Wanita Tersayang

Wanita Tersayang
Bertamu


__ADS_3

"Apa kamu yakin sayang...?" Tanya bunda Arini menatap Arash yang sedang merapikan dasinya.


"Sangat yakin bun... " Bunda menggelengkan kepalanya dan keluar dari kamar Arash.


"Bunda dan ayah tunggu dibawah.." Arash menjawab dengan senyuman.


"Ini memang jalan yang baik Avi. Tapi jika kamu menolak, jangan salahkan aku mengambil jalan yang buruk.


Kamu akan tau siapa Arash sebenarnya. Kamu telah terlantarkan hatiku bertahun tahun. Aku tak akan senang melihat mu bahagia dengan lelaki itu."


Terlihat seringai disenyuman Arash. Pria yang dulu sangat baik dan lembut bisa berubah seperti ini karena pengkhianatan cinta.


"Seharusnya kamu bisa bicara dengan ku baik baik sayang, bukannya melarikan diri seperti itu hingga jatuh cinta lagi. Aku juga tak akan memaksa mu jika benar kamu sangat keberatan. Aku pasti berusaha sabar menunggu. Semua masalah selalu ada jalan keluarnya. Tapi apa yang kamu lakukan? Dengan sengaja berlari dariku, tanpa ada tersisa cinta mu untuk ku"


Dia memperhatikan dirinya didepan cermin. Menatap tajam penuh dendam seolah olah dihadapannya adalah gadis yang sangat ia cintai.


"Bagaimanapun aku harus memilikimu. Jangan Kamu sia sia kan cinta tulus dari ku. Bersiaplah sayang..."


Dia berjalan keluar kamar. Langkah tegap nan gagah, wajah itu pun sudah kembali tampan. Arash benar benar membenahi dirinya lagi. Menuntunnya agar bisa kembali mendapatkan cinta nya yang hilang.


"Sangat tampan..." ayah memuji Arash ketika tiba didepan mobil.


"Aku sudah siap ayah..."


"Ayah akan berusaha membantumu Arash."


"Terimakasih yah"


Bunda Arini bergidik melihat anak dan suami nya sangat semangat kali ini. Seperti akan merebut sesuatu. Atau mencuri? Tapi apakah pantas dengan menyelipkan sedikit kebohongan?


"Ya Tuhan... bantu kami.." gumam bunda saat duduk didalam mobil.


.


.


"Hari ini mama ga jualan?"

__ADS_1


"Mama sengaja, ingin menghabiskan khusus hari ini dengan mu."


Mama memeluk Avi sekilas. Sambil mengaduk ngaduk makanan diatas wajan. Avi membantu menyiapkan sarapan pagi ini dimeja makan.


"Sudah selesai.. hanya menunggu hidangan dari wajan mama"


"Ma... aku mau bawa Jihan ketempat neneknya sebentar ya ma... sebentar lagi ayah nya jemput." Vita kedapur mendekati mama dengan menggendong Jihan putri nya yang berumur empat tahun.


"Sarapan dulu.. ini sudah siap" mama menyalin makanan keatas mangkok besar.


"Ya deh...mimom.."


"Sini kak Avi gendong.. Kakak bawa Jenna juga?" Avi membawa Jihan kepangkuannya.


"Iya.. kasian.. nanti nangis minta mimik."


Vita masuk kekamar mengambil tempat duduk Jihan untuk menyuapi nya makan.


"Jangan lama lama ya... Avi masih kangen nih.." Avi mengerucutkan mobilnya.


"Iyaa ... bentar aja kok"


"Kak.. Ozan udah bangun ni...kak Eby..."


"Ya... sebentar..." jawab Deby dari dalam kamar.


"Sudah siap ... ayo ayo sarapan bareng... panggil abang abang mu Juga."


Mereka duduk dimeja makan... suami Vita pun tiba. Akhirnya duduk bersama menyantap makanan yang disediakan mama. Mereka mana bisa menolak masakan seenak ini. Aroma nya saja sudah menggugah selera.


"Ada mobil yang berhenti didepan ma.." Deby memecah suasana hening mereka saat sarapan.


"Siapa?" Tanya mama penasaran.


"Mungkin Denis ya..." tambah Ica.


"Habiskan sarapan kalian.. mama lihat dulu." Mama berdiri dari tempat duduknya. Berjalan kearah depan.

__ADS_1


Sungguh terkejut dia melihat Arini datang. Tentu saja itu bersama anak mereka satu satunya. Jantung mama sedikit berdebar debar.


Ya Tuhan... apa lagi ini? Kenapa mereka datang kesini. Seperti hendak melamar. Apakah Arash tau jika Avi sudah pulang?


Mama berjibaku dengan pikiran dikepalanya. Melempar senyum kepada sahabatnya itu.


"Assalamualaikum Lena..." sapa tamunya yang tak lain adalah bunda Arini.


"Waalaikumsalaam Rin..." mama berjalan keluar menyambut sahabatnya itu.


"Apa kabar Len? Lama kita tak bertemu.."


"Alhamdulillah.. kabar ku baik Rin... kamu sehat dengan keluarga?"


"Ya beginilah Lena... aku masih sanggup berkunjung kerumahmu."


"Selamat pagi bang..." sapa mama Lena pada Ayah Arash.


"Selamat pagi... apa kedatangan kami menganggu pagi kalian?"


"Tidak apa apa... kami sedang sarapan bersama.


Ayo silahkan masuk...!"


Arash mengikuti mereka masuk kedalam rumah. Dia tak mengeluarkan suara. Tak sabar ingin melancarkan aksinya nya.


Mama mengajak tamunya masuk kedalam rumah. Kemudian berjalan ke arah meja makan.


"Ada bunda Arini.." ucap mama melewati mereka pergi kedapur membuatkan minum untuk tamu nya.


"Bunda nya Arash?"


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2