Wanita Tersayang

Wanita Tersayang
Merasa terabaikan


__ADS_3

"Ke pulau katanya ma.."


"Jadi ingat saat Arash membawa kita jalan jalan kepulau"


"Iya?"


"Apa kamu lupa? Bahkan Deby menikah disana."


Avi terdiam mengalihkan pandangannya kearah lain. Bagaimana ia bisa lupa, waktu itu ia sendiri yang mengucapkan sebuah janji pada Arash.


"Ya ma... Avi ingat, saat itu sungguh sangat indah. Arash begitu memanjakan ku, penuh kasih sayang dan perhatian."


Tutur Avi saat mengingat kenangan indah beberapa tahun silam.


"Mama sangat bahagia saat itu.. kenangan yang tak terlupakan sayang." Mama mengurai senyum sambil menatap Avi yang duduk disebelahnya.


"Tapi dia terlalu memaksakan keinginannya. Dia lupa bahwa ada aku juga yang sedang menjalin hati dengan nya. Tanpa bertanya bagaimana pendapatku, dan bagaimana keinginan ku."


"Sudahlah sayang... sekarang kita bersama Denis. Jangan lagi mengungkit tentang Arash. Jangan buat dia bersedih"


"Maaf ma, aku lupa.. " Avi memeluk mama dan menciumi pipi mama.


"Oh ya .. dimana Denis? Apa dia ketinggalan?" Tanya mama melihat kiri kanan mencari keberadaan Denis.


"Aku juga tak melihatnya... tadi naik kekapal kok ma. Dimana dia?"


Avi mengambil ponselnya didalam tasnya. Mencoba menghubungi Denis yang sejak tadi tak menampakan wajah tampannya.


"Hallo... Uda dimana?"


"Sebentar lagi aku kesana"


"Kamu sedang apa?"


"Sebentar sayang... "


"Apa kamu tidak dikapal yang sama dengan ku?"


"Sayang... aku ada dikapal yang sama dengan mu. Tunggulah sedikit lagi. Bersabarlah sayangku..."


"Baiklah... aku akan menunggu mu"


"Terimakasih..."


Avi menutup panggilan ponselnya. Terlihat sedikit kecewa, namun ia sembunyikan dari penglihatan mama Lena.


"Sebentar lagi ma..." Avi memberitahu mama, larna sejak tadi wanita itu menatapnya.


"Denis dimana?" Selidik mama heran.


"Masih dikapal ini..." Avi mulai pasrah.

__ADS_1


"Kenapa belum kesini juga?" Mama semakin penasaran.


"Mungkin ada beberapa pekerjaan" jawab nya asal.


"Kamu kecewa?" Mama tersenyum memandang wajah Avi.


"Bukan apa apa..." ia pun membalas senyuman mama.


"Lelaki punya cara sendiri dalam membahagiakan wanitanya Vi. Kamu jangan membandingkan satu dengan yang lainnya. "


"Aku bukannya..."


"Sudah... tunggu saja."


"Iya ma."


Mereka kembali menikmati pemandangan indah diatas kapal. Avi masih berjibaku dengan pikirannya. Pertanyaan dalam hatinya membuat kegundahan yang dalam.


Ia merasa aneh dengan sikap Denis kali ini. Tak biasanya ia meninggalkan Avi dengan kebersamaan liburan ini.


Apa Denis marah karena ulah Arash kemaren ya? Tapi tadi ia terlihat baik baik saja.


Tengah asik menjawab sendiri pertanyaan hatinya. Dia melihat sosok tampan berjalan kearah nya. Senyuman sangat khas, tak mudah mata yang melihatnya untuk mengacuhkan pria itu.


Tubuhnya yang tinggi tegap. Body atletis. Kulit putih dan wajah yang tampan. Duduk disebelah Avi. Sosok yang Avi tunggu sejak tadi.


"Maaf sayang... aku lama"


Avi masih diam melihat kedepan. Entah apa yang diperhatikan nya. Ia ingin sekali mengabaikan pria tampan disebelahnya.


Perkataan Denis seperti sedang merajuk. Avi sedikit mengarahkan pandangannya ke arah Denis. Menatap sekejap lalu melihat lagi kedepan.


"Sayaang..." Denis terus memanggil Avi. Mama yang melihat mereka berdiri, beranjak daei sana dengan alasan ke toilet.


"Sayang..." kali ini Denis menggenggam jemari Avi.


"Apa kamu marah sayang?" Tanya Denis memperhatikan wajah cantik Avi.


"Tidak..."


"Kenapa hanya diam saat aku sapa?"


"Aku hanya lelah saja" dia tak melihat Denis.


"Oh.. apa kita kekamar saja untuk beristirahat?"


"Kamar?"


"Ya.. kakak Ica dan yang lainnya juga sedang dikamar. Aku sempat menghampiri mereka tadi."


"Apa ada yang seperti itu?"

__ADS_1


"Tentu saja. Kapal ini hanya ada kita Vi" Denis mengurai senyum menatap Avi yang menoleh kearahnya.


"Lalu bagaimana dengan mama?"


"Mama juga kekamar, apa kamu tidak dengar tadi mama bilang?"


"Aku hanya dengar ke toilet."


"Karna toilet nya ada dikamar istirahat sayang..."


"Ooh..."


"Apa yang sedang kamu pikirkan sayang?"


Avi menatap Denis. Memperhatikan tiap inci wajah tersebut. Dia semakin kesal melihat Denis.


"Ingin mengabaikan mu..."


"Ahhahahah... sayang .. kejujuranmu menyakitkan ku" Denis melepaskan sedikit tawanya. Yang membuat Avi memerah.


"Aku tak bercanda" Avi menampilkan wajah juteknya.


"Ayo... beristirahat lah. Aku antar."


Denis berdiri mengajak Avi kekamar yang dimaksud. Avi tetap mematuhi keinginan Denis.


"Jadi mau mengabaikan ku?"


Avi mengangguk pelan menatap Denis.


"Terus... kenapa kamu mau aku ajak?"


Avi berhenti sebentar lalu meneruskan lagi langkahnya. Dia tak berani lagi menatap Denis. Merasa malu dengan tingkahnya yang tak seide dengan pikirannya. Wajahnya memerah. Tapi ia tutupi agar Denis tak melihatnya.


"Sayaang... maafkan aku."


"Sudahlah..."


"Hei... kamu masih marah?"


Avi berhenti membalikan tubuhnya menghadap Denis.


"Uda mengabaikan ku sejak pertama menaiki kapal ini. Berapa lama aku menunggu. Aku juga menutupi kekesalan ku dari mata mama. Aku tak ingin Uda terkesan jelek dimata keluargaku. Aku tersiksa..."


Penjelasan Avi panjang lebar menatap Denis tajam dengan mata yang berkaca kaca.


Cup...


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2