Wanita Tersayang

Wanita Tersayang
Dua lamaran


__ADS_3

Aku... tunangan? apakah secepat itu? Walaupun hatiku sangat bahagia. Tapi.. bagaimana dengan mama? Batin Avi


.


.


"....Jadi begitu ma, Arash menyampaikan pesan dari orang tua Arash. Semoga mama dan keluarga bersedia." Setelah mendengar semua penjelasan Arash. Mama hanya bisa mengembangkan senyum diwajahnya. Yang sesungguhnya dirinya sangat bingung dengan permintaan keluarga Arash.


"Nak Arash, nanti mama bilang dulu ya sama keluarga mama yang lain. Beri saja nomor ponsel mama ke Bunda kamu. Biar kami nanti yang akan memutuskan." Terang Mama.


"Jadi benaran kamu mau melamar Avi Ar?" Selidik Ica heran menatap Arash.


"Iya kak, aku ga mau hubungan ini sampai disini. Aku ingin Avi menjadi istriku kelak." jelas Arash dengan senyuman semangat.


"Oo... ga nyangka kakak kalian seserius ini. Kirain masih cinta cinta monyet." perkiraan Ica terhadap adiknya.


"Ga kak, ini bukan cinta monyet, Aku serius dalam hubungan ini." Tegas Arash lagi tak lupa senyuman terukir diwajahnya.


"Kalau kakak sih... terserah kalian. kalau kalian berdua sudah komitmen dan nyaman. Kenapa tidak? Cuma melihat Avi yang masih berumur 16 tahunan, Ga tau deh keluarga kami akan menanggapi seperti apa Ar?" ucap Ica yang sangat masuk akal. Tapi tak menggoyahkan semangat Arash untuk tetap lanjut.


"Jika perlu aku akan membantu mama dan kakak untuk bicara dengan keluarga besar mama. Aku bersedia" jawabnya lagi dengan penuh semangat.


Waah... aku sungguh tak menyangka diumurnya yang masih sangat muda ia sangat bertanggungjawab jawab. Aku jadi terpesona dengan pancaran aura nya... bahkan aura kasihpun kalah. Batin Ica


"Tidak perlu, biar mama yang mengurusnya. Kalian berdoa saja senoga hasilnya nanti baik" mereka semua mengangguk tanda setuju.


"Begini ma, aku ingin mengajak mama dan kakak kakak besok liburan. Sekalian dengan orang tua ku."Arash membuat senyuman terukir dibibir Avi.


"Mendadak ya kak?" tanya Avi penasaran.


"Sedikit heheheh" jawabnya sambil tertawa kecil.


"Waah.. liburan nih. Aku boleh ikutkan?" tanya Deby semangat.

__ADS_1


"Boleh kak, kita semua." Jawab Arash


"Mama kan belum ada persiapan nak Arash, bagaimana kalau lain waktu saja? Ini juga sudah sore sekali" Tanya mama sedikit menolak.


"Mama tinggal ikut saja, Arash yang persiapkan semuanya nanti." Bujuk Arash supaya mama dari pacar nya itu mau pergi liburan.


"Ga pa pa ma.. ikut aja. Maaf ya Arash, kakak ga bisa ikut soalnya aking rewel jika naik mobil lama." Kata Ica


"Aku juga ya, besok jadwal pemeriksaan ke rumah sakit. Mama sama Deby aja yang pergi." tambah Vita juga.


" Kalian ga bisa ikut, mama ga enak hati ninggalin kalian" kata mama cemas meninggalkan anaknya


"Ga pa pa ma, ikut saja.. " Bujuk Ica kemudian.


"Iya ma, ikut saja. Besok aku jemput jam 7 ya ma. Jangan bawa bawa makanan ya ma. Nanti mama repot" Mama dan yang lainya takjub melihat Arash. Mungkin mereka berpikir anak ini sudah sangat dewasa.


Akhirnya mereka sepakat pergi bersama. Walaupun Arash belum bicara apa apa sama orangtuanya. Tapi dia yakin bunda nya akan mau. Apalagi i i bisa dijadikan moment kedekatan antara mama dan bunda. Agar mereka bisa mempercepat pertunangan mereka.


"Aku pamit ya ma.. kak" kata Arash sambil menyalami mama.


Siapa itu? Apa mereka mau kerumah ku? Kenapa seperti orang yang akan menghadiri pesta saja. Mungkin hanya sekedar berputar mobilnya. Batin Avi


Dia kembali masuk kerumah dan menutup pintu. Dengan perasaan bahagia Avi masuk kekamar mamanya. Disana ada Deby dan Vita.


"Hei ..kamu sini..." panggil Deby


"Iya.. " Dia kemudian duduk disebelah mama.


"Apa kamu yakin vi?" Tanya mama serius


"Yakin? buat apa ma?" tanya Avi yang kurang paham pertanyaan mama.


"Buat tunangan sama Arash..." tambah Vita

__ADS_1


"Jika mama mau membantu Avi akan sangat senang.." jawabnya dengan tersenyum.


"Benarkah? hemm... kalian ini bikin mama pusing. Sebenarnya apa alasan Arash mengajakmu bertunangan?" selidik mama yang sejak tadi menatap Avi.


"Assalamualaikum... " Tiba tiba perbincangan mereka berhenti mendengar suara dari arah luar.


"Waalaikumsalaam... " Teriak mereka bersamaan dari dalam rumah.


"Apa Arash balik lagi ya? "Tanya mama mengira itu adalah Arash. Kemudia ia berdiri dan berjalan kedepan membukakan pintu.


"Eeh.. nak Rahman." ternyata bukan Arash seperti yang mama kira.


" Iya buk." Jawab tamunya dari luar rumah. Mama melihat ada lagi orang disamping kiri kanan Rahman.


"Ada apa? mari silahkan masuk" Kemudian Rahman masuk kerumah diiringi oleh sepasang pasangan suami istri .


Mereka memperkenalkan diri, ternyata mereka adalah orang tua Rahman. Mama yang bingung karna kedatangan mereka sangat mendadak. Dan pakaiannya, mama memperhatikan. Dan berkata kata sendiri dalam hatinya.


" Maaf buk, kedatangan kami kemari punya maksud baik. Kami telah mendengar dari Rahman. Kalau ibuk mempunyai anak gadis yang disukai oleh anak saya." Ibu Rahman menjelaskan maksud kedatangan mereka kemari.


Sementara dari balik dinding Avi dan Deby menguping pembicaraan mereka. Avi langsung terlihat marah jelas dengan wajah cemberutnya. Deby malahan menahan tawa nya agar tak terdengar oleh tamu mereka.


Vita yang menyadari itu, mengajak kedua adiknya kedapur. Sambil menyuruh Deby meracik teh.


"Nanti biar aku yang meletakkan minuman ini. Kalian berdua jangan keluar. Tetap disini." Vita memberi Aba aba pada kedua adiknya. Mereka berdua mengangguk senang.


Sementara diruang tamu mama masih menghadapi lamaran untuk anaknya. Mama berjibaku dengan pikirannya sendiri. Senyuman masih mengambang dibibir mama.


"Kami orang tua Rahman ingin melamar Putri ibuk Avi untuk anak kami Rahman, Bagaimana buk?" Tanya ayah Rahman. Sontak mama kaget mendengar nama Avi disebutkan. Walaupun ia sudah tau kalau Rahman menyukai Avi, tapi tak pernah mengira akan secepat ini akan menerima lamaran nya. Sedangkan Avi berhubungan serius dengan Arash.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2