
Setiba mereka dikamar. Avi berjalan kearah ranjang. Langsung merebahkan tubuhnya yang lelah bukan karna bekerja keras, tapi karna masalah masa lalu yang sekarang berkembang lagi.
Denis memilih duduk disebuah kursi kayu didepan ranjang. Ia menatap Avi yang sedang memejamkan matanya diatas ranjang berukuran kecil.
"Kenapa melihat ku?" Avi membuka matanya memperhatikan Denis.
"Calon istriku begitu cantik... dan juga baik. aku terpesona.." Denis menggombal dan itu membuat Avi tertawa. Ia juga tertawa tak menyangka mulutnya mengeluarkan kata kata itu.
"Sayang... kemarilah!" Avi mengembangkan tangannya kearah Denis.
"Ada apa dengan mu hari ini sayang? Kamu sangat manja" Denis berpindah keatas ranjang Avi, ikut merebahkan tubuhnya.
"Aku hanya ingin bersama Uda, hanya itu" dia langsung masuk kepelukan Denis. Menyesap hangat aroma khas Denis yang sangat ia sukai.
"Sayang..."
"Hmmm.."
"Apa sebaiknya kita menikah saja sekarang?" Denis mengecup lembut pucuk kepala Avi.
"Sekarang?" Avi mendongakan kepalanya melihat Denis.
"Ya.. sekarang.." Denis membalas tatapan Avi.
"Cara nya?" Avi kembali masuk kedada bidang Denis. Merasakan detak jantungnya yang semakin kencang.
"Nanti dipulau.. aku akan mengurusnya... setidaknya untuk menghalalkan sebuah sentuhan seperti ini. Nanti kita urus setelah urusan dengan Arash selesai. Bagaimana menurut mu?" Denis mengusap ngusap lembut lengan Avi.
"Baiklah... aku setuju" dia menguatkan lagi pelukannya pada Denis.
"Kamu setuju sayang?"
"Ya.. kenapa tidak. Aku tak sabar ingin segera menjadi istri mu"
"Begitukah?"
"Ya... apa Uda ragu padaku?"
"Tidak... hanya saja..."
"Kita juga sudah lama menjalin hubungan sayang.. aku bukan perempuan munafik yang selalu bisa menghalau rasa inginku padamu. Kita sama sama manusia lemah. Bisa saja nantinya kita berbuat salah. Itu sangat tak bagus.
Uda juga bilang tadi, menghalalkan sebuah sentuhan yang seperti ini. Alangkah eloknya jika setiap sentuhan kita menjadi ibadah bukan? Bukannya menjadi sebuah dosa.
Jadi aku juga ingin menikah denganmu. Sama dengan harapanmu sayang."
__ADS_1
Dia melonggarkan pelukan nya dengan Denis. Duduk menghadap pria disampingnya. Mengambil tangn Denis dan meletakan kedada kirinya.
"Uda merasakannya? Bukan hanya jantung mu yang berdetak tak karuan. Aku juga sama."
Denis menarik tangannya yang terasa sudah berani sedikit nakal menyentuh lembut hal kenyal itu. Dia sangat berusaha menetralisir respon dari tubuhnya.
"Jangan lama lama, aku juga bisa khilaf sayang"
Avi tersenyum menatap dalam kekasih dihadapannya. Menyentuh lembut pipi Denis.
"Baiklah.. aku akan bicara dengan orang tua kita sekarang. Tidurlah."
Denis berusaha bangkit dari ranjang kecil itu. Tapi ada menahan tangannya disana. Ia melihat Avi menatapnya dengan tatapan yang sudah untuk diartikan.
"Tunggulah sebentar..."
Denis duduk ditepi ranjang. Pandangan mereka kini bertemu. Mereka mulai menginginkan hal hal yang lebih.
"Sayang... " Denis menggenggam erat jemari Avi.
"Cium aku..." pinta Avi. Dan itu sangat membuat Denis gugup. Ia berusaha menghindari hal hal intim ini. Tapi Avi malah memintanya.
Denis mendekatkan bibir mereka, melakukan kegiatan terlarang didalam sana. Sebuah ciuman hangat saling berbalas. Tanpa sadar jemari Denis mulai meraba bukit kenyal Avi.
Dari Getaran tangan nya jelas sekali bahwa Denis baru pertama kali menyentuh bukit kenyal yang selama ini ia tahan tahan.
"Bersabarlah sayang .. " Denis memeluk Avi dengan hangat.
"Aku mencintai mu Uda..." suara nya lirih karena malu dengan permintaannya tadi.
"Aku juga mencintaimu sayang.." Denis membelai lembut pipi Avi.
"Teruslah bersama ku... aku tak ingin kehilanganmu" Ia mengeluarkan segala isi hatinya pada Denis.
"Aku akan terus bersama mu dengan restu Tuhan dan restu keluarga kita." Jawab Denis mantap.
"Maafkan aku..."
"Ada apa?"
"Aku seperti perempuan agresif yang haus belaian"
"Aku menyukai nya...
Tidurlah... aku akan kembali lagi. Sebentar lagi kita akan berhenti didermaga."
__ADS_1
Denis melangkah keluar kamar itu dengan perasaan yang tak bisa diungkapkan. Perasaan gugup tapi sangat bahagia. Sesekali ia menyentuh bibirnya yang sudah berani melakukan perbuatan yang diinginkan itu.
Dia mencari keberadaan orang tuanya. Nampak ayah ibu nya dan mama Avi tengah asik berbincang bincang duduk santai dengan camilan juga minuman hangat diatas meja didepan mereka.
Dengan langkah buru buru Denis berjalan menghampiri mereka. Mengurai senyuman termanisnya. Sehingga mereka melupakan fokus berbincang tadi.
"Ma, pa, buk... ada yang mau aku sampaikan"
Denis tampak tak sabar ingin memberitahukan kabar bahagia ini.
"Ada apa nak..? Bicara lah.." jawab mama Avi.
"Aku akan menikahi Avi sekarang juga.. setelah sampai dipulau tujuan kita."
Penjelasan mantap dari Denis sontak membuat mereka terkejut dan saling melihat satu sama lain.
"Sekarang ini?" Vita berjalan kearah mereka yang juga terkejut mendengar ucapan Denis. Pria itu mengangguk senang dengan pertanyaan Vita.
"Bagaimana dengan Avi...?" Tanya ayah Denis.
"Dia sendiri yang memintanya.."
Semua mata membulat penuh tanya. Mulut mereka melongo. Dan menatap Denis dalam dalam.
"Benarkah sayang?" Tanya ibu Denis tak percaya.
"Aku bersungguh sungguh" Denis meyakinkan semua orang
"Tunggu apa lagi pa... cepat suruh anak buah mu untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Benar begitu mama Avi?" Kata ibu Denis.
"Jika Avi yang meminta kita akan melaksanakannya. Selagi kalian tak ada rasa keterpaksaan." Jawab mama Lena dengan wajah bahagia.
"Terimakasih buk..."
"Tapi dimana Avi sekarang?" Tanya Vita pada Denis.
"Dia sedang beristirahat dikamar . Katanya seperti mabuk laut. Aku baru mengantarnya."
Jelas Denis.
Ayah Denis tampak sibuk dengan ponselnya. Menelpon seseorang untuk mengatur segalanya. Mereka mulai bersiap siap turun dari kapal.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung..