Wanita Tersayang

Wanita Tersayang
Kerja sama


__ADS_3

Sore itu Anin berjalan menuju sebuah restoran mewah disebuah hotel ternama. Berdasarkan alamat yang diberikan penelpon misterius tadi pagi. Anin melajukan langkahnya lebih cepat kemeja yang dimaksud.


Meja nya masih kosong.. dimana dia.?


Anin menoleh kekanan dan kiri mencari siapa pemilik suara yang menelponnya tadi pagi. Ia harus mendapatkan kesempatan lagi supaya perusahaan yang telah susah payah dibangun kakeknya tidak hancur begitu saja.


Setidaknya ia harus melakukan segala upaya. Untuk menaikan kembali perusahaan yang sudah mulai runtuh.


Dia berjalan dan duduk kemeja yang dimaksud sipenelpon tadi. Menunggu dengan gelisah dan penasaran siapa yang menelponnya.


"Hai... sudah menunggu lama sayang..."


Anin menoleh kearah sampingnya mencari tahu siapa yang menyapanya barusan.


"Tara? Kau disini?" Ia membulatkan matanya menatap pria yang pernah menjalin hubungan serius dengan nya sejak SMA.


"Kau merindukanku?" Tara duduk didepan Anin.


"Silahkan pergi ... aku sedang menunggu seseorang!" Ucap Anin ketus pada Tara.


"Siapa? Roy? Kamu masih berharap ia mau membantumu? Tidak mungkin... ia pria gila harta" Tara seakan menebak pikiran Anin.


"Kau pikir kau tidak lebih gila darinya?" Anin menatap tajam Tara. Kekasihnya dimasa sekolah lalu hingga ia lulus kuliah. Kemudian mereka putus karena Tara berselingkuh dan sudah memiliki seorang anak. Dan kini ia memperistri selingkuhannya yang juga janda kaya yang lebih tua usianya dari Tara.


"Aku secara terang terangan sayang... tidak seperti Roy... dia bersembunyi hahahahha" Tara melepaskan tawanya mengejek Anin.


"Pergilah...'jangan mengganggu ku!" Teriak Anin pada nya.


"Lalu bagaimana dengan bantuan untuk perusahaan mu sayang..?" Tara bertanya pada Anin yang membuat wanita itu terjebak dengan ucapannya sendiri.


"Maksudmu... ooh... ternyata kau yang menghubungi ku pagi ini?" Anin langsung menebak Tara.


"Kamu pintar sekali sayang, makanya aku suka. Tapi kamu kurang kaya saja. Hahahha" Tara membuat Anin semakin kesal padanya.

__ADS_1


"Kalau begitu... takan ada kerja sama" Anin berdiri ingin meninggalkan tempat itu.


"Kamu akan biarkan perusahaan mu bangkrut sayang?" Tanya Tara masih sombong.


"Biarkan saja. Aku tak sudi bekerja sama dengan mu." Ucap Anin lebih sombong lagi.


"Perusahaan mu akan hancur lebur Anin" Tara mulai cemas ketika Anin bertindak masa bodoh.


"Biarkan saja! Aku masih bisa mencari pekerjaan atau... mencari lelaki kaya. Aku bisa belajar dari cara cara mu dulu. Bukan begitu?" Anin berjalan meninggalkan Tara.


"Baik lah Anin... aku minta maaf. Duduk lah kembali." Tara mengejar Anin dan mengajaknya untuk bicara lagi.


"Sepertinya kamu yang sangat butuh bekerja sama dengan ku Tara." Anin duduk manis didepan Tara. Ia mengurai senyum mengejek untuk Tara.


"Perusahaan ku tergantung padamu juga Anin. Sekarang dengarkan aku.. ada hal yang harus kau lakukan." Tara tersenyum licik melihat kearah Anin.


Sementara itu seseorang mengawasi mereka dari sudut ruangan itu. Ia bisa yakin jika Tara bisa mengurus segalanya.


"Ya... " Tara meminum kopinya yang hampir dingin.


"Baiklah.. asalkan tidak melewati batas. Aku juga tak ingin merusak hubungan orang lain." Anin berdiri dan meninggalkan tempat itu.


Mereka menemukan kesepakatan. Dengan ini perusahaan Anin akan baik baik saja. Bahkan bisa berkembang dengan baik.


.


.


"Kapan kalian kembali dari pulau sayang?" Mama Lena menyambut anak dan menantunya yang sudah turun dari mobil.


"Assalamualaikum ma..." Denis dan Avi mencium tangan wanita paruh baya tersebut.


"Ayo masuk.... Avi letakan barang barang kalian dikamarmu. Mama sudah bersihkan kamarmu."

__ADS_1


"Sebentar Uda, aku kekamar dulu." Ia berjalan membawa sebuah tas kecil kearah kamar.


"Biar aku bantu membawakan." Denis dengan cepat berdiri membawa beberapa tas kedalam kamar Avi.


"Wow... mama menghias ini semua?" Tanya Avi pada mama saat mendekati pintu kamarnya.


"Masuklah..." mama melihat dari arah luar.


"Indah sekali..." gumam Denis.


"Apa kamu mau bersih bersih?" Tanya Avi pada suaminya.


"Nanti saja. Lagipula kita baru sampai. Ga enak dengan mama." Bisik Denis yang tentu saja terdengar oleh mama.


"Mama kewarung dulu ya... kasian pembeli menunggu. Kalian istirahatlah. Pasti lelah karna perjalanan jauh" mama meninggalkan mereka.


"Kenapa rumah ini sangat sepi sayang? Biasany jam segini masih rame." Tanya Denis heran karna kakak Avi tak nampak disini.


"Mungkin dirumah kak Ica..." jawab Avi.


"Bukannya kak Ica tinggal disini?" Tanya Denis penasaran.


"Benar, tapi sekarang dia sedang membgun rumah tak jauh dari rumah mama. Nanti kita kesana. Kamu mandilah ..." Avi membereskan pakaian nya.


"Temani ya..." bisik Denis ditelinga Avi yang sudah membuka hijabnya.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2