
Mama mengajak tamunya masuk kedalam rumah. Kemudian berjalan ke arah meja makan.
"Ada bunda Arini.." ucap mama melewati mereka pergi kedapur membuatkan minum untuk tamu nya.
"Bunda nya Arash?"
"Apa Arash juga ada ma?" Tanya Avi mengikuti mamanya dari belakang.
"Tentu saja..."
Mama melihat Avi yang tampak kesal dengan kehadiran Arash. Dia berdiri mematung dibelakang mama.
"Temuilah mereka, apa kamu tidak kangen dengan bunda Arini?"
"Nanti saja.." ia keluar dari pintu belakang. Duduk dekat sebatang pohon belimbing, kebetulan ada kursi kayu disana.
"Mana Avi ma?"
Ica kedapur membawa peralatan makan yang tadi dipakai sarapan kedapur.
"Itu.. diluar" mama menunjuk dengan dagunya.
"Sepertinya dia ga mau ketemu mereka"
"Sudah... jangan dipaksa ma.. Ica juga malas heheheh"
"Eeeh... ga bisa dong, masa mama sendirian?"
"Kan bunda Arini sahabatnya mama, kenapa mama ga bisa sendirian?"
"Kan ada anak anak mama dirumah, sekurangnya bisa bantu jawab. Kan kamu bisa menerka dengan kedatangan mereka bukan?"
Mama membujuk Ica agar mau menemani mama duduk dengan keluarga itu nanti. Walaupun sahabat mama Lena merasa tak enak hati dengan bunda Arini karena masalah anak mereka.
"Iya.. nanti aku kesana. Tapi setelah papa Lulu berangkat kerja ya ma..."
"Semoga saja semua baik baik saja. Mama antar minum untuk mereka. Segera susul mama Ca hmmm!"
__ADS_1
Ica mengangguk, mencuci peralatan makan yang kotor tadi. Ia melihat Avi duduk diluar.
"Avi... ayo masuk..!"
"Aku disini saja kak.."
"Sudaah.. ayo masuk. Jangan lari .. itu tidk menyelesaikan.. bahkan menambah kerumitannya."
"Tapi kak..."
"Ayo masuk. Kamu sudh dewasa sekarang. Jangan lari lagi seperti anak anak. Lihat kan dampak pelarian kamu beberapa tahun yang lalu? Apa semua sudah selesai begitu?"
"Iya..."
"Selesaikan masalah mu bersama Arash. Jangan buat mama serba salah dengan temannya. Jaga juga hubungan mereka. Kamu mengerti."
"Iya kak... maaf"
"Ayo.. jangan bingung disana. Belimbing itu ga akan jatuh jika kamu hanya melihatnya."
Dengan berat hat Avi berdiri dan berjalan kearah kakaknya. Mendekati mama dan duduk disampingnya.
.
.
"Maaf ya lama... " sapa mama pada temannya yang menunggu diruang tamu.
"Iya tidak apa apa Lena.." bunda tersenyum pada mama.
"Avi mana ma?" Arash membuka suara menanyakan Avi.
"Ada dibelakang dengan Ica. Sebentar lagi kesini."
Arash lega menganggukan kepalanya senang. Dia melihat kearah meja makan. Dan benar saja Avi muncul tak lama kemudian. Arash sangat senang melihat kekasih pujaan hatinya masih mau menerima kedatangannya.
"Nah ... ini dia orangnya..." mama menoleh kebelakang melihat anaknya datang.
__ADS_1
"Avi?... masya Allah tambah cantik sekarang" bunda menyambut uluran tangan Avi untuk menyalaminya. Begitu juga Ayah Arash.
"Apa kabar bunda.. ayah.." sapa Avi pada kedua orang tua Arash. Kemudian duduk disebelah mamanya.
"Alhamdulillah sayang... kami sehat" bunda memperhatikan Avi yang sekarang sudah tampak dewasa. Pantas saja Arash tak bisa melupakan nya. Bunda melihat kebaikan daei gadis itu. Atas apa yang diperbuat Arash padanya dulu dia masih mau menyapa mereka.
"Arash nya ga disapa sayang?" Tegur mama pada Avi.
"Hi kak.. apa kabar?" Sapa Avi malas pada Arash.
"Kabar ku buruk... semenjak kamu pergi"
Arash mengembangkan senyumnya atas pertanyaan Avi. Dia sudah mulai melancarkan rencananya. Membuat gadis itu merasa bersalah.
"Bagaimana kabarmu vi?" Tanya Arash balik. Avi menatap nya tajam lebih tajam dari silet.
"Aku jauh merasa lebih buruk hingga aku memutuskan untuk pergi saat itu. Tapi sekarang aku baik baik saja. Sebentar lagi aku akan menikah"
Avi sengaja menjawab pertanyaan Arash panjang lebar didepan orang tua mereka. Agar mereka mengetahui apa yang selama ini ia rasakan.
"Sudah sudah... jangan dibahas disini. Nanti saja kalian ngobrol berdua selesaikan masalah kalian beberapa tahun lalu." Sanggah mama pada Avi dan Arash.
"Tida perlu ma, aku sudah bertemu dengan kak Arash beberapa hari yang lalu. Dia sudah mengetahui semuanya. Jadi tak ada yang perlu dibicarakan lagi."
Semua mata menatap pada Avi dan Arash. Mereka tak menyangka kedua anaknya sudah saling bertemu.
"Tak apa buk Lena... lebih baik dibicarakan dekat kita. Jadi kita bisa tau seperti apa jaln ceritanya." Tambah ayah Arash.
"Aku hanya minta pertanggung jawaban mu Vi. Hidupku terlantar beberapa tahun ini. Seperti katamu kemaren, aku sudah membenahi diriku lagi. Dan aku juga ingin menyambung apa yang kamu putuskan sendiri"
Arash lantang bicara didepan semuanya.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung....