Wanita Tersayang

Wanita Tersayang
Ingin memelukmu


__ADS_3

"Arash, Dia didalam" Denis menahan amarah didepan wanitanya. Berjalan kearah yang ditunjuk Avi.


"Apa yang terjadi dengannya?" Denis heran melihat pria itu terkapar disudut ruangan.


"Aku memukulnya dengan ini" Avi menampakan laptop yang sedikit rusak pada Denis. Dia terkekeh melihat Avi yang tersenyum padanya.


"Dari mana ia tahu kamu disini?"


"Entahlah, dia tak seperti dirinya."


"Apa dia menyakiti mu?" Denis memperhatikan Avi dari atas hingga bawah.


"Belum, aku sudah dulu memukulnya."


"Hanya dengan laptop bagaimana ia bisa pingsan?"


"Mungkin dia sedang lelah atau sakit?"


"Wajah nya terlihat stress... mungkin Dia sangat merindukanmu" Denis menatap Avi mencari ekspresinya.


"Itu haknya, jika saja dia tak....


Ah sudah lah. Aku ga mau membahas hal itu lagi" Dia pergi kearah sofa. Menyalakan televisi yang baru dimatikannya tadi.


"Maaf... aku hanya memastikan perasaanmu" Denis mendekati Avi dan duduk disebelahnya.


"Apa kita harus membawanya istirahat dikamar?" tanya Denis langsung mendapat tatapan tajam dari Avi.


"Biarkan saja disana. Toh ada karpet dan aku sudah memberikannya bantal. itu sudah cukup baik"


"Apa kamu benar membencinya?"


"Apa Uda mau aku bilang aku masih mencintainya?"


"Sayang jangan menjawab pertanyaan ku dengan sebuah pertanyaan juga."


" Aku mau dia pergi dari sini. Bisakah Uda menyuruh seseorang kesini untuk membawanya pergi?"


"Tidak perlu.. aku akan pergi sendiri" Arash tiba tiba bangun dan mengagetkanmereka berdua. Denis cepat cepat menghampiri Arash. Sementara Avi berdiri didekat sofa.

__ADS_1


"Apa kau sudah membaik?" tanya Denis membantu pria itu berdiri. Arash melihat sekilas dan mengangguk pada Denis.


"Aku ingin bicara dengan Avi" pinta Arash melihat kearah Denis.


"Semua terserah Avi. Aku tak masalah. Lebih baik selesaikan masalah kalian beberapa tahun yang lalu. Bicara kan baik baik. Aku akan mengawasi" Kata Denis sambil melihat kearah Avi dan juga Arash.


"Terimakasih Rahman.." Ucap Arash yang sedikit lega dengan hadirnya pria itu.


"Dia bukan Rahman, Dia Denis" Jawab Avi menegaskan. Arash hanya diam terus menatap Avi dalam dalam.


"Bicaralah, aku akan disini mengawasi. Aku takan bersuara. Tapi tetap jaga kesopanan mu Arash. Sekarang dia kekasihku"


Arash tak percaya mendengar ucapan Denis. Avi telah mencintai lelaki lain, sedangkan dia masih mencari dan berharap Avi masih menunggunya. Semuanya sia sia sekarang.


Arash duduk tepat didepan avi. Dengan perasaan penuh kecewa. Denis duduk dimeja makan. Pandangannya tak lepas dari mereka berdua.


"Avi.. kenapa saat itu kamu lari sayang"


"Jangan panggil aku sayang, kekasihku melihatmu dari sana."


"Baiklah ,, maaf"


"Aku tak suka dengan cara mu. Itu membuatku benci dan muak" Avi sama sekali tak melihat Arash. Dia membuang pandangannya.


"Aku mau kamu pergi sekarang juga. Jangan pernah kesini lagi. Atau aku akan pindah!" Avi mempertegas ucapannya.


"Aku terima kamu ga mau lagi bersama ku. Aku sudah sangat senang bisa bertemu denganmu. Sudah tak ada lagi harapan buat kita bersama." Arash mulai pasrah.


Sepasang mata itu selalu menatap kearah mereka secara bergantian. Mendengar perbincangan mereka dengan seksama.


"Baguslah, terimakasih untuk semuanya. Salam sayang dariku untuk Bunda Arini dan Ayah."


" Bisakah kita tetap berteman Vi?"


" Tergantung dari sikapmu. Belajarlah sedikit dewasa. Raih harapan dan cita citamu yang tertunda beberapa tahun belakangan."


"Apa kamu masih membenci ku?"


"Aku tak membencimu hanya tak suka sikapmu."

__ADS_1


"Terimakasih. Aku pamit pulang" Arash berdiri masih merasakan sakit ditengkuknya. Denis menghampiri mereka merasa semua telah selesai.


"Rahman.."


"Denis..!" kata Avi menegaskan.


"Denis. Terimakasih telah menjaga Avi sampai saat ini. Dan selamat atas rencana kalian. Terimakasih juga kau sudah memberikan kesempatan untuk ku bicara dengan Avi."


Brugh


Tiba tiba Arash jatuh dihadapan mereka. Mereka saling menatap heran dengan keadaan Arash sekarang.


"Dia pingsan lagi. Apa karna aku memukulnya sangat keras tadi?" Avi sedikit cemas.


"Sebaiknya kita bawa kerumah sakit saja"


"Jangan jangan disini saja, aku ga mau keluarganya murka karna salah paham padaku" tolak Avi. Mereka lantas memboyong Arash kekamar. menidurkannya serta menyelimutinya.


"Uda harus tidur disini."


"Tentu saja, aku takan membiarkan kekasihku berduaan dengan lelaki lain."


Mereka berjalan keluar kamar yang dihuni Avi.


"Kita mengalah tidur diluar demi pria itu. Menyebalkan sekali..." Avi duduk disebelah Denis dengan wajah cemberut.


"Baguslah. Ayo tidur bersama..." Ajak Denis dengan senyuman menggodanya.


"Kita belum halal... aku disini. Uda disana saja. Kita tetap jaga jarak. Uda mengerti?"


" Tak bisa kah kali ini saja sayang... aku ingin memelukmu.. menciummu .."


"Stop.. stop.. jangan terus kalimat itu. Akan sangat menggelikan."


"Ayolah sayang...." Denis mendekati Avi. Begitu senang menggoda gadis itu. Dia bahkan terkekeh karna melihat mimik wajah Avi.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung..


__ADS_2