
"Maaf ma, kak. Arash telat mengantar Avi. Karna tadi kami main ketepi pantai. Dan tak terasa waktu cepat berjalan, karna Avi asyik mencari kerang."
Penjelasan Arash sedikit masuk akal. Karna mereka semua tau kalau Avi sudah lama tak main kepantai. Karna itu kesukaan mereka ketika kepantai suka berlama lama disana..
Mama dan Ica sedikit tertawa... Bahkan Avi dan Arash ikut bingung melihat kedua wanita didepan nya.
"Maaf nak Arash, Avi jika sudah kepantai bisa sampai lupa pulang. Karna semenjak kecil Papa nya selalu membawa kami kepantai hampir setiap minggu." Jelas mama karna mereka sepertinya kirang paham.
"Iya dek, mungkin Avi teringat kenangan saat bersama papa.. makanya dia mengajakmu kepantai." tambah Ica kepada Arash. Itu pun membuat Avi malu.
Kalau saja ku tau.. vi. Kamu sangat menyukai pantai.. Batin Arash
"Kapan kapan kita main kepantai ya ma, ebi juga kangen kesana." ajak Deby manja menggandeng tangan mamanya.
"Insya Allah ya.." Jawab mama.
"Tapi Arash merasa ga enak hati ma.. karna sudah kemalaman.
lain kali boleh kita berangkat bersama.. ya kak?" icap Arash sambil menoleh ke mama dan kakak kakak Avi.
Mereka hanya tertawa kecil..
Syukurlah.. ternyata keluarga nya dangat baik. batin Arash
"Oiya ma.. tadi avi beli cumi bakar, enak sekali." sambil meletakkan makanan yang dibelinya tadi keatas meja.
"Nanti mama coba ya."
"Baiklah ma, kak. Sebaiknya Arash segera pulang karena besok harus kembali sekolah. Avi juga harus istirahat." Sambil berdiri Arash menyalami tangan mama Lena yang ikit berdiri.
"Hati hati dijalan ya."
"Makasi ma, sudah izinin Arash bawa Avi"
"Lain kali juga boleh.." goda Deby sambil melirik Avi . Dan membuat Arash tertawa kecil.
"Baiklah kak, aku pamit. Selamat malam... Assalamualaikum"
"Waalaikumsalaam..." mereka serentak menjawab salam Arash.
Setelah mobil Arash pergi.. Deby menarik Avi kekamarnya. Dia melihat adiknya dari atas sampai bawah dan memutar mutar tubuh Avi yang pasrah sejak tadi dipegang kakaknya.
__ADS_1
"Kamu kenapa bi.. kasihan adikmu kecapean lama dimobil. Lagian bsk dia juga sekolah. jangan ganggu dia" Kata mama berdiri didepan pintu kamar Deby.
"Periksa aja ma, manatau ada yang kurang, heheheh"
"Apaan sih kakak.. aku masih lengkap semua. Ga ada yang kurang. Cuma ginjal aja tinggal satu setengah...ahahahha" lalu ia berlari kekamarnya.
Deby dan mama hanya bisa tersenyum melihat tingkah Avi. Mereka sesikit lega atas keselamatan Avi sampai dirumah.
"Sekarang dia sudah besar saja ya ma, ga kecil seperti dulu lagi. " ucap Deby pada mama yang masih berdiri didepan kamar.
"Kamu juga... kapan nikah?" goda Vita dari luar kamar Deby dan mengedip ngedipkan matanya kearah mama.
"Kalian ini... lebih kita sekarang tidur, calon ibu muda juga. Besok ada cerita baru dipagi hari.. semoga semua dilancarkan." kata mama Lena.
"Aamiin, malam mama..." jawab ketiga anaknya kompak.
.
.
.
Sementara dikamar Arash yang jauh berbeda dengan ruangan dirumah Avi. Kamar Arash terlihat agak luas. Disudut sofanya ia masih senyum senyum sendiri mengingat hal dipantai tadi.
Seketika wajahnya menjadi panas. Bagaimana tidak itu juga pengalaman pertama bagi Arash.
Dia senang sudah melabuhkan hatinya ditempat yang tepat. Merasa takjub karena keluarga Avi ternyata menerimanya dengan tangan terbuka.
Bahkan saat mereka pulang telat pun Mama Lena tidak marah. Bahkan ia sempat bercerita. Berbanding terbalik dengan keluarga Arash. Dia anak tinggal dari keluarga kaya. Ayahnya yang selalu sibuk bekerja. Bahkan kadang tak punya waktu untuk dirinya.
Tapi ia sedikit mengerti, berkat usaha ayahnya ia dan bundanya bisa hidup senang dan nyaman seperti sekarang ini.
Avi.. avi... rasanya aku ingin cepat lulus kuliah saja. Bodohnya aku bahkan SMA pun aku belum ujian.. ahahah.
Aku tak sabar untuk bisa selalu bersamamu. Avi.. sayangku.. bidadari manisku.
Batin Arash
Dia bahkan hampir tertidur diatas sofa. Bahkan tidak sadar jika bundanya yang berdiri didepan kamar Arash sudah melihat tingkah nya sejak tadi.
"Kenapa tidur disana sayang?" Bunda menghampiri Arash dan duduk disampingnya. Arash pun membetulkan duduknya dekat bunda.
__ADS_1
"Iya bun, mau baru tidur. Tadi belajar sedikit. Bunda belum tidur? Apa ayahku belum pulang?"
" Kamu bertanya seperti kereta api sih..? Ayah sudah pulang. masih diruang kerjanya. Makanya bunda mampir kesini.. eeh malah liat kamu senyum senyum sendiri." Jelas bunda sambil menyenggol lengan Arash.
"Bunda..." Arash memeluk bundanya.
"Bunda aku sangat bahagia hari ini." Kemudian bunda melepaskan pelukan Arash. Menatap putra nya lekat lekat sambil tersenyum.
"Bahagia? kenapa? Apa ada yang bunda tidak ketahui?" Tanya bunda sambil mencubit hidung mancung Arash.
"Tadi Aku mengajak Avi berkencan."
"Avi? bunda belum kenal ya?"
"Nanti aku bawa kesini. Sekarang lebih baik bunda tidur karna ayah pasti sudah menunggu.. " kata Arash sambil mengajak bundanya keluar kamar .
"Ceritanya bagaimana?" bunda masih penasaran.
"Kapan kapan Arash cerita ya... love u bunda.. muah" Ia mencium pipi bunda dan memeluknya sejenak.
Bunda Arini berjalan kekamarnya sambil menggeleng gelengkan kepalanya. Dari raut wajahnya jelas sekali bunda masih penasaran tentang gadis yang bernama Avi, bahkan sampai membuat anak nya senyum senyum sendiri.
.
.
.
Disekolah
Teng teng teng...
"Gawat aku telat...."
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1