
My husband
Sayang... apa kamu sudah memasak? Aku sangat lapar.
Sebuah pesan dari Denis diponsel Avi.
Anin dan Tara saling menatap. Apakah mereka mematikan ponsel tersebut atau...
Avi
Aku tidak dirumah Uda. Jangan mencariku. Jaga dirimu baik baik.
Anin dan Tara mengirim pesan diponsel Abi untuk Denis. Mereka tetap menutupi semua ini dari Denis.
"Jika memang Denis itu jodoh Avi. Arash tak mungkin bisa memlikinya sayang..." ucap Tara saat mengirim pesan pada Denis.
My husband
Kamu pergi kemana sayang? Biarkan aku menjemputmu. Kita makan diluar saja.
Sebuah pesan balasan masuk lagi keponsel Avi. Ternyata dari Denis yang tampak penasaran dengan istrinya.
Avi
Jangan mencari ku lagi Uda, biarkan aku sendiri untuk saat ini. Jangan hubungi aku!
Anin membalas pesan Denis diponsel Avi. Tiba tiba ponsel itu berdering. Ada panggilan dari Denis. Mereka sling menatap. Lalu mematikan daya ponsel Avi.
Keduanya menghela nafas dan menghempaskannya kasar.
"Aku tau perasaan Denis sekarang. Ia pasti panik karena tiba tiba Avi pergi darinya tanpa ada alasan yang jelas. Bagaimana ini sayang?" Anin merasa prihtin dengan keadaan rumah tangga temannya yang ia juga ikut andil dalam penghancurannya.
"Jangan bertindak apa apa. Lebih baik sembunyi kan ponsel Ini hingga aman sayang. Aku akan memikirkan cara sambil terus memantau Arash. Kemana ia membawa Avi." Jelas Tara mantap.
"Sekarang aku mencemaskan Avi sayang, semoga Arash tak berbuat jahat padanya." Anin meraup wajahnya menyesali perbuatannya.
__ADS_1
.
.
Disebuah ruangan yang mewah Arash meletakan Avi pelan pelan keatas tempat tidur. Ia kembali menakari obat tidur. Agar Avi tak sadar saat ia bawa ke tempat yang jauh.
"Sayang... disinilah tempat mu yang tepat. Yakni bersamaku, bukan bersama Denis. I takan mampu membahagiakanmu. Wanita tersayang ku... Avi. Aku sangat bahagia bisa terus bersama mu. Kuharap kamu terbiasa dengan ku dan bisa menerima ku sebagai pendamping mu."
Arash bergumam sendiri sambil berjalan kearah Avi. Melihat kecantikan wanita yang sngat ia cintai dan miliki sebentar, lalu memasukan obat itu kedalam mulut Avi.
"Sebentar laginkita akan pergi juh dari sini sayang.. persiapkan dirimu untuk itu."
Arash berjalan keluar dan menutup pintu kamar itu. Menguncinya dari luar. Ia meninggalkan rumah tempat ia meletakan Avi.
Melajukan mobilnya ketempat kediaman orang tuanya.
"Bunda... aku akan ke Australia untuk sementara waktu. Ada beberapa pekerjaan yang harus aku urus bund.." Arash merapikan pakaian nya dan memasukan ke dalam koper besar.
"Jangan lama lama disana sayang. Jika pekerjaan mu sudah selesai kembalilah pulang." Bunda memnbantu melipat pakaian Arash.
"Apa perlu ayah dan bunda mengantar mu?"
"Tidak perlu.. ini sudah malam. kalian akan kerepotan. Istirahat saja dirumah." Arash mengangkat kopernya dan pamit pada kedua orang tuanya.ia meninggalkan kediamannya.
Senyuman kemenangan tampak merekah dibibirnya. Arash melajukan mobilnya ketempat Avi yang ia tinggalkan tadi.
Diperjalanan ia melihat Denis tengah panik berdiri disebelah mobilnya.
Apa aku harus menyapanya? Baiklah Arash. Mainkan peranmu.
Ia memberhentikan kan mobilnya tepat dibelakang mobil Denis.
"Hei.. Denis.. ada apa?" Arash turun dari mobilnya menghampiri Denis.
"Ban mobil ku bocor." Jawab Denis meliht Arash dengan tatapan curiga.
__ADS_1
"Apakah kau tak membawa ban serap nya.?" Tanya Arash tau jika Denis sedang menatapnya curiga.
"Aku lupa menjemputnya di bengkel." Denis mengalihkan pandangannya kearah mobil Arash.
"Pakai ban ku saja kalau begitu. Kau kelihatan terburu buru.." basa basi Arash.
"Apa tidak merepotkan mu?" Tanya Denis balik.
"Tidak, aku hendak kebandara untuk perjalanan bisnis. Masih ada 3 jam lagi"
Jawab Arash santai.
"Kemana?"
"Australia, ada proyek terbengkalai disana. Pamanku sakit. Jadi aku menggantikan untuk sementara. Kenapa?" Arash mencoba membuat Denis makin curiga padanya.
"Bukan apa apa.."
Jika aku bilang Avi pergi dia pasri akan sangat marah. Melihat tingkahnya. Sepertinya... Avi bukan bersamanya.
"Kita ambil ban nya?" Arash mengejutkan Denis dari lamunannya.
"Eh... iya." Denis mengikuti Arash menuju mobilnya.
"Apa ada masalah?" Tanya Arash sedang membuka pintu belakang mobilnya.
"Tidak ada..." Jawab Denis mengambil ban dari dalam nya.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1