Wanita Tersayang

Wanita Tersayang
Penasaran


__ADS_3

Persiapan pernikahan Deby akan digelar dua hari lagi. Semua sibuk dengan bagian nya masing masing. Tak lupa juga para keluarga dan kerabat yang telah datang. Mereka sangat senang bisa sekalian berlibur disini.


Mama dan bunda menjadi orang nomor satu sibuk disana. Mereka mengawasi para pekerja yang mempersiapkan pernikahan tersebut. Bunda juga merasa bahwa putrinya yang akan menikah. Karna putri dari sahabatnya Lena adalah putrinya juga.


"Jangan terlalu sibuk bund.. jaga juga kesehatan bunda" Avi memberikan segelas juice ketangan bunda.


"Anak bunda yang akan menikah, bagaimana bunda tidak sibuk" katanya nya penuh semangat.


"Dan pertunangan kamu juga" lalu bunda menjauhi Avi.


Aku? bertunangan..


Avi merona dan menunduk sendiri karna malu. Pertunangan mereka telah disetujui oleh kedua pihak keluarga. Beberapa hari yang lalu keluarga Avi datang dan diajak bicara oleh mama, bunda dan ayah Arash. Melalui pertimbangan keluarga mereka akhirnya menemukan kata sepakat.


Beruntungnya proses mereka lalui dengan lancar tanpa adanya kerikil tajam diantara mereka. Semoga tak terjadi sesuatu yang buruk.


Waktu berganti dan haripun berganti. Kini tibalah bagi Deby dan Bolan untuk melangsungkan prosesi pernikahan yang sakral.


Seluruh keluarga terlihat khidmat menyaksikan acara tersebut. Ikatan yang suci baru saja terjalin setelah ijab qabul. Perasaan bahagia menyelimuti semua keluarga.


Semua mengucapkan selamat kepada pasangan pengantin baru ini. Arash melihat bunda dan ayahnya yang sejak tadi sibuk menikmati kebahagiaan pernikahan anak temannya.


"Apakah mereka lupa dengan pertunanganku? Bagaimana ini." gumam Arash berjalan menghampiri bunda. Ia sesikit menarik bunda ketempat yang sepi.


"Bagaimana dengan ku bund?" tanya nya gelisah


"Kamu baik baik saja. Sedang ga sakit kan?" bunda memegang kening anaknya yang tidak sakit.


"Pertunanganku bund..." dia tampak gusar


"Ooo..." Bunda berlalu meninggalkan Arash yang melongo melihat tingkah bunda.


Terdengar lantunan suara merdu dari seorang gadis. Dia menyanyikan sepenuh hati. Arash tidak terlalu menghiraukan nyanyian itu karna dia sedang gelisah dengan pertunangannya yang diambang kehancuran.


Tapi lama lama suara itu seperti seorang yang ia kenal. Ia berbalik melihat kearah suara merdu itu. Mata nya terpana dan terpesona melihat Avi yang tersenyum padanya memetik sebuah gitar. Hatinya bergetar karna kejutan yang diberikan sang kekasih.


Nyanyian lagu kasmaran yang menjadi lagu favorit keduanya. Yang saat itu juga pernah dinyanyikan Arash untuk nya.

__ADS_1


Dia berjalan pelan menghampiri kekasihnya dengan terus menatapnya. Sebuah lagupun berakhir. Arash mengambil sebuah kotak kecil disakunya.


Avi pun berdiri karna dihampiri Arash. Dia mengambil sebuah cincin dengan batu permata. Dengan sedikit berjongkok Arash sodorkan cincin itu ke arah Avi.


"Temani aku hingga aku bisa menghalalkan mu. Maukan? menjadi calon istriku" Semua keluarga melihat tingkah Arash. Avi menutup mulutnya dan tak terasa bulir bulir bening itu jatuh satu persatu membasahi pipi mulusnya.


"Bertunanganlah denganku Avi..." ia masih menunggu


"Please..." ucapnya lirih..


Avi memegang lengan Arash mengajaknya berdiri. Dan mengulurkan tangan kearah Arash supaya ia dapat memasangkan cincin tersebut dijari manis Avi.


Arash sangat bahagia sekali. Ia pasangkan cincin dijari kekasih dan mengeluarkan sebuah cincin lagi untuk dipasangkan juga kejarinya.


Semua keluarga bertepuk tangan atas keberanian Avi. Ia hanya bisa menahan diri karna ingin sekali memeluk gadisnya itu. Karna keluarga besar Avi disana. Ia tak ingin terlihat lancang dimata mereka.


Semua yang direncanakan telah selesai. Beberapa hari kemudian kerabat mereka kembali pulang. kini tinggalah keluarga inti saja. Bahkan Ica dan Vita juga pulang duluan.


Debi diberikan tiket honeymoon oleh ayah Arash. Dia sangat bahagia begitu juga mama yang tak henti hentinya menangis haru. Mengenang kebaikan sahabatnya Arini dan keluarganya.


Avi kini telah mulai bersekolah lagi. Dengan banyaknya kegiatan karna dia anggota OSIS. Bayang Arash selalu terlintas saat memasuki ruang OSIS tersebut.


"Vi, itu dering ponsel kamu kan?" tanya Anin yang heran melihat temannya bingung bahkan sampai tak mendengar dering ponselnya.


"Eh iyakah?" Avi mengambil ponselnya didalam tas. Terlihat panggilan atas nama Arash.


"Assalamualaikum kak.."


"..."


"Baiklah" Dia menutup ponselnya. Bersiap siap keluar.


"Kemana?" tanya Anin.


"Teman teman aku minta maaf ya. Aku izin rapat hari ini. Biar Anin yang gantikan aku sebentar. Aku ada keperluan mendadak." Kemudia ia berlari keluar ruangan mencari keberadaan Arash yang katanya sudah ada disekolah.


"Kak Arash" Avi sangat senang melihat Arash lagi setelah 2 hari tak bertemu. Karna Arash pergi kekampung ibunya untuk ikut memakamkan neneknya.

__ADS_1


"Hai sayang... kamu sudah pulang?" Avi mengangguk.


"Aku antar.. ayo" Ia menarik tangan Avi lembut mengajaknya naik kemobil Arash.


"Bagaimana pemakaman nenek?"


"Alhamdulillah lancar. Kamu apa kabar?" Ia membelai kepala Avi yang ditutupi hijab.


"Seperti yang kakak lihat. Aku juga kangen kak Arash." ia menunduk malu mengatakan rasa rindunya pada Arash.


"Aku lebih kangen kamu." Arash menepikan mobilnya sebentar. Lalu berbalik kearah Avi dan mengecup bibir ranun yang manis itu. Mendapat senyuman dari Avi . Dia menyatukan lagi kedua bibir itu dan berselancar didalamnya. Ia menjauhkan wajahnya melihat Avi dan mengecup keningnya.


"Rindu ku masih berat, tapi sekarang sedikit berkurang..." Arash melajukan mobilnya lagi.


"Kak.. jadi dimana kak Arash akan kuliah?" Avi menatap Arash yang sedang fokus mengemudi. Tak menjawab pertanyaan Avi ia meluncurkan mobilnya kesebuah cafe. agar nyaman berbicara disana. Sebenarnya ini juga tujuan Arash menemui Avi.


Setelah memesan menu Arash tersenyum melihat Avi yang semakin hari semakin bertambah cantik menurutnya.


"Kak, jawab dong"


"Lebih baik kita makan dulu. Nanti aku jelaskan semuanya.


dijawab dengan anggukan oleh Avi yang sebenarnya dia masih penasaran dengan Arash.


Pesanan datang mereka menikmati makan siang bersama. Avi cepat menghabiskan makanannya agar ia segera dapat mendengar penjelasan Arash.


"Kak... jangan buat aku mati penasaran" desak Avi


"Aku sudah memilih kuliah di kota J. Jadi..." Belum sempat Arash menyelesaikan ucapan nya. Avi sudah menangis.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2