Wanita Tersayang

Wanita Tersayang
Jangan menyerah


__ADS_3

"Aku tak tahan lagi. Sebaiknya kita lapor polisi ma, Avi sudah berhari hari hilang. Jangan hanya menunggu keluarga Arash menemukannya." Ica gusar nampak kesal bicara dengan mamaLena dan adik adiknya.


"Terserah kalian saja. Mama sudah lelah berpikir. Apa yang sebenarnya terjadi hingga Avi nekat begitu."


mama Lena tampak frustasi.


"Semua gara gara Arash yang terlalu memaksakan diri untuk menikahi Avi." Vita menambahkan.


"Kemaren Ebi sudah posting disosial media. Siapa tau ada yang lihat Avi." Deby berharap.


"Ma, ada telpon, cuma ga aku angkat. Karna nomor baru. Apa ini Avi ya ma?" Ica melihat mama dan adiknya secara bergantian.


"Nah dia telpon lagi. Sebentar..." kemudian Ica mengangkat panggilan masuk ke ponselnya.


"Assalamualaikum, hallo"


"Waalaikumsalaam, kak"


"Avi?? alhamdulillah, kamu dimana dek? kakak jemput ya"


"Ga usah kak, Avi ingin sendiri dulu. Setengah jam lagi ada yang menjemput mama dan kakak. Bersiap lah."


"Oh begitu, baiklah"


"Satu lagi kak, jangan beritahu pada keluarga Arash!"


"Baiklah"


"Assalamualaikum kak"


"Waalaikumsalaam"


"Sebaiknya kita bersiap siap ma, ada seseorang yang akan menjemput kita bertemu dengan Avi." kata Ica menjelaskan. Mama dan yang lain merasa lega.


"Ya sudah ayo..." Mama Lena langsung beranjak dari tempat duduknya dengan semangat 45 bersiap siap menuju kamar. Dia tak sabar ingin bertemu anak gadis bungsunya.

__ADS_1


.


.


"Vi, aku ada ide. Telpon keluargamu. Kita bertemu diluar sambil makan malam. Jelaskan kepada keluargamu, jangan ada yang ditutupi. Supaya ibumu bisa sedikit tenang. Bagaimana?" Denis mendekati Avi yang hampir memasuki kamar tidurnya.


Dia berbalik melihat Denis. Memperhatikan pria yang sudah baik hati menampungnya.


"Apa kak Denis ingin mengusirku?"


"Bukan, sama sekali bukan itu tujuan ku."


"Lalu apa? Aku sudah sangat merepotkan mu disini bukan. Baiklah" Avi masuk kekamarnya ingin bersiap sia keluar dari apartemen Denis. Denis menyusul Avi kedalam kamar.


"Vi, coba pahami maksud ku baik baik. Ini semua demi keluargamu dan dirimu juga." Denis menarik tangan Avi supaya menghentikan kegiatan beres beresnya untuk pergi.


"Jelaskan kak"


"Begini....." bla bla bla bla.. Denis menerangkan kepada Avi maksudnya. Avi sepertinya paham. Dia mengangguk dan sebuah senyuman terukir ditepi bibirnya.


"...kamu bisa?" Tanya Denis pada Avi yang nampaknya mengerti dengan ide Denis.


"Terima kasih kak Denis. Kakak begitu baik padaku. Terimakasih." Avi semakin mengeratkan pelukannya.


Kali ini Denis tak tingal diam, dia juga membalas pelukan Avi. Mengelus kepala Avi dari belakang. Ada perasaan bahagia seketika. Denis berpikir alangkah bahagianya dia jika Avi menjadi miliknya. Tapi semua itu dia tepiskan, karna hubungan mereka saat ini hanya teman saja.


"Tak apa, itu lah gunanya teman." Denis melonggarkan pelukan Avi. Kemudian menatap nya dalam dalam. Melepaskan tangannya dari pundak Avi yang dari tadi dipegangnya. Sedikit menjauh.


"Apa kak Denis masih menyukai ku?" Tanya Avi tiba tiba. Dia memperhatikan tiap inci wajah Denis yang sedang menatapnya.


"Masih, bahkan aku mencintai mu. Tapi kuserahkan kepada Tuhan. Biar DIA yang mengatur segalanya." Avi tersenyum tipis mendengar jawaban Denis.


"Apa kakak tidak ingin berusaha?"


"Aku sudah berusaha, tapi saat itu kamu menolaknya" Denis tersenyum kearah Avi. Masih menutupi luka hatinya pasca penolakan itu.

__ADS_1


"Kuharap kak Denis tak menyerah." Avi kembali membereskan ketempat semula. Karna dia tak jadi pergi dari Apartemen Denis.


"Kamu mengharapkan itu?" Denis berbinar binar. Avi hanya tersenyum disela kegiatannya tanpa melihat Denis.


"Baiklah, Aku akan menunjukkannya sekarang juga" Denis bergegas mendekati Avi menarik lengannya dan membalikkan tubuh Avi tepat berada dihadapannya. Menyatukan bibirnya, membuat Avi ternganga tak percaya.


"hmmm... kak"


Denis terus saja melakukan gerakan itu. Semakin menjadi supaya Avi membalasnya. Denis merasakan Avi juga menginginkan itu darinya. Bahkan kini tangan gadis itu memeluk Denis. Balasan demi balasan mereka lakukan. Bak gayung bersambut.


Avi menyadari perasaannya kepada Denis merupaka. perasaan yang belum pernah ia rasakan. Sangat indah bahkan tak ingin berada jauh dari Denis. Dia mulai melupakan Arash, kekasih yang memaksanya melakukan pernikahan dengan penuh jebakan.


Kehangatan perhatian Denis selama mereka terkurung diaparrtemen itu bisa dengan mudah membuatnya berpaling hati. Sentuhan sangat hangat dan nyaman. Ia tak merasa marah.


Apa aku benar benar jatuh cinta saat ini ?


"Apa kamu marah?" Denis bertanya setelah melepaskan pagutan itu. Diluar dugaannya Avi bahkan kembali memeluk tubuh kekar itu. Denis tersenyum cintanya tak bertepuk sebelah tangan.


"Aku lupa harus menghubungi mama." Dia melepaskan pelukannya dan keluar dari kamar. Denis mengikutinya dari belakang.


"Hubungi dengan pinselku" Avi menerima ponsel yang diberikan Denis.


"Aku akan suruh seseorang menjemput mereka. Setelah itu kamu juga bersiaplah." Denis meninggalkan Avi diruang tamu dan melesat masuk kekamarnya.


Sementara Avi tampak menghubungi keluarganya.


"Aah... jantungku. kau berdetak sangat kencang. Aku tak sanggup menahannya. Maafkan aku sudah menciumnya." Denis duduk ditepi ranjangnya dambil memegang dada tempat dimana jantungnya berdetak tak beraturan.


"Avi.. apa kamu benar benar menyukaiku? Bagaimana jika aku hanya tempat pelariannya saja? ah tidak mungkin. Sudah jelas tadi dia menyurku untuk tak menyerah.. apa itu artinya ... kita sudah jadian?" Senyuman tak hilang dari bibir Denis. Dia merasa telah mendapatkan gadis impiannya.


"Ini baru dimulai. Semoga aku tak tersesat nantinya..." Denis terkekeh sendiri mengingat ciuman langkanya tadi bersama Avi.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2