mereka menikmati senja yang hampir habis.
"Apakah kita meninggalkan maghrib?" tanya Avi sambil bergegas berdiri.
Gelap mulai nampak dipulau itu. hanya lampu lampu kecil disepanjang bibir pantai. Tentunya juga tampak lampu yang terang dari rumah besar yang dihuni oleh mereka yang baru datang.
"Dari mana saja kalian? buruan maghrib" Mama berdiri menghampiri Arash dan Avi diruang tamu.
"Maaf ma, tadi Avi lihat matahari tenggelam. Baru ingat maghrib hampir terlewat, makanya buru buru pulang." jelas Avi.
" Ya sudah. Bersihkan badanmu sekalian. Itu penuh dengan pasir. Mereka mengacungkan jempolnya dan masuk kekamar masing masing. Mama kembali duduk sambil menonton sinetron favoritnya.
"Lena, apakah anak anak itu sudah pulang?" Tanya bunda yang baru keluar dari kamarnya.
"Sudah, mereka sudah keatas untuk shalat" jawab mama
"Apa kau yakin dengan rencana ini Len. Kalau aku sih senang sekali." tanya bunda membahas sesuatu dengan mama tadi.
__ADS_1
" Rencana apa ma?" selidik Deby.
.
"Mama dan bunda rencananya mau mengadakan pertunangan mereka disini. Dalam waktu dekat ini." Jelas mama pada Deby dan juga Bolan yang mendengar perbincangan mereka.
"Apa mama yakin? kakak bahkan keluarga kita belum tau." tanya Deby gusar
"Sudah mama atur semua. Kamu Tenang saja" Deby pun mengiyakan perkataan mama dan kembali menonton tv.
"Arini.. kau saja yang memberitahu mereka saat selesai makan malam nanti." pinta mama pada Bunda Arini.
"Kenapa? kau cemas mereka akan menolak? justru mereka akan sangat senang." jelas bunda lagi
"Bukan begitu. Lebih bagus jika kau saja yang bicara." Mama meminta bunda lagi
"Jika kau setuju, aku bahkan bersedia langsung menikahkan mereka. Agar Arash tenang berangkat untuk kuliah. Dia takan gelisah lagi meninggalkan Avi." goda bunda sambil tertawa kecil.
"Avi masih terlalu muda rin, apa pantas menikah diusia segitu?" tanya mama lagi.
"Jangan ma, ebi masih belom nikah juga. Apa sebaiknya mama cepat cepat nikahkan ebo sama bang Bolan saja" Usul Deby pada mama. Mama pun memukul pelan lengannya.
"Kamu ini. Tapi... nanti biat mama pikirkan matang matang." senyuman tampak mengambamg dimulut Deby dan Bolan.
"Apa kalian mau menikah disini?" Tanya bunda pada mereka berdua.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1
"