
"Bagaimana dengan Arash?" Tanya mama. Membuat Avi menundukkan kepalanya karna tak senang hati mendengar nama tersebut diucapkan dihari bahagia ini.
"Aku sudah lama melupakannya. Ku mohon jangan ada nama itu hari ini" Avi menatap satu persatu mata mereka.
"Baiklah itu keputusanmu. Anak mama sudah begitu dewasa, telah bisa memutuskan sesuatu yang."
"Makasi ma, Avi minta maaf atas semua yang terjadi, saat itu aku baru menginjak 17 tahun. Bukan waktu yang tepat menjadi seorang istri. Ditambah lagi aku tak pernah berbuat salah. Hanya mengenal lelaki yang salah.
Dan saat ini, jabatan itu sudah sanggup Avi jalani, karna telah menemukan lelaki yang tepat. Yang bisa menghargai Avi"
"Baguslah... kebahagiaan mu kebahagiaan kami juga sayang..." Deby menambahkan.
"Saya juga sepertinya harus memperkenalkan diri lagi didepan keluarga Avi.
Buk, para kakak, perkenalkan nama saya Denis abdurahman. Dipanggil apapun saya ga masalah.
Saya memohon dan meminta izin pada mama dan kakak Avi untuk merestui hubungan kami kejenjang yang lebih serius.
Saya tak kan membiarkan air mata kesedihan hadir dikehidupan Avi. Dihadapan keluarga mu Avi. Atas nama Allah... bersediakah kamu kupersunting untuk menjalani kehidupan bersama mencari syurganya Allah..?"
Mereka mengukir senyum kebahagian melihat sepasang kekasih ini. Avi lagi lagi meneteskan air matanya.
Denis mengambil kotak kecil berwarna merah dari saku jaketnya. Menunggu jawaban Avi. Senyuman dari pria tampan itu memperhatikan Avi.
"Jika kamu sudah memantapkan hati, jangan ragu dengan Denis sayang" bisik Ica yang duduk disebelah Avi.
"Aku berterima kasih untuk mu Uda, yang telah mampu menjagaku setelah jauh dari mereka. Telah mampu bersabar menghadapi ku dalam pencarian jati diriku.
Yang telah menghargai setiap kali kita bersama. Mampu mendidikku menjadi wanita tangguh yang mandiri.
Aku percaya mama untuk menjawab lamaran mu Uda. Karna aku yakin keputusan orang tua adalah bukti Allah meridhoi hubungan kita"
Denis menatap Avi dalam dalam, sesikit tidak mengerti dengan jalan pikiran Avi. Bagaimana jika mamanya menolak?apa itu artinya Avi juga menolak? Denis berjibaku dengan pikirannya sendiri. Tetap berharap semua yang terbaik keluar sebagai jawaban penantiannya.
"Apa kamu mencintai Denis?"tanya mama mengusap lengan Avi.
Dia mengangguk. Matanya seperti memohon agar mama menerima lamaran Denis.
__ADS_1
"Baiklah.. mama restui kalian"
Avi memeluk mama dan menciumi orang yang paling dia sayangi itu.
"Terimakasih Vi..." Denis memberikan kotak berwarna merah beludru tersebut kepada Avi. Dan dia memakai sendiri cincin itu.
"Secepatnya saya dan keluarga menunggu kedatangan mama dan keluarga dirumah kami."
"Baiklah Nak Denis, sampaikan salam mama untuk orang tua mu. Kami menunggu kabar baiknya." Ucap mama senang. Kakaknya pun terharu. Akhirnya kapal segera berlabuh setelah menemukan nakhoda yang tepat.
"Hari ini Avi mau tidur dengan mama"
"Iya sayang.. mama rindu dengan putri kecil mama" kemudian mama kewarung karna sudah saat nya tutup.
"Bagaimana dengan keperluan mu untuk kelantor besok Vi?" Mereka hanya tinggal berdua diruang tamu itu. .
"Apakah aku bisa izin sehari besok? Aku.mohon"
"Baiklah, besok Uda akan kesini lagi menjemputmu. Ajak juga mama. Kita akan pergi kesuatu tempat."
"Jangan begitu sayang, kamu membuatku berdebar debar" Denis memukul mukul pelan dada sebelah kirinya bak akting Sharukh khan.
"Hahaha... apa Uda mau makan bersama disini?"
"Bukan disini, ditempat yang istimewa. Bersiaplah. Ajak yang lainnya." Denis mengedipkan matanya menggoda Avi. Sambil duduk santai disofa nya memainkan ponselnya.
.
.
"Avi, kamu harus kudapatkan lagi. Jangan pikir aku akan terima dengan hubungan kalian. Aku akan berbuat apa saja demi memiliki mu. Apapun itu"
Arash betekad dengan dirinya sendiri. Mungkin syetan telah merasuki nya. Sehingga mampu berbuat nekat, jangan sampai ia mencelakai salah seorang diantara mereka.
"Jadi benar kamu sudah bertemu Avi?" Tanya bunda Arini setelah Arash memberi tahu bahwa ia telah bertemu dengn Avi.
"Bagaimana rupanya sekarang?tentu makin cantik karna sudah dewasa"
__ADS_1
"Dia titip slam untuk bunda dan Ayah"
"Dia memang anak yang manis dan baik."
"Tapi bukan pacar yang baik"
"Maksud mu?"
"Dia sudah memilih lelaki idamannya bund... dia bahkan sangat membenciku"
"Apa?? Bukan kah kalian dulunya saling mencintai?"
"Itu sudah lama sekali"
"Semua karna sikap kekanak kanakan mu Arash, ayah juga bisa benci hal itu jika berada diposisi Avi" ayah mengeluarkan pendapatnya. Yang sejak tadi mendengar percakapan istri dan anaknya.
"Karna aku ga mau pisah dengan nya yah..."
"Itu bukan lagi cinta Arash, tapi obsesi mu ingin memiliki nya. Hubungan seperti itu takan bertahan lama jika terus dilanjutkan. " tambah ayah lagi.
"Kenapa ayah berkata begitu? Apa yang salah dengan ku?"
"Sudahlah Arash. Sudah cukup membuang waktu mu terlalu lama. Berbenah diri lah kearah yang lebih baik. Urus dirimu sendiri. Masih banyak wanita yang bersedia dekat bahkan menjadi istrimu diluaran sana." Ayah memberi semangat Arash.
"Ayah tak pernah mengerti dengan perasaan yang aku alami. Apapun itu akan aku lakukan demi memilikinya"
"Sadarlah sayang, dia bukan jodoh mu. Terima lah kenyataannya" saran bunda yang mulai resah melihat anaknya.
Arash berdiri berjalan naik kekamarnya. Berpikir lebih keras mencari cara untuk memperbaiki keadaan seperti sedia kala.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1