
"Jadi, menurut kalian siapa yang akan diletakkan diposisi ini. Karna Cika sekarang gw pindah ke Sekretaris." tanya Arash kepada para anggota OSIS yang hadir.
Semua memberikan masukan dan saran.
Tak lama Rapat telah usai. Semua lega mereka telah mendapat keputusan yang dirasa baik untuk pemerintahan Arash setahun kedepan lagi. Karna ini sudah tahun Kedua bagi Arash menjabat ketua OSIS.
Semua telah pulang denga kendaraan masing masing. Disana ada Avi, Anin, Arash dan Tara.
"Gw duluan ya Ar.. yuk Nin, Aa' anter lagi." katanya sambil menarik tangan Anin.
"Bey Vi, aku duluan ya sayang, jangan cemburu ya suamikuh.. aku cuma selingkuh " goda Anin sambil mengedipkan sebelah matanya kearah Avi.
"Apaan sih... bawel."
"Avi juga duluan ya kak.."
"Udah aku yang anter deh. lagian ini motor kesepian ga ada yang bonceng" kata Arash sambil menggoda Avi
"Kan ga enak kak diantar terus, nanti jadi gosip yang ga ga disekolah kita" tolak Avi.
"Sekalian aja bikin gosip yang fakta..." senyum Arash yang berdiri didepan Avi.
"Ma maksud kak Arash?" tanya Avi
"Faktanya kamu terima aku jadi pacar kamu ya...?"
"Ha?? a-apa maksud kakak?"
"Kamu maukan jadi pacar aku?" tanya Arash dengan tatapan memohon.
Deg...
Aku harus jawab apa? kenapa tiba tiba jadi begini sih.. jantung ku seakan mau lepas saja. Ya ampun... aku harus apa? batin avi
"Vi... Avi.. kenapa diam saja?" Arash menggoyang goyangkan tangannya didepan wajah Avi.
"Avi mau pulang dulu..." Avi seketika berbalik dan meninggalkan Arash.
"Vi... tunggu aku." Arash mengejar Avi...
"Ya.. kak" Avi gugup tak melihat Arash.
"Jangan lari, aku gak maksa kamu. Kamu biasa saja ya. Sebentar..." Arash berlari mengambil motor nya dan mendekati Avi.
"Ayo naik..." pinta Arash.
Avi seperti tak bisa membantah kata kata Arash. Lalu dia naik kemotor Arash.
__ADS_1
.
.
.
Dirumah
Angin sangat kencang diluar rumah mama Lena. Hujan turun dengan sangat deras. Avi masih bangun sambil menatap langit langit kamarnya. Kata kata Arash masih terngiang ditelinga Avi. Antara bingung harus menjawab iya atau tidak. Sehingga ia malas untuk sekolah lagi.
Ah untung saja besok hari minggu, jadi aku ga ketemu sama dia. setidaknya sampai hari senin. Mama.. avi harus bagaimana... batin Avi.
.
.
"Avi.. avi... bantu kakak vi..." teriakan kakak Avi terdengar nyaring kekamar Avi.
Seketika ia bangun dari lamunannya...
"Kenapa kak?" tanya Avi panik.
"Ini... bantuin kita ngabisin.. ahahaha" Deby tertawa senang karna sudah menjaili adiknya.
"Ye... dikira ada apa... " kata Avi cemberut.
"Waah... ada martabak manis. Avi bawa yang ini ya? sekalian ada teman belajar." Kemudian ia membawa sekotak martabak manis kekamarnya.
Hari menunjukan pukul 8 malam. Mama dan anak anaknya berkumpul sambil memakan camilan yang dibawa suami Vita.
Tok tok tok..
"Ada yang ngetuk pintu.. siapa ya malam malam gini.?" Deby berjalan membuka pintu.
"Assalamualaikum.. selamat malam.." Kata seseorang yang berdiri didepan pintu rumahnya. Yang tak lain adalah Rahman.
"Waalaikumsalaam... iya malam, maaf cari siapa ya?" tanya Deby ramah.
"Siapa nak?" tanya mama.
"Ga tau ma, mama kenal ga?" kata Deby sambil berjalan mendekati mamanya.
Mama mendekati pintu rumah.
"Oh nak Rahman ada apa y, tumben malam malam gini. hujan lagi. Masuk saja yuk" Ajak mama ramah kepada Rahman.
"Ga usah buk, saya hanya mau pinjam dongkrak, karna tadi saya lihat ada mobil disebelah. Ban mobil saya bocor, dan tepat berhenti didepan." jelas Rahman.
__ADS_1
"Ooh.. itu mobil menantu ibuk. Ayo masuk, sambil nunggu hujan reda." ajak mama.
"Makasi buk.." kemudian ia masuk kerumah dan duduk.
Mama mengambil minum dan sedikit camilan dan meletakan dimeja didepan Rahman duduk.
"Silahkan nak Rahman, kebetulan menantu ibuk tadi membawa banyak camilan. Sebentar ya, ibuk panggil menantu ibuk dulu." Rahman mengangguk dan minum Teh yang tadi disuguhkan mama Lena.
Tak berapa lama, Adi suami Ica mendekat ke arah Rahman.
"Ada apa mobilnya? kata mama tadi mau minjam dongkrak ya?" kata Adi ramah lalu duduk didepan Rahman.
"Betul bang, mobil saya ban nya bocor, berhentinya tepat didepan. karna lihat mobil,saya kira pasti ada dongkraknya." jawab Rahman.
"Oh... pakai saja mobil saya pulang, besok baru diganti, lagian ini udah malam, hujan deras lagi. Sepertinya awet sampai pagi." basa basi Adi pada Rahman.
"Apa ga merepotkan bang? saya jadi ga enak." kata Rahman sambil tersenyum tidak enak hati. Karna menganggu keluarga besar ini malam malam.
" Sudah bawa saja Rahman, kan bang Adi juga sudah memberi izin langsung. Hujannya ga akan berhenti cepat deh." kata Ica menyambung ucapan suaminya.
"Baiklah kalau begitu saya pamit dulu ya buk, bang dan kakak." katanya sambil berdiri dan mengambil kunci mobil yang diberikan Adi.
Mereka melepas kepergian Rahman. Walaupun hujan deras,tapi mereka masih melihat mobil tua milik iparnya dibawa pemuda yang baru dikenalnya.
"Semoga aja ga dibawa kabur mobil abang..hehehe" kata Deby seraya melirik Vita dan Mama.
"Ga apa dibawa kabur kok. Mobilnya aja bagus yang ditinggal. Bisa mahal kalau dijual" canda Ica sambil mengunci pintu.
"Masa sih?" tanya Vita dan Deby serentak...
"Udah kalian suuzon aja. Dia baik kok."
Sambung mama sambil mencubit hidung Deby.
"Trus kalau baik kenapa ma?" tanya Deby penasaran.
" Mau mama ambil mantu... ahahahha" jawab mama sambil berlalu masuk kamarnya...
"Aa.. ga mau, Ebi udah punya pacar.." teriak Deby cemberut.
"Yang jodohin kamu siapa?" teriak mama dari dalam kamar.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...