
Video pun habis. Tak terasa Avi sudah meneteskan Air matanya sejak tadi. Hatinya tersentuh dengan ketulusan cinta Arash padanya. Cinta yang belum pernah ia rasakan selama ini. Dia menundukkan wajahnya mengeluarkan semua sesak yang tertahan didadanya.
Arash memeluk Avi untuk memberikan ketenangan bagi kekasihnya itu. Avi melepaskan tangisnya dalam pelukan Arash.
"Kak.."
"Hmmm..."
"Aku juga mencintaimu.."
"Aku tau,dan aku lebih mencintaimu." Arash saling mengeratkan pelukan mereka.
Aci melepaskan pelukan mereka dan menatap Arash lembut. Perlahan ia menyentuh kedua pipi Arash dan menyatukan kedua bibir mereka. Arash membalas Avi dengan lembut. Sepertinya mereka mendapatkan candu baru. Malam kelam yang indah penuh taburan bintang bintang menjadi saksi bisu kisah percintaan mereka.
.
.
Kicauan burung sangat terdengar merdu, pagi ini begitu indah. Bersyukur cuaca hari ini terlihat cerah. Deburan ombak terdengar sayup dari kediaman mereka.
Avi yang sudah bangun sejak tadi berdiri dibalkon kamar memperhatikan hamparan laut biru yang luas. Burung burung beterbangan diatas air. Ia menghirup udara yang sangat segar dipagi itu.
Aku tak menyangka akan berada disini. Semua karna Arash. Sebesar itukah cinta nya padaku?
Kehidupanku sekarang saja sudah sedikit berubah. Keluarganya juga memperhatikan kakakku.
Semoga kehidupan kami menjadi lebih baik lagi.
Batin Avi
Kehidupan yang sulit telah dirasakannya dengan mama dan kakaknya. Manusiawi rasanya jika seseorang ingin meraskan hidup yang berkecukupan. Disini ia tak pernah meminta apapun selama pacaran dengan Arash, karna orang tua mereka tidak mengajarkan segala sesuatu harus dinilai dengan materi.
Yang lebih utama adalah Hati, kepercayaan dan tanggung jawab. Jika mereka mendapatkan seseorang dengan ekonomi lebih itu adalah suatu bonus dari Tuhan. Karna mereka tak pernah meninggalkan kewajibannya sebagai seorang muslim.
__ADS_1
Avi memikirkan kata kata Arash saat dipantai yang memintanya untuk menikah. Tanpa memikirkan pandangan orang lain terhadap keputusannya kelak. Tapk dengan diumur yang belum diangka 17 tahun, ia merasa ragu bagaimana kelak setelah menikah. Apakah hatinya telah siap.
Sementara dikamar Arash. Ia masih setia didalam selimutnya. Karna pagi ini terasa begitu dingin baginya. Hempasan ombak terdengar sayup menyimpan banyak cerita dihatinya.
Kemudian ia membuka mata, mimpi indah itu hadir disini. Bayangan kekasih pujaan hati tampak tersenyum padanya. Aroma secangkir kopi menusuk kerongga hidungnya.
"Avi...." Dia menggapai tangan Avi yang terasa semakin jauh. Sontak Arash berdiri dan memeluk wanita itu.
"ini bunda Arash. Bukan Avi!" bunda tertawa lucu melihat anaknya. Bahkan didalam mimpi pun ia bertemu dengan Avi.
"Kamu sangat mencintainya?" tanya bunda duduk ditepi ranjang Arash. Arash yang baru sadar dari mimpinya terlihat cemberut. Karna kenyataan tak sesuai dengan bayangannya.
"Bunda.. " Ia mengucek ngucek matanya.
"Minum kopimu, bersiaplah. Kita akan jalan jalan hari ini. Kami tunggu dibawah ya." Bunda meninggalkan Arash yang tampaknya belum sadar sepenuhnya.
.
.
Mereka diantar naik oleh orang suruhan Arash. Bunda tampak sedang menerima telepon dari jauh. Arash mendekatinya penasaran.
"Ayo naik bund... dari siapa?" Bunda menutup ponselnya.
"Bunda menyuruh anggota ayahmu mengantarkan persiapan untuk pernikahan Deby yang telah bunda pesan. Hari ini kita akan bersenang senang. Besok akan banyak pekerjaan. " Kata bunda sambil mengandeng tangan Arash menuju kapal. Sementara yang lain sudah diatas kapal.
"Bunda ku sangat baik." Arash memeluk bundanya sambil berjalan.
"Kapan pesanan bunda akan sampai?" tambahnya lagi
"Malam ini akan datang. Sudah ada pak Ahid yang akan mengurusnya nanti." Arash tersenyum mencium pipi bundanya. Yang lain juga terlihat senang dengan kasih sayang ibu dan anak tersebut.
"Kita akan kemana kak?" tanya Avi setelah Arash duduk disebelahnya.
__ADS_1
"Kita akan berkeliling hari ini. Sambil melihat bang Bolan katanya mau memancing. Aku sudah bawa pancingan." jelas arash tersenyum menatap Arash.
"Pengalaman yang sangat indah." Kemudia ia melihat disebelahnya hamparan laut yang luas.
"Akan ku tunjukan yang lebih indah lagi.. ayo!" ajak Arash menarik tangan Avi untuk mengikutinya. Mereka berdiri ditepi pagar kapal senantiasa mengagumi indahnya ciptahan Tuhan yang nyata didepan mata.
Kapal sesukit melambat, nakhoda memberitahu bahwa disini tempat yang bagus untuk memancing. Banyak jenis ikan yang bisa didapat disini jika beruntung.
Arash dan Bolan mengeluarkan alat pancing mereka. Bersiap siap mengeluarkan bakat yang selama ini terpendam, Bersama pak Yan, penjaga kapal ini.
Teriakan terdengar dari Bolan pancingannya membuahkan hasil. Lagi lagi ia mendapat ikan. Tak mau kalah Arash berharap mendapatkan ikan yang lebih besar dari Bolan.
Sementara para ladies duduk santai berbincang santai dengan suguhan kelapa muda didepannya, tak jauh dari mereka yang sedang memancing.
"Aku dapat... bantuin pak. Sepertinya ikan yang besar." Arash tampak semangat menarik tali pancing bersama pak Yan.
Setelah ikan yang memakan umpan Arash semua serentak tertawa melihat sekumpulan besar rumput laut yang terlepas dari pancing itu.
"Bagaimana rumput laut bisa sampai terpancing? Apakah ada sesuatu didalamnya." Arash meminta pak Yan melihat apa yang ada dibalik rumput laut. Ternyata ada Ikan yang terjebak dalam rumput laut.
"Ternyata ada kau disana? apakah kau kasian melihat rumout laut ini tinggal sendirian dilaut? sehingga kau membawanya juga kehadapanku" kata Arash bicara dengan ikan itu. Semua tertawa melihat tingkah Arash.
"Sepertinya ikannya pusing mendengar ocehan mu Ar, ayo lempar lagi pancing mu..." kata Bolan tertawa melihat tingkah Arash.
Mereka menghabiskan waktu diatas kapal tersebut. Hingga menikmati indahnya perjalanan matahari sampai keperaduannya.
Kapal yang mereka naiki akhirnya berlabuh didermaga. Dengan santai mereka berjalan menuju Rumah besar. Sedikit lelah dengan perjalanan hari ini. Tapi terasa sangat menyenangkan.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...