
"Pak kita berhenti sebentar diminimarket ya pak.." perintah Bunda Arini pada supirnya. Setelah menemukan minimarket mobilpun berhenti. Arash yang pura pura tidur malah tidur benaran. Avi membangunkan nya.
Mereka semua turun untuk melepaskan rasa penat karna lama duduk dimobil. Ada yang langsung mencari toilet. Bunda dan mama masuk kedalam mini market. Mereka memilih camilan dan minuman segar.
"Udah biar aku aja yang bayar Len," Tolak bunda melihat mama sudah membuka dompetnya.
"Tapi ini banyak lho Rin." ucap mama Lena ga enak hati
"Kamu seperti orang lain saja. Sebentar lagi juga kita akan jadi keluarga benaran. udah deh." Kemudian bunda membayar belanjaan mereka.
"Kamu bagi bagi buat mereka ya Ar...!" kata bunda memberikan sekantong barang belanjaan.
"Siap boss" jawab Arash memberi hormat.
Setelah semua masuk , mobil melaju lagi ketempat tujuan. Kesebuah pulau yang sebenarnya sudah diolah oleh ayah Arash untuk tempat wisata yang sangat indah. Tentu saja itu punya keluarganya.
.
.
.
Dengan perjalanan yang cukup melelahkan akhirnya mereka sampai ke sebuah pulau. Bunda membawa ketempat peristirahatan mereka. Terlihat seperti rumah, cuma lebih besar. dikelilingi kolam renang dikanannya . Halaman yang cukup luas, dihiasi taman taman bunga dan tumbuhan lainnya.
Semua takjub melihat dimana mereka sekarang. Pemandangan yang tak pernah mereka pikir bisa merasakannya. Penjaga tempat tersebut menyambut mereka lalu mengantar kan kekamar masing masing.
"Nanti setelah membersihkan diri kita akan makan siang ya. Jangan lupa ya. Nanti bunda tunggu disini lagi." Jelas bunda berjalan duluan kekamarnya.
Semua sudah masuk kekamar masing masing. Sementara tinggal Avi berdua dengan Arash dilobi.
"Apa kak Arash tak mau aku kekamar?" tanya Avi dengan wajah cemberutnya
"Kekamar ku saja..." jawab Arash dengan menggoda pacarnya.
"Jika sudah halal tentu saja. Sekarang kita kekamar masing masing ya..." tolak Avi melepaskan tangan Arash.
"Tapi kan...." ucapan Arash terpotong karna Avi sudah berlari kearah kamarnya.
__ADS_1
"Wee....." Avi menoleh kebelakang menertawai Arash. Arash juga ikut tertawa.
Oh waktu cepatlah berlalu... Batin Arash
Semua turun untuk makan siang , walaupun waktunya sedikit terlambat. Diatas meja makan sudah terhidang berbagai menu. Pelayan dirumah itu sangat bersemangat karna kedatangan bos mereka. Sudah lama juga keluarga Arini tidak datang kesana.
"Silahkan nyonya, tuan muda, nona. Makanan sudah bisa disantap." sambut kepala pelayan melihat majikan beserta tamunya mendekati meja makan.
"Terima kasih bi, seharusnya tidak perlu repot begini ya. Besok tunggu kabar dari saya menu selanjutnya." kata bunda kepada kepala pelayan tersebut.
"Baiklah nya, selamat menikmati," kemudian ia kembali ketempatnya.
"Silahkan , ayo mari duduk. Lena kamu disini ya" kata bunda menepuk kursi yang kosong disebelahnya. Mama Lena pun menghampirinya.
Mereka mulai menyantap hidangan yang disediakan. Avi dengan sigap mengambilkan makanan untuk Arash. Bunda dan mama saling lirik melihat tingkah anak keduanya.
.
.
"Hati hati ya, jangan jauh jauh. Sebentar lagi akan gelap" kata mama pada Bolan. Lalu mereka pun pergi.
Sementara Arash masih menunggu Avi di meja makan yang sedang mengupas buah untuk diberikan pada mama dan bunda.
"Masih lamaya?" Arash sudah tidak sabar ingin mengajak Avi keluar ke tepi pantai.
"Sabar.. kamu manja ya disini?" lirik Avi sambil tetap mengupas buah.
"Aku ingin mengajakmu ketepi pantai. Katanya suka pantai kan.?" jelas Arash.
"Lagian apa salahnya bermanja dengan pacar sendiri.. heheheh" Avi tetap melanjutkan acara kupas buahnya.
"Aku tunggu ditaman belakang ya.." Kemudian Arash pergi ketaman belakang. Disana melihat taman bunga yang indah sehingga ia tidak merasa bosan menunggu Avi.
Sementara bunda dan mama membahas tentang bagaimana anak anak mereka kedepannya. Mama lebih merasa senang lagi karna yang akan menjadi calon suami Avi adalah sahabatnya sendiri. Tak lama kemudian Avi datang membawa potongan buah untuk mama dan Bunda.
"Makasi sayang.. Arash mana?" tanya bunda yang sedang mengambil satu potongan buah yang tak melihat Arash.
__ADS_1
"Mungkin ditaman belakang bund." Jawab Avi yang duduk disebelah mamanya.
"Temui Arash ya. Mama sedang bicara penting sama bunda." Kata mama lembut membelai rambut panjang Avi.
"Avi cari kak Arash dulu ya ma, bunda.. dihabiskan buahnya ya..." seraya memberikan senyumannya pada kedua ibu tersebut. Ia menuju taman belakang yang diantar pelayan rumah itu. Karna tempat nya lumayan hafal dan Avi harus bertanya dulu dimana taman belakang. Tak berapa lama Avi melihat Arash yang sedang sibuk memperhatikan sebuah tanaman.
"Sedang lihat apa sih?" tanya Avi yang juga memperhatikan tanaman yang dilihat Arash.
"Bunganya bagus, warna ungu. Cantik bukan?"Jawab Arash yang telah menyadari kedatangan Avi.
"Iya cantik."
"Seperti kamu..." Arash mencolek hidung Avi
"Bunga itu sama seperti perempuan lho, jika terlalu sering disentuh akan gampang layu. Misalkan bunga yang bisa bertahan 30 hari akan berkurang ketahanannya menjadi 26 hari. Dan akan cepat layu." Kemudian ia berjalan ketanaman lainnya.
"Seperti ini kak, tidak akan terlihat cantik lagi..." tambahnya sambil menunjukkan bunga yang sedikit layu pada Arash.
"Tapi jika disentuh oleh satu kumbang saja tanpa sentuhan kumbang lain, bunga itu akan tetap terlihat cantik. Karna ada satu kumbang disana yang menjaganya." tambah Arash memeluk Avi dari belakang dan mencium rambutnya.
"Sama seperti kita.. hanya kamu dan aku" Arash memegang lengan Avi membalikkan kearahnya.
"Kamu hanya boleh dicintai oleh seorang Arash saja. Sampai hubungan ini menjadi halal." Ia mencium kedua punggung tangan Avi.
"Tapi.. aku masih belum cukup umur untuk membicarakan itu sekarang kak, perjalanan kesana masih begitu jauh." Avi berjalan melihat banyak tanaman lainnya. Dia kembali menatap Arash yang mematung menatapnya.
"Apakah kamu tidak yakin kepadaku?" tanya Arash yang masih diam disana.
"Aku percaya sama kak Arash."
.
.
.
Bersambung
__ADS_1