Wanita Tersayang

Wanita Tersayang
Kehamilan Avi


__ADS_3

Mereka tengah menikmati makan siang. Hari ini mama Lena dan Vita memasak banyak makanan. Karena weekend ini semua anak dan menantunya berkumpul dirumah Mama Lena.


"Ada apa sayang? Apa kamu baik baik saja?" Denis melihat Avi yang terlihat pucat mengunyah makanan nya.


"Aku baik baik saja. Mungkin masuk angin." Jawab Avi tersenyum kearah suaminya.


Mama yang menyadari keganjilan pada Avi segera berdiri dan memegang kepala Avi. Ia juga memeriksa denyut nadi Avi dan memegang leher anaknya sebentar.


Ica, Vita, Deby saling memandang, mereka saling tersenyum dan menghela nafas karena merasa yakin akan sesuatu yang mama perbuat pada Avi.


"Hmmm... sepertinya, anggota keluarga kita akan bertambah deh..." Vita menggoda Denis dengan tatapan anehnya.


"Maksud kakak?" Denis tak mengerti. Ia juga melihat mama tersenyum dan kembali ketempat duduknya.


"Setelah makan nanti bawalah Avi kerumah sakit Denis. Hanya untuk memastikan saja." Tambah Ica dengan wajah serius.


"Apakah istriku terkena penyakit?" Tanya nya menatap pada semua orang.


"Bisa jadi.. maka dari itu sebelum bertambah parah periksalah kedokter kandungan" Deby terkekeh menjawab pertanyaan Denis.


"Dokter kandungan?" Tanya Denis dan Avi serentak.


"Ya.. dokter kandungan juga bisa mendeteksi penyakit yang ada diperutmu melalu USG" jawab Ica lagi. Kali ini melepaskan tawanya.


"Apa ada yang aneh? Kenapa kakak tertawa.?" Tanya Denis melihat Ica dan semua orang teraenyum senyum.


"Sudah jangan menggoda calon ayah muda ini.. kalian kebiasaan usil.." jawab mama menghentikan anak anak nya.


"Ayah muda?" Gumam Avi

__ADS_1


"Hmmm... apa aku akan menjadi... apa kamu hamil sayang?"


Mata Denis berbinar binar. Ia mengecup kening istrinya tak sadar mereka masih berada dimeja makan.


"Mama mau temani aku kerumah sakit membawa Avi periksa?" Tanya Denis menatap mama Lena menunggu jawaban wanita tua itu.


"Ya.. baiklah mama akan ikut."


"Terimakasih ma. Dan buat kakak semua kalian sungguh... ter..laaa..lu..."


Semua tertawa mendengar perkataan Denis yang menirukan gaya bicara sang Raja dangdut indonesia.


.


.


Mereka sampai didepan Rumah sakit. Tempat Avi akan memastikan kebenaran tentang prediksi mama tentang kehamilannya.


"Silahkan berbaring kesini nyonya Avi. Kita akan langsung melihat nya dilayar ini."


Dokter mengolesi perut Avi dengan salap dingin. Dan memeriksa kebenaran janin didalamnya.


"Waah... benar sekali. Selamat ya Tuan Denis dan Nyonya Avi. Kalian akan menjadi calon orang tua." Dokter memberikan selamat saat memeriksa Avi.


"Dimana anak saya dok?" Tanya Denis tak sabar


"Saat ini janin masih berumur 6 minggu. Masih terlihat sebesar biji kacang. Ini dia.." dokter menunjuk kelayar seperti biji kacang yang ia klaim bahwa itu bayi Avi.


"Kecil sekali..." ucap Denis tanpa sadar.

__ADS_1


"Iya Tuan Denis. Janin akan berkembang dan siap lahir setelah usia lebih kurang 9 bulan." Jelas Dokter.


"Terima kasih Dokter" jawab Avi yang kembali menutup perutnya.


"Nanti saya akan berikan resep untuk nyonya, diminum setiap hari ya.. dan juga susu yang baik untuk janin."


"Terima kasih Dokter" mama menyalami dokter dan mereka keluar daei ruangan itu.


Denis terlihat sangat senang. Mata nya berkaca kaca memandang istrinya. Ia tak bisa membayangkan Avi dalam kondisi hamil saat Arash menculiknya. Dan memikirkan hal buruk yang bisa terjadi. Untung saja Tuhan selalu menolong mereka saat susah dan senang.


"Mama dan mama muda tunggu disini ya. Aku mau menebus obatnya." Denis berjalan tergesa gesa ketempat penebusan obat.


"Selamat sayang.. kamu akan menjadi seorang ibu." Mama menciumi kening Avi.


"Makasi ma..." Avi mengenggam jemari mama Lena sambil menunggu Denis datang.


"Apa sebaiknya kamu tinggal dirumah sayang? Jika diapartemen kamu akan sendirian. Karena Denis bekerja." Pinta mama.


"Aku juga berpikir begitu ma. Nanti akan kubicara kan dengan Uda Denis." Jawab Avi.


Ia memperhatikan setiap sudut ruangan rumah sakit sesekali melihat tempat Denis berjalan tadi. Ia merasa melihat seseorang yang mereka kenal.


"Ma.. bukankah itu bunda Arini?" Avi menunjuk kearah yang ia maksud.


"Hmmm.. benar. Itu Arini. Sedang apa dia disini?" Tanya mama sambil berdiri berniat untuk menghampiri Arini.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung..


__ADS_2