
"Denis... terimakasih nak.. Kamu sangat berjiwa besar." Bunda Arini tersenyum ke arah Denis.
"Aku hanya ingin membuktikan pada Arash tante, tak semua hal bisa berjalan sesuai pikiran dan kemauan nya."
Denis tersenyum kecut melihat keluarga itu. Ia merasa mereka patut dinobatkan dalam keluarga tak tau malu. Masih bisa nya berterima kasih disaat mereka tau siapa dirinya bagi Avi.
"Apa maksud mu Denis? Kau menertawai ku?"
"Sudahlah Arash. . Semua orang tau betapa tingginya ego mu. Ini hanya kebahagian bagi mu. Bukan berarti orang lain juga bahagia."
Arash menatap tajam Denis yang duduk disebelahnya. Seperti hendak memakan hidup hidup pria ini.
"Sekarang kak Arash pulanglah. Besok pagi jemput aku disini."
Arash tersenyum mendengar Avi menyuruh menjemputnya. Sebuah kesempatan terbuka lebar didepannya.
"Terima kasih Vi... aku berjanji akan berlaku baik padamu"
"Aku hanya ingin menyelesaikan kesepakatan ini. Jadi jangan terlalu berharap" jawab Avi jutek.
"Terserah apa pendapatmu. Aku takan menyia nyiakan waktu ku" Arash tampak semangat.
Mereka pamit dan meninggalkan keluarga itu. Sementara Denis masih diam duduk dengan tenang diruang tamu. Memikirkan sifat Arash yang sangat memaksa. Terlihat sesikit kekanak kanakan.
"Uda... apa kamu yakin dengan semua ini?"
Avi bertanya ketika mereka hanya tinggal berdua diruang tamu.
"Ya.. karna aku percaya padamu... kamu takan mengecewakan ku bukan sayang?"
"Bagaimana jika dia...."
"Jangan berandai andai dengan hal yang belum kamu perbuat. Karna itu bisa saja menjadi sebuah rencana dan terlaksana.
__ADS_1
Aku hanya ingin membantumu, agar lepas dari pria berkepala batu itu."
"Baiklah... aku janji takan ada yang bisa menggoyahkan keyakinan hati ku."
"Kabari aku besok kemana kamu pergi vi,, aku akan mengawasi mu dari jauh. Tak kan mungkin kamu benar benar kubiarkan seorang diri bersama Arash. Pria itu bisa saja jadi lupa daratan saat bersama mu."
"Baiklah sayang... terima kasih .."
"Aku mencintaimu..."
"Aku lebih... mencintaimu.."
Mereka tertawa diruang tamu. Mama yang melihat hanya bisa geleng geleng kepala. Heran dengan pikiran aepasang kekasih itu.
"Buk... ayo siap siap.. kita akan bersenang senang hari ini" tiba tiba Denis mengajak mama.
"Semalam kan sudah Denis..."
"Yang sekarang belum buk... ajak kakak kakak juga."
.
.
"Arash kenapa kamu berubah pikiran? Ayah sudah menyiapkan semua dengan baik. Sayang sekali itu tak terpakai..."
Ayah menampakan wajah kecewa nya. Sementara Arash masih fokus menyetir.
"Maafkan aku yah, aku pikir lebih baik aku jujur pada Avi. Aku takan menggunakan cara licik lagi. Itu semakin membuatnya membenci ku"
Arash menghela nafasnya. Memukul pelan stir mobilnya. Menoleh pada Ayah yang duduk disampingnya.
"Bunda mendukungmu kali ini sayang, sangat tak bagus jika kamu memiliki nya dengan penuh dusta."
__ADS_1
"Makasi bun... semoga kali ini berhasil. Aku tak ingin melepasnya."
Arash meyakinkan hatinya untuk melakukan yang terbaik pada Avi. Sebelumnya ia berencana untuk mengaku sebagai pasien kanker otak stadium tiga pada Avi dan keluarganya.
Tapi niat itu ia urungkan setelah melihat Avi dan keluarganya yang baik menerimanya. Bisa saja nanti Tuhan akan mengabulkan ide gilanya itu. Tentu saja itu membuat Arash sedikit takut.
Tak sabar ia menanti hari esok membuktikan kembali ketulusannya pada Avi. Mempergunakan waktu 24 jam nya dengan sangat baik. Ia tak harus menghabiskan waktu itu dalam satu hari bukan.
Tentu saja, Arash akan memperbanyak hari dengan waktu yang sedikit. Agar lebih sering bertemu dengan Avi. Arash memang tak pernah lepas dengan beribu ide dikepalanya. Tapi kali ini dengan cara yang baik.
"Bunda tetap berharap Avi yang akan jadi menantu bunda Ar... tolong penuhi keinginan bunda sayang"
Bunda meminta sesuatu yang sangat Arash inginkan. Tentu saja dia akan berusaha lebih kali ini.
"Tentu saja bunda... perintahmu adalah keinginan ku." Jawab Arasgmh dengan senang hati.
"Tapi ingat Arash, jika semua yang kamu lakukan tak membuat Avi menerima mu. Kamu harus ikhlas nak, carilah wanita yang lebih tepat untukmu."
Kata kata bunda membuat Arash terdiam. Dia menatap wanita yang sangat ia cintai diseluruh dunia.
Membuatnya sedikit berpikir, mengambil resiko atas segala kemungkinan. Termasuk kemungkinan yang buruk. Sebab tadi dia hanya memikirkan keberhasilan nya.
"Kita lihat saja nanti bun..."
"Kamu jangan sampai melakukan hal hal yang tidak pantas. Mengerti Arash..."
"Iya bun... aku mengerti"
Arash melajukan mobilnya kencang menuju kediaman mereka.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung..