
"Kita kesini lagi?" guratan bahagia diwajahnya.
"Kamu suka?" Arash memeluk Avi dari sampingnya.
"Sangat.. Sangat suka, ini pantai favorit ayah..." nampak jelas matanya yang berkaca kaca namun kebahagian ada disana.
"Aku akan menemani mu disini.. sesuai apa yang kamu suka.. aku akan ikuti." Avi menatap kekasihnya itu dalam dalam. Dia merasakan kesedihan Arash dibalik senyumannya.
Apakah aku yang terlalu takut berpisah dengannya?
Dia mendekati pemuda tampan yang memandang lurus kedepan melihat liukan ombak yang sesekali pecah keudara.
"Kamu kenapa kak?" Dia membelai lembut pipi Arash
Seketika Arash merengkuh gadisnya itu kedalam pelukannya.
"Apa kakak menangis?" Avi mencoba melepaskan pelukan Arash karna ingin melihat keadaan Arash yang terdengar sedikit terisak dipundaknya. Namun Arash tetap memeluk Avi dengan erat.
"Aku takut berpisah dengan mu sayang..." Dia menatap Avi. membelai lembut rambut gadis cantik itu. Mencubit ujung hidungnya. Lalu mengangkat dagu Avi dan mengecupnya.
"Aku takut akan terjadi suatu hal yang membuat kita tak bisa bersama. Aku ingin dekat dengan mu vi. Tapi.. jika aku tak memilih kuliah, aku akan dijodohkan dengan gadis pilihannya. Membayangkannya saja hatiku terasa sakit."
Avi menatap intens Arash. Kemudian dipeluk lagi tubuh kekar itu.
"Aku yakin.. semua kehendak ayahmu adalah yang terbaik. Percayalah..."
"Apa ... sebaiknya kita menikah saja?"
"Aku bahkan belum lulus sekolah, jangan aneh aneh"
"Lalu bagaimana dengan hatiku?"
__ADS_1
"Kenapa dengan hati kakak?"
"Avi... "
"Bukankah kita disini untuk bersenang senang?" Dia berlari kearah bibir pantai meninggalkan Arash dengan penuh tanya.
Aku akan buat bunda dan mama mau menikahkan mu dengan ku..
Mereka menikmati saat saat berdua ini. Arash merasa dirinya akan sangat sulit meninggalkan Avi karna dirinya akan pergi lama. Ada sebuah rencana disenyumannya tadi, bahkan author pun belum tau apa itu. hehehhe
Mereka menikmati makan malam romantis ditepi pantai. Ditemani makan malam favorit mereka. Avi tampak sangat menikmati momen langka ini. Dia melihat sedikit aneh dengan tingkah Arash. Tapi tak memperdulikannya karna hati nya sangat bahagia hari ini.
"Aku sangat lelah..." Arash merebahkan kepalanya kepundak Avi.
"Lebih baik kita pulang saja."
"Kepala ku sedikit sakit.. sayang" kemudian merebahkan tubuhnya kepangkuan Avi.
"Mungkin terkena angin pantai yang kencang ini. Apakah kakak masuk angin?" dia meraba kening Arash yang tidak panas. Arash diam tak menjawab. Avi merasa Arash sedang mengerjainya.
"Jangan bercanda deh.." Dia tetap bisu. Avi menggoyang goyangkan tubuh Arash. Tapi tetap tak ada reaksi. Kali ini ia benar benar cemas.
"Kak, kamu kenapa...?" Dia mengangkat tangan Arash yang terkulai.
"Kakak... kak Arash.. hei... bangun kak" kali ini dia menangis karna Arash tak ada respon. Kemudian ia memeriksa denyut nadi Arash. Hatinya sedikit tenang.
Karna Avi yang terus berteriak memanggil Arash, dua orang tak dikenal mendekati mereka. Karna mereka masih direstaurant itu. Barangkali kedua orang itu karyawan restaurant tempat mereka makan malam tadi.
"Kakaknya kenapa mbak?" Tanya salah seorangnya
"Ga tau mas, tadi bilang lelah dan sakit kepala. Tapi ga bisa dibangunin" terang Avi pada mereka cemas.
__ADS_1
Kedua orang itu memeriksa Arash.
"Lebih baik kita bawa istirahat saja mbak. Disana ada penginapan. Kebetulan saya tau pemiliknya. Biar saya antar biar mereka tak salah duga dengan kalian. Jika mbak mau kerumah sakit, harus kekota. Dan itu sangat lah jauh." ucapan mereka masuk akal juga.
"Bagaimana mbak? bisa kami antar?" Avi mengangguk.
"Baiklah, tapi saya minta tolong mas mas bawa kak Arash ya. Terima kasih sebelumnya mas berdua"
Kemudian mereka membawa Arash penginapan yang dimaksud. Setelah kedua orang itu mengurus nya. Akhirnya Arash bisa istirahat dengan baik.
"Kalau ada apa apa, panggil kami diluar ya mbak. Semoga kakaknya segera pulih." ucap kedua orang itu dan keluar dari kamar setelah meletakan Arash diranjang.
Avi menatap Arash yang sedang tertidur. Ia menaikan selimut Arash, karna merasa Arash kedinginan sejak dipantai tadi. Dia berjalan kearah pintu dan menguncinya. Melihat Arash sekilas dan masuk kedalam kamar mandi. Tak berapa lama ia sudah terlihat segar, mungkin selesai membersihkan diri.
"Kak.. kakak..." Dia berjalan kearah sofa duduk disana tetap melihat Arash. Berharap Arash kembali sadar.
"Kenapa masih belum bangun juga sih? bisa bisa aku ga pulang hari ini. Aku juga ga bisa nyetir. Bisa dimarahi mama dan kakak nantinya. Sebaiknya Aku hubungi saja mereka" Dia bergegas mengambil ponselnya.
"Astaga... kenapa mati sih?" Kemudian ia berjalan keluar bertanya pada orang diluar kalau kalau ada charger yang bisa dipinjam. Ternyata nihil. Mereka mengaku tak punya ponsel seperti itu. Tentu saja chargernya beda.
Dengan wajah kusut Avi kembali kekamarnya.
"Sial, aku juga ga hafal nomor mama. Bagaimana ini.?" Dia kembali duduk disofa.
"Aduh... kenapa sampai lupa, pakai ponsel kak Arash saja deh." Dia kembali berdiri, membuka sedikit selimut dan melihat kearah kantong celana Arash.
"Ternyata mati juga... Aku bisa pasrah untuk hari ini. Semoga mereka tidak menduga yang bukan bukan."
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...