
"Sayang maafkan aku"
"Untuk apa?"
"Untuk hal tadi, aku benar ben...."
"Aku sudah melupakannya" Avi mengalihkan pandangannya dari Denis.
"Wajahmu merona" Denis tersenyum simpul.
"Jangan membahas itu lagi Uda."
"Kamu malu?"
"Tentu saja aku malu"
"Baiklah, aku akan diam" Denis melanjutkan mengemudi.
Avi sudah tak sabar ingin berjumpa dengan keluarga yang bertahun tahun tak dijumpai nya.
Mereka berhenti didepan warung mama. Avi turun memperhatikan sekelilingnya. Tak ada yang berubah. Semua masih terlihat sama saat ia pergi dari sana.
Lalu menoleh kearah rumahnya, yang sekarang menjadi besar, ada pennambahan bangunan disisi kanannya. Dan rumah itu juga bertingkat.
Mama yang sibuk menyiapkan sarapan untuk para pembelinya. Tidak melihat siapa yang datang. Ia masih mengira jika itu adalah pembeli.
"Assalamualaikum buk.." Denis menyapa mama Lena yang tengah sibuk dengan dua piring ditangannya.
"Waalaikumsalaam .. pesan apa nak?" Tanpa menoleh mama bertanya pada sipemilik suara.
Avi terpaku memperhatikan sosok yang sangat ia rindukan. Melihat mama yang mulai menampak an tanda penuaan nya.
"Pesan ..."
"Ma...." Avi memotong ucapan Denis yang berdiri disebelahnya. Airmata nya sudah memenuhi ruang pipinya. Pembeli yang sarapan disana sesekali melihat Avi dan mama Lena. Karna mama tak mendengar suara Avi memanggilnya.
"Assalamualaikum ma.. aku pulang..." suara nya bergetar menahan kerinduan yang mendalam.
"Waalaikumsalaam.... kamu sudah..." mama termenung melihat piring yang dia pegang. Dia menjawab salam itu seperti mengingatkan akan suatu hal.
Mama segera menoleh kearah suara.
__ADS_1
"Sayang... kamu sudah pulang?"
Mama keluar dari warung meletakan kembali piring ditangannya. Bergegas mencuci tangannya. Mendekati Avi, gadis kecil yang sangat ia rindukan. Seketika Avi memeluk mama menumpahkan air mata yang lebih banyak lagi.
"Maafkan Avi maa... maafkan Avi..."
"Iya sayang... yang penting kamu sudah pulang..."
"Avi rindu mama... Avi sangat rindu"
"Mama terlebih rindu sayang... ayo kita kerumah."
"Avi bersama seseorang ma..." dia menarik tangan Denis. Mama menatap wajah tampan itu.
"Nak Rahman?"
"Bukan ma... dia Denis" Avi menjelaskan.
"Ayo kerumah.!"
"Ica... vita.. Deby... keluar sebentar, ad yang mencari" mama memeluk Avi sambil tirun kerumahnya.
Para kakak nya keluar melihat karna teriakan mama tadi.
"Avi?" Vita langsung memeluk adik kesayangan mereka.
"Jangan diluar. Masuk lah. Sebentar mama ke warung dulu" mama bergegas kewarung. Mempercayakan segala sesuatu nya pada Yeni. Orang yang menolong mama diwarung.
Setelah itu ia kembali ke rumah. Tak sabar mendengar cerita mereka. Melepas rindu dengan putri bungsunya yang sekarang telah dewasa.
"Kamu kemana saja sayang?" Ica memeluk Avi setelah didalam rumah.
"Mana ponakan ku kak?"
"Aking sudah besar sekarang. Dia sudah bersekolah ditaman kanak kanak. Lulu sudah kelas 4 sekolah dasar.
Kalau anak Vita masih 5 tahun, sudah menjadi gadis cantik yang centil. Adik cantiknya dikamar masih berumur 8 bulan.
Kalau Deby punya seorang tentara, kamu bisa lihat sendiri kan" Ica melihat kearah Deby. Memberikan informasi seputar ponakan Avi.
Dia duduk dan air mata itu terus mengalir. Menatap satu persatu perubahan pada anggota keluarganya.
__ADS_1
"Kamu mau kekamar mu?" Tanya Vita menunjukkan kamar lama Avi.
Avi berjalan membuka pintu kamarnya. Lagi lagi ia menitikan air mata nya.
"Semua masih sama... tak ada yang berubah."
"Benar , bahkan seragam sekolah mu masih setia bergantungan didalam." Tunjuk Vita kearah lemari Avi.
Ia membukanya.. memperhatikan satu persatu baju yang tak sempat ia bawa. Masih setia disana menunggu kehadirannya.
"Avi... sini sayang" mama memanggilnya
"Ya ma?"
"Bagaimana kamu bisa bersama Rahman?" Mama masih terbiasa memanggil Denis dengan Rahman. Kakaknya duduk mendengar cerita mereka.
"Sebenarnya Uda Denis selama ini yang membantu Avi. Dalam segala hal. Termasuk pertemuan kita terakhir direstoran itu."
"Ooh... jadi kamu ikut andil juga" Deby menatap kearah Denis.
"Kami sudah lama perhubungan ma, sebenarnya ini terlalu cepat untuk Avi bercerita. Avi ingin nantinya Uda Denis yang menjadi calon imam Avi ma."
Mereka saling berpandangan.
"Rahman atau Denis... benar kah itu?" Tanya Ica tiba tiba kearah Denis.
"Benar kak, aku ingin menghalalkan Avi. Adik kakak" Denis mantap menjawab.
"Jadi kalian kesini hanya ingin meminta restu mama?" Tanya Deby lagi.
"Bukan kak, Avi ingin kembali kesini. Melepas rindu dengan mama dan kakak"
"Bukan kah itu lebih baik dijelaskan, agar tak ada yang salah paham dengan kalian berdua" tambah Vita.
"Bagaimana dengan Arash?" Tanya mama. Membuat Avi menundukkan kepalanya karna tak senang hati mendengar nama tersebut diucapkan dihari bahagia ini.
"Aku sudah lama melupakannya. Ku mohon jangan ada nama itu hari ini" Avi menatap satu persatu mata mereka.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...