
Matahari mulai menampakan cahaya nya walaupun masih berwarna jingga. Ia akan kembali menyinari dunia tanpa lelah dan pamrih.
Avi perlahan membuka matanya. Menikmati pemandangan jingga dari luar jendela. Karna mereka berada dipulau. Matahari sangat terlihat indah saat menampakan sedikit senyumnya.
Sama dengan sebuah senyuman yang terukir di bibir wanita cantik ini. Tubuhnya terasa berat, ia merasakan diarea perutnya. Ada sebuah tangan hangat yang sedang memeluknya dari belakang.
Aku sekarang seorang istri.. dan tentu ini tangan suami ku. Bahagiakan kami ya Allah.
Pelan pelan Avi mencoba bangun untuk duduk, bagian bawahnya terasa sangat perih dan sakit. Ia tetap beranjak dari tempat tidurnya. Mengambil dan mengenakan pakaian tidurnya yang tadinya terdampar diatas kursi kayu dikamar pengantinya.
Dengan perlahan Avi berjalan kedalam kamar mandi.
Setiba dikamar mandi ia memeriksa aset berharganya yang telah ada tanda kepemilikan itu. Alangkah terkejutnya dia, dengan porsi yang membengkak akibat hidangan Denis tadi malam.
"Astaga... apa sampai segininya?" ia bergumam dan tertawa kecil sendirian dikamar mandi.
"Sayaang... sayaang.."
Sementara Denis ditempat tidur masih meraba raba kasur mencari istrinya. Ia membuka matanya melihat sekeliling.
"Tentu saja ia sudah dikamar mandi."
Denis kembali merebahkan tubuhnya yang terasa malas untuk bangun. Senyuman terukir diwajah tampannya. Kembali membayangkan hidangan yang ia nikmati tadi malam.
"Sayang... kamu sudah selesai mandi?"
Denis duduk melihat Avi keluar kamar mandi.
"Ya.. "
"Singkat sekali..."
"Ya suamiku.. aku sudah mandi. Ayo mandilah. Nanti kita shalat berjamaah." Avi berjalan pelan menuju kelemari pakaian.
"Ada apa dengan jalanmu sayang...? Kenapa aneh begitu?"
__ADS_1
Denis turun dari tempat tidur. Mengambil dan memakai celana pendeknya. Ia menghampiri istrinya.
"Sayang.. ada apa?" Denis mulai keliatan cemas.
"Tidak apa apa hanya masih sangat perih" jawab Avi tanpa menoleh.
"Aanya yang perih?" Denis memeluk Avi dari belakang yang masih memakai handuk itu.
"Apa Uda masih bertanya?" Avi sedikit menoleh ke arah Denis. Kemudian kembali mengambil pakaian.
"Aku tidak mengerti.. Ada apa sayang..? Apa kamu sakit?"
"Kemarilah... bantu aku."
Avi menyuruh Denis untuk berjongkok menghadapnya. Dengan gerakan ragu ia menaikan handuk yang melilit bagian bawahnya.
"Astaga... kenapa bisa begini? Semalam masih terlihat bagus" Denis melihat aset Avi sambil memikirkan apa yang terjadi dengan istrinya.
"Kamu benar benar tidak tau sayang?" Avi bergegas menutup handuknya.
"Biarkan saja terbuka. Aku masih ingin melihatnya" tentu saja ada pikiran aneh dikepalanya.
"Ini semua karna ulah juniormu sayang..." Avi sedikit menyentuh super junior Denis.
"Benarkah? Sampai seperti ini?" Avi mengangguk menatap Denis penuh kehangatan.
"Sayang maafkan aku.. aku benar benar tak tau. Tenanglah aku akan membeli obatnya."
"Kita ada dipulau sayang..." Avi memeluk Denis yang masih bertelanjang dada.
"Lalu bagaimana dengan mu?" Denis membalas pelukan Denis.
"Aku akan istirahat dikamar saja seharian ini" Avi berusaha menenangkan suaminya yang cemas.
"Maafkan aku..." ia mengecup pucuk kepala Avi berulang ulang kali.
__ADS_1
"Mandilah..." Avi melepaskan pelukannya dan memakai pakaian yang telah ia sediakan.
"Istirahat lah. Nanti aku ambilkan sarapan." Denis berjalan kedalam kamar mandi.
"Astaga... kau benar benar buas super junior ku. Aset istriku sampai membengkak seperti itu? Ya ampun..." dia berbicara sendiri dikamar mandi. Membayangkan akibat yang ditinggal super juniornya.
Secara perlahan Avi duduk ditepi ranjang. Menunggu Denis yang masih mandi. Tak sengaja ia melihat beberapa noda darah di alas tidur mereka. Buru buru Avi berdiri menarik alas tidurnya sambil menahan rasa perihnya mengganti dengan alas yang baru.
Setelah selesai ia membersihkan kamar itu yang porak poranda akibat ulah Denis.
"Jika dibawa banyak berjalan, sakitnya mulai sedikit hilang. Aku harus terlihat biasa didepan mam dan mama Mita." Gumamnya merasa senang karna menemukan cara yang ampuh untuk menghilangkan rasa perih itu.
Ia kembali duduk ditepi ranjang, akhirnya tertidur menunggu Denis selesai mandi.
"Sayang... dima.." Denis menghentikan perkataan nya karna melihat wanita tersayang nya tengah tertidur kembali.
"Avi... katanya mau shalat berjamaah..." Denis yang sebenarnya tidak tega membangunkan Avi akhirnya menjadi tega karna wktu ibadah mereka sudah hampir habis. Dan sebagai imam ia harus mengingatkan dan mengajak istrinya untuk selalu beribadah.
"Ya.. maaf.. aku tertidur."
Mereka menunaikan ibadah mereka, mengucapkan syukur atas segala yang mereka dapatkan. Dan berharap kehidupan mereka berdua selalu dijaln yang baik dan lurus.
.
.
.
Bersambung...
**************************************************
Terimakasih author ucapkan kepada para penikmat tulisan author. ini novel perdana author. terus berikan saran dan dukungan dengan memberi like dan favoritkan ya temaan... berikan vote juga jika teman teman berkenan.
jika ada kesalahan dalam penulisan Author mohon dimaafkan. karna Author juga manusia biasa, mak mak berdaster lagi . yang tak lepas dari salah dan khilaf.
__ADS_1
Koment yang banyak ya... Author semakin semangat dengan koment koment dari teman teman.
salam cintoooh...