
"Sayang... maafkan aku" Avi tak menghiraukan Arash. Membereskan barang barangnya.
"Vi... please..." ucap Arash memohon menghampiri Avi.
"Aku hampir kehilangan aset berhargaku" jawaban Avi membuat Arash semakin mengutuk dirinya sendiri.
"Sayang.. maaf.. ku mohon" Aras menahan lengan Avi
"Aku mau pulang, sekarang" Kemudian ia meninggalkan Arash sendiri didalam kamar yang hampir membuatnya kehilangan sesuatunya yang amat berharga.
"Vi.. aku lapar" Arash memecah keheningan didalam mobil. Karna sejak mobil meninggalkan penginapan itu Avi tak bersuara sedikit pun.
"Apakah ini rencana mu membawaku kesini?" pertanyaan itu langsung mengena Arash.
"Tidak.. aku hanya ingin mengajakmu ketempat favoritmu. Itu saja"
"Bagaimana aku bisa menjelaskan pada mama dan kakak." Avi bergumam tak menghiraukan ucapan Arash.
Mereka saling diam dalam waktu yang lama. Arash merasa sangat bersalah pada gadisnya. Otak nya terus berpikir supaya bisa melunakkan lagi hati gadisnya.
"Aku mau mampir sebentar beli camilan" Arash bicara seolah olah gal tadi pagi tak pernah terjadi. Avi terap diam.
Mereka berhenti ditepi jalan, ada banyak jajanan untuk oleh oleh. Avi memperhatikan apa yang dilakukan Arash diliar sana. Arash sengaja tak mengajak Avi keluar mobil. Dia juga ikut diam.
"Kenapa lama sekali. Apa yang dia beli." gerutu Avi menghentakan kakinya.
"Hampir saja aku mempermalukan keluarga ku. Untung saja kesadaran ku masih ada" ia berbicara sendiri mengingat kejadian pagi dipenginapan tadi. Bohong jika ia tak menikmati rasa yang diberikan Arash. Tapi tetap ia tahan untuk tidak menerima lebih. Karna itu bukan perbuatan baik.
Arash membuka pintu belakang dan meletakan beberapa bungkus makanan yang ia beli. Kemudian dudul di blakang kemudi. Ia meletakan sekotak makanan dipangkuan Avi tanpa suara. Lalu melajukan kembali mobilnya dengan kecepatan yang agak ngebut.
Avi melirik tingkah Arash yang ikut ikutan diam juga. Arash bahkan tak meliriknya sedikitpun. itu menurut pandangan Avi. Padahal Arash saat ini sangat cemas atas bungkam Avi.
"hmmm... Aku.." dia menghela nafas untuk memecahkan keheningan ini.
__ADS_1
"Aku mau kekamar kecil" Arash tetap tak meresponnya. Membuat Avi mulai kesal dengan tingkah Arash. Seharusnya dia yang marah, tapi kenapa seperti Arash yang marah besar.
"Kak.. aku mau kekamar kecil" dia memegang tangan Arash agar mendapat respon. Dengan tenang Arash menepikan mobilnya didepan toilet umum.
"Terimakasih" Avi bergegas keluar. Arash menghempaskan nafas yang sedari tadi ditahannya. Ia lega Avi berbicara padanya.
Sedikit lagi .. dia segera membaik.
Avi masuk lagi kemobil, dengan tenang Arash melajukan mobilnya lagi.
Merasa tidak tenang karna hanya dibungkam Arash.
"Berhenti disini" dengan nada yabg sedikit ketus. Arash menoleh lalu menepikan mobilnya. Ia menatap Avi dalam dalam, menunggu ucapan dari gadis yang sangat ia cintai. Avi terlihat sangat kesal.
"Seharusnya aku yang marah padamu. Kenapa kakak ikut marah juga? menyebalkan" lalu menatap keluar mobil. Arash tersenyum simpul. Tapi ditahannya.
"Lalu aku harus apa?" tanya nya datar
"Aku sudah berulang kali meminta maaf padamu, sungguh aku ga sengaja. Aku terbawa hasratku karna berdekatan dengan mu." jelas Arash masih menatap Avi dari samping.
"Jika kamu diam aku akan diam juga, menghindari jika terjadi perdebatan antara kita. Aku tidak marah sayang... mana bisa aku marah padamu." Arash membelai rambut Avi yang tergerai. Kemudia mengangkat dagu Avi agar bisa melihat nya. Tanpa menolak Avi mengikuti Arash.
"Aku minta maaf ya... aku ga bermaksud seperti itu. Kepala ku benar benar sakit. Mengertilah sayang... please." Dia mengecup bibir yang masih cemberut melihatnya.
"Jangan mengambil kesempatan lagi. Aku sudah memaafkan. tapi jangan pernah ulangi perbuatan itu lagi sebelum kita halal." Avi menoleh kembali ke depan.
"Makasi sayang... bisakan kita jalan lagi?" Avi mengangguk. Mereka meneruskan perjalanan pulang. Dan bersiap menerima kemarahan bunda dan mama.
.
.
"Dari mana saja kalian? dua tidak pulang. Apa kalian kawin lari?" Tanya bunda yang sengaja menanti Arash dan Avi pulang dirumah mama Lena.
__ADS_1
"Arash... kamu membuat kami kecewa." mama terlihat sangat marah. Tapi diredamnya.
Mereka berdua tertunduk cemas.
"Lihat ini... kenapa kalian melakukan ini pada kami?" Bunda melempar beberapa foto diatas meja. Arash bergegas mengambil dan memperhatikan satu persatu.
Avi juga melihat foto itu. Foto saat ia tertidur pulas dengan Arash disampingnya dengan bertelanjang dada.
"Bukan begitu yang sebenarnya ma... bunda. Avi bisa jelaskan. ya kan kak ?" tanya Avi menoleh kesampingnya mengajak Arash melakukan pembelaan. Tapi Arash hanya tertunduk pasrah.
Bagus juga hasilnya. batin Arash tersenyum bahagia
"Kak.. kamu bicara. Jelaskan pada mereka." Avi membutuhkan penjelasan Arash juga.
"Maaf ma, bunda" hanya itu kata yang keluar dari mulut Arash. Ayah Arash yang dari tadi diam akhirnya ikut bicara. Sementara Avi sudah meneteskan Air matanya. Kesal dengan ucapan Arash. ia menatap Arash dengan tatapn membunuh. Arash sengaja memalingkan wajahnya dari tatapan Avi.
"Kalian akan dinikahkan secepatnya, Avi akan mengikuti Arash dn pindh bersekolah disana. Mama bunda ayah dan para kakakmu sudah sepakat. Kalian tidk bisa membantah lagi.
Arash kau tidak boleh menyentuh Aviagi setelah menikah. Biarkan ia menyelesaikan sekolahnya. Setelah itu terserah kalian. Kita akan Rahasiakan pernikahan ini. Minggu depan kalian menikah" Keputusan mutlak dari ayah tak bisa lagi diganggu gugat.
" Inikah yang kamu rencanakan? selamat kau sudah membuatku membenci mu Arash zafrano!" Avi berdiri menatap Arash penuh kebencian. Dia meninggalkan sidang tak pantas itu dengan kesal msuk kekamarnya.
Dia benar benar membenciku sekarang.
Mereka yang duduk disana sedikit terkejut dengan tingkah Avi. Kemudian mereka pamit undur diri.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1