
"Aku hanya minta pertanggung jawaban mu Vi. Hidupku terlantar beberapa tahun ini. Seperti katamu kemaren, aku sudah membenahi diriku lagi. Dan aku juga ingin menyambung apa yang kamu putiskan sendiri"
Arash lantang bicara didepan semuanya. Ica, Vita, Deby yang duduk tak jauh dari sana hanya bisa menyaksikan peristiwa itu. Mereka menahan ucapan sampai nanti akhirnya diperlukan.
"Aku sudah tak mau lagi kak, kumohon jangan memaksa ku"
"Kenapa kamu lari saat itu? Jika kamu benar benar keberatan aku pasti akan bersabar Vi. Aku juga manusia yang punya hati. Tak mungkin memaksakan keinginanku hanya untuk memilikimu. Kamu meninggalkan masalah yang belum rampung. Itu yang selalu membuat ku kesal dan menyesali diri bertahun tahun. Walaupun apa yang kuperbuat memang salah. Tapi kita masih bisa bicarakan baik baik." Jelas Arash.
"Sudah terlambat kak, aku masih remaja saat itu. Tak ada yang bisa kulakukan selain menghindari mu. Sekarang kau bahkan menyalahkan aku? Apa ini rencana mu? Agar aku merasa bersalah?"
"Avi... kumohon. Beri aku kesempatan lagi."
"Hati ku sudah mati untuk mu. Bertahun tahun juga aku sudah mencintai pria lain. Maaf aku tidak bisa lagi kak. "
Semua diam mendengar perbincangan mereka. Arash tampak sangat kesal dengan jawaban terakhir Avi.
Mencintai pria lain? Kurang ajar sekali dia berani bicara didepan kedua orang tuaku.
Arash mengumpat dalam hatinya. Dia terus menatap Avi yang memberikan tatapan tajam padanya.
Apa lagi yang kau tunggu Arash. Tak ada lagi namamu dihatiku.
Suasana menjadi hening. Semua orang berjibaku dengan pikirannya.
"Semudah itukah kamu melupakan ku Avi?
Sebenci itukah kamu?
Apa aku melakukan kesalahan besar padamu?"
Arash menjeda kalimatnya. Dia terus menatap Avi dengan tatapan menghiba penuh kesedihan.
__ADS_1
"Aku hanya ingin bersamamu.. itu saja. Hal hal bodoh yang aku lakukan dulu.... itu karna aku tak sanggup berpisah denganmu.
Apakah itu salah.? Karna aku sangat mencintaimu. Bahkan sampai saat ini"
Bulir bulir bening tampak menetes dimata Avi. Arash tampak berkaca kaca.
"Maafkan aku kak..."
"Beri aku satu waktu Avi. Hanya 24 jam saja untuk bisa bersamamu."
Mama memperhatikan kan Arash yang tampak tulus meminta pada Avi. Lau menatap Avi yang tampak enggan menyetujui permintaan Arash.
Ada apa dengan anak ini? Dia mengubah sendiri rencananya. Aku akan mengikuti alurnya.
Batin ayah Arash.
"Lakukan saja Vi..."
"Uda...."
"Tapi... uda.."
"Aku mengizinkan... jika Allah mengizinkan aku berjodoh dengan mu, maka tak ada sesuatu pun yang dapat melarangnya."
Denis menjawab mantap. Seketika air mata nya menetes dia memeluk mama yang duduk disebelahnya. Arash menatap wajah pria yang tiba tiba datang dan membukakan sedikit jalan untuk nya membuktikan pada Avi.
"Siapa dia Len?" Bunda Arini bertanya pada mama Lena.
"Dia calon suami Avi Rin..." kedua orang tua Arash saling menatap.
"Maksudmu... dia pria yang dicintai Avi?" Tanya bunda dengan wajah terkejut.
__ADS_1
"Iya Rin... dia sudah melamar Avi.." jawab mama lagi.
"Arash... sudahlah.. lupakan Avi. Kau tak bisa membuat kami malu dengan keinginanmu seperti ini. Relakan dia.. biarkan dia bahagia dengan lelaki pilihannya nak. ." Ayah Arash tiba tiba bersuara. Sambil menepuk pelan pundak Arash.
"Baiklah... kak. Karna calon suami ku mengizinkan. Maka aku akan memberimu waktu 24 jam. Jangan salahkan aku jika hati ku tetap tak bisa berbalik padamu."
Arash sumringah mendengar keputusan Avi. Selama janur kuning belum melengkung dan ijab qabul belum terucap Avi masih bebas memilih untuk menjadi teman hidupnya nanti.
"Kamu yakin sayaang?" Tanya mama bimbang pada keputusan Avi.
"Apa itu bisa menjamin kami jika Arash takan berbuat buruk pada Avi bunda Arini? Karna sedikit mengingatkan hal hal yang hampir Arash perbuat pada Avi dimasa lalu"
Ica berdiri dari duduknya. Sedikit tak setuju pada permintaan Arash. Karna bisa saja Arash telah merencanakan sesuatu agar Avi bisa ia miliki.
"Bunda jamin sayang... " jawab bunda mantap.
"Bagaimana dengan Arash? Apa ia bisa menjamin hal itu?" Tanya Ica lagi menatap tajam Arash.
"Aku berjanji kak.."jawab Arash mantap.
"Memang benar kami hanya perempuan, tapi jika sesuatu yang buruk terjadi pada adik kami... para perempuan ini takan ti ggal diam. Kami takan mengampuni mu Arash. Ingat itu!! Kau hanya belum tau siapa kakak Avi."
Ica kelihatan emosi mengingat Avi masih saja memberanikan dirinya masuk kekandang singa. Bisa saja nanti Arash melakukan hal yang hina padanya.
"Denis... terimakasih nak.. Kamu sangat berjiwa besar." Bunda Arini tersenyum ke arah Denis.
"Aku hanya ingin membuktikan pada Arash tante, tak semua hal bisa berjalan sesuai pikiran dan kemauan nya."
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...