Wanita Tersayang

Wanita Tersayang
Kehangatan Mama


__ADS_3

Mereka kembali ke apartemen nya. Setelah mendapat telepon dari mama Lena mereka buru buru ketempat mama Lena.


Mama Lena yang mendengar kabar dari bunda Arini merasa cemas langsung memeluk Avi saat mereka bertemu.


"Kamu ga apa apa sayang?" Mama melihat keatas dan kebawah tubuh Avi.


"Ya ma.. aku baik baik saja.." jawab Avi mencium pipi mama Lena.


Denis juga menyalami mama Lena. Ia memeluk hangat wanita paruh baya itu.


"Bagaimana keadaan mama?" Tanya Denis memangku mama Lena.


"Baik nak. Kapan kalian sampai dari tempat itu?" Tanya mama penasran.


"Beberapa hari yang lalu ma.. aku menyuruh Avi beristirahat dulu. Karena ia merasa lelah dan syok setelah menghadapi kejadian tempo hari." Jawab Denis duduk disamping kiri mama Lena.


"Mama sangat cemas dengan keadaan Avi. Mama takut jika membayangkan Arash akan berbuat kurang ajar padanya" mama membelai lembut pipi anak bungsu yang duduk disamping kanannya.


"Aku sudah disini ma, ga ada yang perlu dicemaskan. Tenangkan hati mama." Jawab Avi menenangkan perasaan mama Lena.


"Sayang ku... kamu ga apa apa?"

__ADS_1


Tiba tiba suara teriakan Deby terdengar dari luar rumah saat melihat Avi yang sedang duduk diruang tamu dengan mama Lena dan juga Denis.


"Aah kak Ebi... suaranya lembut sekali.." mama tersenyum melihat Avi yang berdiri dihampiri Deby.


"Syukurlah.. kamu masih utuh. Kakak dan kak Vita sangat cemas. Bahkan kak Ica setiap detik menelpon Denis untuk bertanya tentang kondisi terbaru mu." Deby kembali memeluk adik bungsu mereka.


"Kakak... udah deh.." Mereka tertawa melihat Avi menirukan gaya bicara Rezky Aditya suami Citra Kirana. Wkwkwkkw (mereka seleb kesayangan Author lho wkwkw)


"Dimana Ozan kak?" Tanya Denis yang mencari sosok bocah cilik yang selalu mengajak Denis bermain bola saat bertemu.


"Itu dengan papanya tidur dikamar" jawab Deby menyalami Denis.


"Kak Eby dari mana? Anak dan suami ditinggal aja." Kata Avi dengan kepo yang mulai meraja lela.


"Oh.. astaga aku tak melihat kakak memakai baju ini." Mereka serempak tertawa.


.


.


"Bund... aku ingin bertemu dengan Avi untuk terakhir kalinya. Tolonglah panggilkan dia bund... aku ingin minta maaf"

__ADS_1


Arash yang masih terbaring dirumah sakit sedang berbicara dengan Bunda Arini dengan nafas yang sedikit sesak. Selang oksigen terlihat membantunya bernafas. Matanya sudah terlihat sayu. Tidak sekokoh saat ia berhasil menculik Avi.


"Arash... apa yang harus bunda katakan padamu nak. Sudah berulang kali bunda meminta Avi. Ia tetap tak mau bertemu dengan mu." Bunda merapika selimut Arash.


"Bilang padanya... ini untuk terakhir kalinya bunda. Ia akan menyesal.."


Tiba tiba nafas Arash kembali sesak bahkan tubuhnya terangkat keatas. Kedua kaki dan tubuhnya kini tak berfungsi seperti dulu lagi. Dua tembakan membuat seluruh tibuh Arash menjadi lumpuh total. Ia masih beruntung bisa bicara dengan lancar.


"Sayang... lepaskan Avi dari hatimu nak. Relakan dia bahagia dengan suaminya. Agar ada ketenangan didalam sana" bunda Arini menyentuh dada Arash dengan meneteskan air mata.


Mata Arash menatap langit langit kamar rumah sakit tempat ia dirawat beberapa hari. Bulir bulir bening membasahi ujung matanya dan mengalir kepipi Arash.


Ia sangat berharap bertemu dengan wanita tersayangnya untuk terakhir kali. Bahkan ia ikhlas apa bila malaikat maut mencabut nyawanya setelah bertemu dengan Avi.


Ingin meluapkan segala kesalahan nya dengan jalan meminta maaf. Dan ia ingin mendengar sendiri dari mulut Avi.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2