Wanita Tersayang

Wanita Tersayang
Tertembak


__ADS_3

Beraninya kalian menjebakku, bahkan sekarang kedua orang tua ku bisa kau kuasai Denis. Aku akan membalas mu. Aku takan biarkan kehidupan kalian berjalan dengan tenang. Aku akan menjadi bayang bayang buruk disetiap detik hidupmu. Aku bersumpah.


Arash yang dibawa kekantor polisi. Dalam perjalanan ia melamun mengutuk Denis dan Avi yang telah mempermainkan hidupnya. Dan juga telah menghancurkan hidupnya.


Mereka saling bertatapan. Salah satu anak buah Arash mencoba menyepit kedua petugas polisi. Memberi celah untuk Arash agar bisa melompat keluar.


Beberapa orang mengikutinya. Mobil polisi yang mengikuti mereka dari belakang menyadari jika Arash dan anak buahnya mencoba untuk melarikan diri.


Mobil polisi berhenti dan petugas polisi keluar dari mobil dengan senjata yang siap menembak ditangannya.


Mengarahkan pada Arash yang sedang berlari dengan tangan terikat kebelakang.


Duar...


Duar...


Dua tembakan mengenai kedua kaki Arash. Polisi melumpuhkan para pelaku yang melarikan diri. Dengan meringis kesakitan Arash dibawa dengan mobil ambulan.


Mengetahui hal itu kedua orang tua Arash menyusul kerumah sakit yang telah diberitahukan petugas polisi.


Mereka melihat Arash yang tak sadarkan diri keluar dari ambulan langsung dibawa keruang operasi untuk mengeluarkan peluru yang bersarang dipaha dan betisnya.


Bunda Arini menangis duduk disamping suaminya. Ia menyesali perbuata Arash yang tak mau berubah demi kebaikan dirinya sendiri.


Sementara Suami bunda Arini menahan amarah. Tangan nya mengepal bersiap melayangkan sebuah pukulan pada Arash jika kondisi nya tidak seburuk sekarang.


"Ayah... apa yang terjadi dengan Anak kita.." bunda terus menangis duduk menunggu didepan ruang operasi.


"Biarkan tim dokter menyelesaikan tugas mereka didalam."


Ayah tak melihatkan kesedihan dimatanya. Padahal Arash bisa saja meninggalkan mereka selamanya.

__ADS_1


"Arash... siapa diri mu yang sekarang nak? Bahkan aku ibu yang melahirkan mu sudah tak mengenal mu lagi." Bunda Arini merasa sangat kecewa atas semua yang terjadi.


.


.


Kini Denis dan Avi sedang beristirahat santai setelah olahraga perang perangan mereka yang melelahkan.


Setelah membersihkan tubuh masing masing kedua nya asik duduk didepan televisi melihat sebuah program favorit mereka.


Dreet.. dreeet...


Denis mengangkat ponsel nya yang berbunyi. Sebuah panggilan dari salah satu orang suruhan Denis.


"Ya.." Denis menjawab panggilan teleponnya.


"Lapor bos, Arash sekarang sedang menjalani operasi dirumah sakit Sina. Karena luka tembakan. Ia mencoba melarikan diri saat dalam perjalan kekantor polisi setelah ditangkap dihotel tadi."


"Ya.. Terimakasih." Denis langsung mematikan ponselnya. Ia menatap Avi yang sedang asik menyaksikan Marc marquez.


Avi tak mengalihkan pandangannya dari layar televisi. Karena pesona Marc Marquez lebih mengalihkan perhatiannya dari pada isi pesan yang diterima Denis.


"Orang ku bilang, Arash sedang menjalani operasi karena luka tembakan." Jawab Denis menunghu reaksi Avi.


"Ooh..." Avi terus fokus melihat balapan favoritnya.


"Hanya itu?" Tanya Denis heran.


Avi melihat kearah Denis ia menguraikan sebuah senyuman manis untuk suaminya. Membelai lembut lengan kekar milik suaminya.


"Itu hukuman dunia baginya. Dia akan merasakan hukuman Akhirat nanti." Ia kembali fokus menyaksikan televisi.

__ADS_1


"Kamu ga kasian padanya?" Denis terkejut melihat Avi yang menggeleng dengan cepat.


"Dia juga tak kasian padaku... dia benar benar pria yang sangat egois." Avi mengambil minuman diatas meja dan memberikannya pada Denis.


"Apa kita akan melihatnya?" Tanya Denis dengan keragu raguan .


"Jika Uda mau melihatnya. Pergilah.. tapi jangan mengajak ku." Jawab Avi santai.


"Jangan begitu sayang, sekarang keadaannya berbeda lho. Ia sedang sakit." Bujuk Denis yang masih tak mengira melihat perlakuan Avi seperti itu.


"Kamu tau kenapa ia tertembak?" Tanya Avi menatap kearah Denis.


"Arash ingin melarikan diri." Jawab Denis santai.


"Itu sudah menunjukan bahwa ia dendam pada kita sayang. Jika ia berhasil kabur mungkin ia bisa membunuh kita"


Penjelasan Avi ada benarnya juga. Jika ia mencoba berubah dan ingin memperbaiki diri. Ia takan melarikan diri. Arash tentu menerima konsekuensi atas setiap perbuatannya.


"Benar sayang... istriku ini sangat pintar, cantik, baik, hangat dan hooot..." Denis mencoba menggoda istrinya yang mulai terganggu dengan berita Arash.


"Kamu mencoba membujukku?" Avi mengelak saat Denis memeluk meluknya.


"Atau kita bisa melakukannya sekali lagi?" Denis merangkul Avi yang berusaha mengelak.


"Kak Naina akan sangat terganggu dengan suara mu." Bisik Avi dan meniup telinga Denis.


"Kamu menggodaku sayang... mmmuaaah... mmmpph..." Denis bertingkah seperti orang yang memaksa. Dan Avi berpura pura takut melihat tingkah suaminya.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2