Wanita Tersayang

Wanita Tersayang
Bertemu Mama


__ADS_3

"Aah... jantungku. kau berdetak sangat kencang. Aku tak sanggup menahannya. Maafkan aku sudah menciumnya." Denis duduk ditepi ranjangnya dambil memegang dada tempat dimana jantungnya berdetak tak beraturan.


"Avi.. apa kamu benar benar menyukaiku? Bagaimana jika aku hanya tempat pelariannya saja? ah tidak mungkin. Sudah jelas tadi dia menyuruhku untuk tak menyerah.. apa itu artinya ... kita sudah jadian?" Senyuman tak hilang dari bibir Denis. Dia merasa telah mendapatkan gadis impiannya.


"Ini baru dimulai. Semoga aku tak tersesat nantinya..." Denis terkekeh sendiri mengingat ciuman langkanya tadi bersama Avi.


.


.


.


Mama bersama Ica dan Deby telah datang ketempat janjian mereka. Disebuah restoran mewah. Mereka disambut dan diantarkan ketempat khusus yang sudah dipesan Denis.


Sementara Avi memperhatikan dari ruangan lain kedatangan keluarganya. Ia merasa gugup untuk bertemu dan menjelaskan kepada keluarganya.


"Pergilah, aku akan menunggu disini" Avi melihat Denis sebentar lalu melihat lagi kearah mama Lena.


"Apa kakak yakin tidak ikut kesana bertemu mereka?"


"Aku disini saja, jangan sampai ibumu tau. Bisa mati aku nanti. Selesaikan pembicaraan kalian. Temui lagi aku disini nanti" Jelas Denis.


"Jangan coba coba meninggalkanku" Avi berbalik melihat Denis. Pria itu mengangguk.


"Seumur hidupku tak ada niat untuk meninggalkanmu Vi" Gumam Denis menatap punggung gadis yang dicintainya mulai menjauh dan mendekat ke tempat keluarganya berada.


"Aku mencintai mu Avi" senyuman terukir sempurna diwajah tampan itu.


.


.


"Sayang... " Mama berdiri dan menghampiri Avi yang berjalan kearah mereka. Memeluk putrinya yang sangat ia rindukan.


"Maafkan Avi maa.... kakak.." Tangisan nya pecah dipelukan sang ibu.

__ADS_1


"Ayo kita pulang" Ajak Ica. Avi melonggarkan pelukannya dari mama. Mereka duduk dan saling menatap.


"Avi ga bisa pulang kak, Arash pasti mencari disana." Ia menunduk sambil menggenggam tangan mama Lena.


"Ceritakan kepada kami ada apa sebenarnya?" Deby mulai nampak emosi. Dia berpikir Arash telah benar benar menyakiti adiknya.


Avi mulai menceritakan semuanya. Mama nampak senang karna ternyata tidak terjadi apa apa yang sangat ditakutkannya.


"Mama lega ternyata kamu bisa menjaga diri" mama mengelus rambut panjang putri nya.


"Dimana kamu selama ini?" selidik Ica menatap adiknya.


"Bersama seorang teman, Dia sangat baik padaku"


"Dia menyediakan ini semua?" Tanya Deby. Avi mengangguk melihat kearah mama. Menatap wajah wanita paruh baya itu karna sangat merindukanya.


"Sebenarnya.. Avi ingin menjelaskan sesuatu pada mama dan kakak" Dia menjeda sebentar kalimatnya. Menghela nafasnya. Mama, Ica, Deby menunggu kelanjutan kalimat Avi.


"Aku akan menjauh dari tempat tinggal kita. Menyelesaikan sekolah dikota lain ma, Setelah aku mendapatkan pekerjaan maka aku akan pulang"


"Hanya beberapa tahun kak. Ma... kumohon"


"Kenapa bisa seperti ini?" mama menangis menundukan wajahnya.


"Ma, maafkan Avi ma. Avi benar benar sydah muak dengan cara cara Arash. Dia terlalu memikirkan keinginannya. Tanpa bertanya dulu padaku. Aku rasa sudah tak ada cinta untuknya."


"Apa kamu yakin akan melakukan ini?" Ica bertanya memegang pundak Avi


"Iya kak, Avi yakin. Avi juga ga sanggup berpisah dengan kalian, terlebih mama...," Dia kembali memeluk mama.


"Kumohon... rahasiakan ini. Biar saja mereka menganggap Avi benar benar hilang." Dia menangis tersedu sedu dipelukan mama. Begitu juga dengan kedua kakaknya.


"Bagi kakak semua terserah pada mu. Ini keputusanmu untuk hidupmu Vi. Kamu sudah dewasa. Semoga kamu tak menyesal dengan setiap keputusanmu" Ica pasrah dengan keputusan adiknya. Walaupun dihatinya merasa berat berpisah jauh dengan adik kesayangannya.


"Ma,.. jawablah Avi.. katakan sesuatu ma. Jangan menangis" Avi menatap mama yang sejak tadi menatapnya dengan wajah yang sedih.

__ADS_1


"Sayang, kelak juga kamu akan berpisah dengan mama. Jika kamu dewasa nanti kamu juga akan ikut suamimu. Mama percaya dengan ucapanmu. Jagalah dirimu baik baik nak, mama selalu mendoakanmu." Mereka kembali berpelukan.


"Terima kasih ma. Avi janji tidak akan bertindak diluar batas kewajaran. Jika nanti Avi sudah bertemu dengan orang yang tepat. Aku takan maju sebelum mendapat restu dari mama."


"Jaga dirimu. Ingat ayah kita. Jangan sakiti dia dengn perbuatan burukmu. Bersikaplah baik, dan gunakan kembali hijabmu. Itu skan membantu ayah disana." Deby memeluk adiknya dengan memberi beberapa nasehat.


Setelah meyakinkan keluarganya. Mereka menikmati makan malam yang telah disiapkan Denis melalui restoran itu. Sedikit bersenda gurau untuk melepas rindu.


Saatnya mereka berpisah, mama memeluk tubuh putrinya erat seakan tak rela melepaskan Avi sendirian.


Dengan berat hati mama dan kakaknya masuk kemobil yang tadi menjemput mereka.


Avi mematung berdiri melihat mobil yang ditumpangi keluarganya lama lama menghilang. Tangisannya pecah saat seseorang memeluknya. Denis mendekati Avi saat mobil itu mulai menjauh. Avi melepaskan seluruh tangis yang ditahannya sejak pertemuan tadi.


"Kamu lega sekarang hmm" tanya Denis melihat wajh Avi. Gadis itu mengangguk mencoba tersenyum melihat pria tampan didepannya.


"Bagus. Sekarang temani aku makan, aku sangat lapar"


"Apa kakak belum makan?"


"Belum, aku memperhatikanmu dari tadi" Denis berjalan kembali kedalam restoran, dan memesan makanan.


"Makan yang banyak... Terima kasih kak.." Avi menatap Denis dengan wajah sembabnya karna menangis.


"Sebaiknya kamu cuci muka Qurtararo... Nanti ***** makanku hilang" Avi tertawa mendengar ucapan Denis.


"Baiklah Marquez..." Dia berjalan kearah toilet. Denis terkekeh kecil mendengar jawaban Avi.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2