
Arash masih berjibaku dikamarnya. Bahkan sampai hari rencana pernikahannya. Mama Lena yang masih terus menghubungi Bunda Arini dan Arash. Mencari tau keberadaan Avi.
Seminggu Avi menghilang tanpa jejak. Segala macam cara dilakukan Arash dan keluarga untuk mencari jejak Avi. Hasil nya tetap sama, Avi bagai hilang ditelan bumi.
"Sayang, bunda ga habis pikir akan begini" gusar bunda menghampiri Arash dikamarnya. Kemudian duduk disebelah anaknya membawakan makanan untuk Arash yang sejak kemaren belum makan.
"Semua salah ku bunda.."
"Jangan menyalahkan diri sendiri Ar.."
"Memang salahku bunda."
"Apa maksudmu Arash?"
"Avi kesal dengan ku karna aku menjebaknya saat pergi kepantai. Semata mata karna aku gak ingin pisah dengan nya gara gara ide gila ayah untuk kuliah diluar kota. "
"Bunda ga nyangka kamu melakukannya Ar... astaga.."
"Ditambah lagi setelah dirumahnya Mama, Bunda dan ayah memaksa kami untuk menikah. Ia semakin membenciku" Arash terlihat frustasi.
"Benar benar keterlaluan... Kami melakukan itu karna berpikir kalian telaah...., Apa kau dan Avi sudah melakukannya?"Selidik bunda yang mengeluarkan sedikit amarahnya.
"Aku ga mungkin melakukan itu bund.."
"Lalu apa alasanmu?"
"Aku hanya ingin kalian mengira kami telah berbuat yang tak pantas. Agar dinikahkan segera"
"Dan keinginan mu terkabul Arash..."
"Benar bund.. tapi aku jadi kehilangan Avi." Dia menunduk kecewa atas perbuatannya sendiri. Bunda Arini menggeleng gelengkan kepalanya melihat Arash kemudian keluar meninggalkan Arash.
"Aku sangat menyesal vi... aku menyesaal..." Teriak Arash frustasi.
.
.
__ADS_1
"Aku akan secepatnya pergi dari sini kak"
"Tapi.. kamu mau kemana Vi? Lebih kamu pulang saja, kasihan ibumu. Dia cemas. Bahkan sempat sakit, karna warungnya tidak buka."
Avi terkejut mendengar kata Rahman. Dia bisa membayangkan bagaimana keadaan Mama dan kakaknya saat ini. Dia sangat sedih mengingat itu semua. Tapi jika ia pulang pasti akan dinikahkan. Karna para orang tua itu mengira mereka telah berbuat hal yang tak senonoh.
"Aku ga mau" Jawab Avi yang sejak tadi diam.
"Demi ibumu vi"
"Aku akan pergi dari sini. Bisa saja nanti kakak membawa mama kesini"
"Aku orang yang menepati janji Vi. Aku hanya gelisah dengan keadaan ini."
"Aku ga mau dinikahkan dengan Arash dalam waktu yang dekat ini dan aku ga mau pulang kak, ku mohon mengerti lah."
"Terserah.. ini pilihan mu" Rahman berjalan meninggalkan Avi dan masuk ke dalam kamarnya.
"Dasar gadis aneh.." gumam Rahman saat menghempaskan tubuhnya diatas ranjang.
.
Dia terus meratapi hidup nya. baginya sejak pertemuan dengan Arash hidupnya sudah tidak indah lagi. Dia masih berpikir tentang Arash mengenai jalan pikirnya.
Apakah ini hanya obsesi atau cinta?
Saat ini yang ini yang ia inginkan hanyalah menyendiri. Jauh dari seluruh keluarga nya. Menghindari pernikahan yang nyaris membuat hidupnya hancur.
Arash, kenapa kau berubah. Saat saat pertama kita begitu menyenangkan. Aku ingin kembali lagi ke masa itu. Dimasa kebebasan ku sebagai gadis remaja.
Aku menyesal mengenalmu kak. Tapi aku juga mencintaimu
Klek
Avi berdiri dari duduknya. Karna tiba tiba Rahman masuk ke kamarnya. Memegang tangan Avi dan menariknya keluar.
"Ada apa kak? kenapa tanganku ditarik seperti ini?" Rahman tetap diam. Dia mendudukkan Avi disofa.
__ADS_1
"Tunggu sebentar" Rahman masuk kekamarnya. Kemudian keluar membawa sesuatu.
"Kenapa harus ditarik segala sih" Avi sewot.
"Karna itu didalam kamar."
"Lantas apa yang salah?"
"Aku manusia biasa"
"Hah???"
"Iya... iman ku bisa goyah jika dikamar, karna banyak bisikan syetan disana" Rahman membuka sesuatu yang diambilnya tadi dari kamar.
"Heh... betul juga. Maaf...." Avi memperhatikan apa yang dilakukan Rahman. Dia merasa bahwa lelaki yang didepannya sangat menghargainya. Rahman sopan padanya, padahal sudah lebih seminggu mereka tinggal seatap. Tapi tak pernah terjadi hal hal yang tak diinginkan.
Sangat jauh berbeda ...
Dia sesekali melirik Rahman. Memperhatikan wajah tampan itu. Dia berpikir tak menyadari ada pemuda yang baik seperti ini menyukainya. Sayang sekali dia terlambat. Jika Rahman cepat mengutarakan perasaan nya pada Avi. Bisa jadi Avi menerimanya. Tapi ia tak menunjukan itu disaat awal pertemuan.
"Lebih baik kamu pakai ini." Rahman menyerahkan beberapa helai pakaian.
"Kenapa sebanyak ini"
"Karna kamu tinggal disini.. kamu selalu memakai bajuku. Itu tidak bagus karna kamu seorang gadis."
Avi menatap Rahman dalam dalam. Kemudian melihat kearah pakaian yang ada ditangannya.
"Terimakasih kak, maaf aku selalu merepotkan kakak" Dia menunduk. Airmata itu tumpah. Ia merasa menjadi beban bagi Rahman yang sangat baik padanya. Memperhatikan kebutuhannya dalam segala hal.
"Jangan sungkan... bukankah teman seharusnya begitu?"
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...