Wanita Tersayang

Wanita Tersayang
Lari


__ADS_3

"Apa? menikah? secepat itu?" Anin sangat terkejut mendengar cerita Avi mengenai hubungannya dengan Arash. Dia menggeleng gelengkan kepalanya menatap Avi.


"Ya begitulah kira kira.. dia sudah menghancurkan masa mudaku." Avi terlihat sangat kesal dengan Arash.


"Tapi kalian benar benar belum melakukannya bukan?" selidik Anin.


"Tidak, sama sekali tidak. Aku bisa menjaminnya."


Anin mengangguk senang.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan vi?"


"Entahlah, saat ini aku hanya ingin menghindar saja dari semua orang" Avi memijit kepalanya yang tidak sakit.


"Lalu kamu pikir, dengan menghindar masalah akan selesai?" Tanya sahabatnya membuat Avi sedikit mendongak kearah Anin.


"Tetap akan berjalan seperti yang mereka mau" Ia mulai pasrah dengan semua.


"Aku sangat benci dengan Arash"


"Kebencian mu hanya Untuk saat ini saja. Aku bisa tau cinta mu pada Arash sangat dalam. Sedalam lautan seperti lagunya Ahmad dani ft Agnes monica" Anin sedikit bergurau. gurauan Anin sukses membuat Avi tertawa kecil.


"Tapi... dia tak bisa seenak jidatnya saja. Mengatur segala hal sehingga aku tak bisa mencium rencana nakalnya." Anin memeluk temannya hangat.


"Semua akan baik baik saja sayang.. jangan terlalu dipikirkan. Lebih baik kamu jalani saja sesuai kehendak orang tua kalian. Jika orang tua sudah memberikan jalan yang terbaik berarti itu pasti baik untuk kalian berdua. Lagian kalian juga saling mencintai" Anin memberi semangat pada sahabatnya yang sebentar lagi akan melepas masa lajangnya.


"Aku tetap rmtak setuju, mereka menikahkan ku karna mengira aku sudah melakukan itu dengan Arash. Alasan nya yang buat aku sangat sangat tak terima nin. Aku terdengar sangat buruk" Avi meneteskan airmatanya. Mencurahkan isihatinya pada sahabatnya.


"Atau lebih baik hubungi Arash ajak bicara baik baik. Kalau ga suruh dia kerumah ku saja. Ayah dan bunda nginap dirumah nenek. Kalian akan leluasa bicara." Avi memikirkan saran Anin yang memang benar menurutnya.


"Baiklah akan ku hubungi dia. Makasi ya Nin" Dia mengambil ponsel nya diatas nakas. Mencari nama kekasihnya. Memberitahukan bahwa ia menunggu dirumah Anin.


Tak butuh waktu lama Arash yang sudah sangat rindu bertemu Avi pun datang dalam waktu yang singkat.


"Kak Arash sudah datang?" Sapa Anin membuka pintu


"Apa Avi ada?"


"Ada, masuklah lah dulu. akan ku panggilkan" Anin meninggalkan Arash yang duduk diruang tamu. Dia meghampiri Avi yang sedang membuat minum hangat untuk Arash.


"Dia diruang tamu. Bicara lah baik baik sayang, Aku kekamar dulu. Semangat" Anin memeluk Avi memberikan semangat agar sahabatnya itu dapat menyelesaikan masalahnya dengan baik.

__ADS_1


"Minumlah..." Avi datang dan duduk didepan Arash.


"Kamu nginap disini?" tanya Arash sedikit menggeser kearah Avi.


"Iya.. ayah bunda Anin sedang menginap dirumah neneknya. Aku temani dia"


"Oh... kamu kenapa menghindar?"


"Untuk apa kak?"


"Jam pulang sekolah aku berdiri diseberang jalan untuk menjemputmu." jelas Arash. Dia juga melihat mobil Arash.


"Aku tau"


"Sayang.. ada apa sebenarnya?"


"Kakak masih tidak jujur padaku."


"Tentang apa Vi?"


"Tentang ide menginap dan foto foto itu sampai kita akan segera dinikahkan. Aku bahkan belum tersentuh oleh mu. Aku benci ide gila itu" Arash menatap Avi intens. Dia beranjak duduk disebelah Avi.


"Aku minta maaf... " Dia menggenggam tangan Avi dan mencium punggung tangannya.


"Kita bahkan sudah bicarakan hal ini. Makanya aku terima ide bertunangan dengan kakak. Tapi kalau untuk menikah sama saja aku membuang masa muda ku. Apa gunanya aku sekolah? Biar saja lulus SMP lalu menikah."


Ia menjawab dengan ketus mendengar penjelasan Arash.


"Apa yang kamu inginkan?" tanya Arash bersungguh sungguh. Avi menatap Arash menatap Arash dalam dalam. Melihat bagaimana ketulusan seorang Arash padanya.


"Jika benar kakak mau menikahi ku. Tunggu aku, setidaknya aku lulus dulu. Aku akan bersedia" mata Arash berkaca kaca mendengar keinginan Avi. Dia masih sangat ingin menikah dengan Avi disaat sekarang ini. Agar tak ada yang mendekat Avi lagi.


Dia juga akan tinggal serumah, dan membayangkan Avi akan mengurus segala keperluannya. Dia akan menjadi lelaki beruntung. Tapi keinginannya dengan sang pacar jauh berbeda.


"Tapi vi... aku ga sanggup jauh dari mu."


"Kuliah disini saja. Kita bisa bertemu setiap harinya "


"Maka ayah akan menjodohkan ku dengan anak temannya" Arash melepas tangan Avi


"Cobalah untuk mengetahui siapa gadis itu." Arash menatap Avi.

__ADS_1


"Kamu tidak mencintai ku lagi?"


.


"Masih.."


" Lalu kenapa bicara seperti tadi? sangat tak masuk akal." Arash menggelang gelengkan kepalanya melihat Avi.


"Kalau begitu kita kembali kesepakatan awal.."


"Aku akan tetap menerima tawaran ayah untuk menikahimu" Keras kepala Arash membuat Avi marah. Dia berdiri menatap Arash dengan tajam.


"Kalau begitu menikahlah sendirian..." Ia langsung berlari keluar rumah membuka pagar dan berlari disepanjang jalan. Tiba tiba sebuah mobil berhenti membuka kacanya.


"Avi? sedang apa?"


"Ok kak Rahman tolong aku"


"Masuklah..." Avi bergegas masuk kemobil dan mobil melaju dengan kencang.


Sementara Arash berlari dibelakang Avi memanggil manggil namanya. Ia tak melihat Avi disetiap sisi jalan. Banyak mobil yang berlalu lalang didepan sana. Arash tak melihat Avi naik mobil Rahman.


Anin yang mendengar teriakan suara Arash langsung menghampiri Arash didepan rumahnya.


"Ada apa kak? mana Avi" gusar Anin.


"Avi keluar dari rumah dan berlari kearah sini. Tapi aku tak melihatnya. Bahkan taksipun tak ada yang lewat"


"Bagaimana bisa?" tanya Anin cemas.


"Aku memaksa Avi untuk tetap menikah." ucapnya membuat Anin marah.


Plak


"Itu pantas untuk orang keras kepala seperti mu." sebuah tamparan melayang kewajah tampan milik Arash. Kemudian Anin masuk kerumah dan menutup pintu dengan sangat keras.


Arash yang sudah tak diharapkan lagi kehadirannya pergi dari rumah Anin. Dengan rasa sesal dan kesal.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung..


__ADS_2