
"Aduh... kenapa sampai lupa, pakai ponsel kak Arash saja deh." Dia kembali berdiri, membuka sedikit selimut dan melihat kearah kantong celana Arash.
"Ternyata mati juga... Aku bisa pasrah untuk hari ini. Semoga mereka tidak menduga yang bukan bukan."
Dia mendekati Arash membelai rambut Arash. Berharap kekasihnya cepat sadar. Menarik sebuah kursi dan meletakannya disamping ranjang tempat Arash tertidur pulas.
"Kak.. kumohon bangunlah. Ini sudah sangat larut. Tak baik kita lama lama disini. Aku takut jika terjadi apa apa nanti. Kak Arash ... sadarlah..." Dia menitikan airmata. Perasaan takut dan cemas membayangi dirinya.
Lama kelamaan Avi menyandarkan kepalanya ditepi ranjang sebelah Arash. Karna malam sudah sangat larut ia tertidur tetap terduduk dikursinya.
Bahkan tertidur seperti ini saja kamu sangat cantik sayang
Arash bangun dari tidur nya. Kemudian memandang kearah Avi yang tertidur di sampingnya. Dia pelan pelan turun dari ranjangnya. Dan mengangkat Avi pelan keatas ranjang.
"Beginilah tidur yang nyaman sayang, jika kubiarkan tidur mu seperti itu ... tubuhmu bisa sakit." gumam Arash tersenyum menatap Avi dan menyelimuti nya.
Ayo Arash.. tahan tahan.. jangan diluar rencanamu.
Arash menelan saliva nya melihat gadis cantik pujaan hatinya tertidur. Memperhatikan setiap inci dari wajah Avi. Membelai rambutnya yang tergerai kesamping.
"Sangat cantik" gumamnya.
Terlihat dia menghubungi seseorang. Membuka pintu kamar dan keluar. Tak berapa ama ia kembali lagi membawa beberapa camilan dan menyalakan TV.
Setelah merasa mengantuk dia bersiap siap untuk tidur diranjang yang sama denga Avi. Tapi langkahnya terhenti berpikir seolah olah sedang bercengkrama dengan dirinya sendiri. Ada sesuatu yang mendorongnya untuk tidak mendekati Avi. Sebagian lagi menyuruhnya mendekat.
Dengan langkah mantap ia meneruskan langkah kakinya menuju ranjang.
Aku hanya tidur saja. Tidak lebih
Ia meyakinkan dirinya tak akan ada hal buruk yang akan terjadi. Dengan pelan ia berbaring disebelah Avi yang memunggungi nya. Menatap lekat tubuh itu.
Arash... kendalikan dirimu
__ADS_1
Arash mencoba menutup mata nya untuk menjauhi pikiran aneh dihatinya. Dan ia melayang kealam mimpinya.
.
.
Cahaya matahari masuk menepati wajah Avi. Ia pelan pelan membuka matanya.
"Aaaa.." ditutupnya kembali mulut yang berteriak itu agar tak menimbulkan kegaduhan.
"Kak Arash? Apa yang dia lakukan?" Pelan pelan ia menjauhi Arash yang sangat menempel ditubuhnya.
Astaga.. apa aku sudah melakukan itu?
Pikirannya melayang layang mengingat kejadian semalam. Yang mana ia tertidur dikursi, dan berakhir diatas ranjang bersama Arash.
Dia terus berjibaku dengan pikirannya sendiri. Melihat kearah Arash, dan menatapnya dalam dalam. Ia mengagumi wajah tampan itu. Rambut Arash yang sedikit berantakan membuat nya sedikit seksi.
Detail Avi memperhatikan wajah kekasihnya. Dan terkejut karena ternyata Arash bertelanjang dada ketika selimutnya tak sengaja terbuka oleh Avi. Lalu ia melihat bagian bawahnya yang tetap utuh seperti tanpa sentuhan. Ia mengambil nafas lega.
Avi yang masih terpesona dengan Arash dan berbicar dengan pikirannya sendiri. Tanpa sadar Arash mendekatinya dan mengecup bibir ranun itu.
"Selamat pagi nyonya Arash" mengambangkan senyuman termanisnya didepan Avi.
Avi langsung duduk dan ditahan oleh Arash. Kini mereka saling berhadap hadapan, sangat dekat.
"A aku mau ke kekamar mandi" ia berusaha melepaskan pelukan Arash.
"Disini saja, aku kedinginan" Arash memeluk erat Avi yang kelihatan gugup didepannya.
"Ta tapi..."
"Apa kamu malu?" tanya Arash. Avi merasakan detak jantungnya dan detak jantung Arash seperti sedang mengikuti lomba lari.
__ADS_1
"Ke kenapa?" tanyanya gugup
"Wajahmu sangat merah dan..." ia mendekatkan pipinya kearah pipi Avi . ".... dan sangat panas" Arash menggoda Avi dengan tersenyum penuh arti.
"Aku bahkan bisa mati jika pelukanmu se erat ini" Arash sedikit melonggarkan pelukannya tapi tidak melepaskannya.
"Aku menginginkannya..." ujar Arash lirih.
"A aapa maksud kakak?" Avi mulai terdengar takut.
"Kamu... aku menginginkanmu" Arash melihatkan senyuman seringainya.
"Ta tap..." Mulut telah dibungkam Arash dengan lembut, Avi mulai terhanyut dengan permainan itu. Tanpa sadar ia sedikit membalas.
"Apa.. kamu menginginkannya juga?" tanya Arash kembali melepas pautan itu.
"Kak Arash... aku mau pul..." Dia kembali menyatukan pautan itu. lebih lama dari sebelumnya. Tanpa sadar tangannya menjelajahi tubuh gadisnya. Avi yang mulai terbuai dengan hal yang tak pernah ia rasakan. Mengumpulkan kembali kewarasannya. Ia mendorong Arash dengan sekuat tenaganya. Dan berhasil, Arash terkejut dan terdiam.
"Belum saatnya" Avi beranjak dari ranjangnya dan berjalan kekamar mandi.
"Ah... bodoh sekali! apa yang kulakukan."Arash mengumpat dirinya sendiri. Memukul mukul sendiri kepalanya. Menyesal dengan perbuatannya barusan. Ia beranjak dari ranjang dan memakai kembali bajunya. Meraup wajahnya dengan keras. Menunggu kemarahan Avi setelah ia keluar dari kamar mandi.
"Sayang... maafkan aku" Avi tak menghiraukan Arash. Membereskan barang barangnya.
"Vi... please..." ucap Arash memohon menghampiri Avi.
"Aku hampir kehilangan aset berhargaku" jawaban Avi membuat Arash semakin mengutuk dirinya sendiri.
"Sayang.. maaf.. ku mohon" Aras menahan lengan Avi
.
.
__ADS_1
.
Bersambung