
Avi membuka jendela mencoba tersenyum kearah wanita itu. Wanita yang diduga Naina itu menarik tangan Avi.
"Aku Naina. Ayo ikut aku. Diluar seseorang sedang mencarimu."
Avi mengikuti Naina berjalan kearah bangunan toko roti yang ada disebelahnya.
"Ini rumah ku, sembunyilah disini sambil beristirahat. Nanti akan ada orangnya Denis akan mengambil mobil yang kamu bawa tadi. Untuk mengalihkan perhatian orang yang mencari mu." Naina menunjukan kamar tamu kepada Avi.
"Terima kasih banyak.. kamu telah membantu ku." Avi memegang tangan Naina. Kemudian menyerahkan kunci mobilnya.
"Aku keluar sekarang. Jika kamu lapar carilah sesuatu didapur. Ada makanan yang aku masak tadi." Naina keluar dari rumahnya. Kembali ke Toko roti.
"Apakah orang itu sudah pergi?" Tanya Naina pada salah seorang karyawannya.
"Sudah buk. Sekitar 10 menit yang lalu. Pelanggan kita ketakutan. Mereka seperti nya bukan orang baik baik" jelas karyawan Naina.
"Bisa jadi... syukurlah mereka pergi. Jika tidak toko kita akan bangkrut" Naina kembali keruangan nya.
.
.
Denis masih dalam perjalanan menuju kelokasi Avi. Ia sangat tidak sabar untuk bertemu dengan istrinya.
"Avi.. sebentar lagi aku sampai... bersabarlah sayang" ia terus bergumam.
Tak lama kemudian orang suruhan Denis masukmke toko roti nilik Naina.
"Buk, ada yang ingin bertemu.." security toko itu memasuki ruangan Naina.
"Siapa pak?" Tanya Naina menoleh pada security yang berdiri diambang pintu.
__ADS_1
"Dua orang laki laki, katanya disuruh pak Denis." Jelas security tersebut.
"Ya. Aku menunggunya. Persilahkan mereka masuk"
Security itu keluar dari ruangan Naina dan kembali lagi bersama dua orang tamu Naina. Naina menemani kedua orang suruhan Denis ke arah mobil yang dimaksud.
Ia menyerahkan kunci mobil sebelumnya mengeluarkan ponsel didalam mobil. Naina mengira itu ponsel milik Avi.
Ia menuntun mobil yang dibawa lari Avi untuk keluar dari halaman toko nya.
Avi melihat dari dalam rumah Naina. Ia melihat wanita itu berjalan kearahnya.
"Avi.. apakah ini ponselmu?" Tanya Naina sambil menyerahkan ponsel yang dimaksud.
"Bukan. Tapi memang ponsel ini yang kupakai untuk menghubungi Denis." Jelas Avi bingung akan melakukan apa terhadap ponsel ini.
Dret dret...
"Ya aku dirumahnya. Apakah kamu masih lama.?" Dia bertanya balik.
"5 menit aku sampai.." Denis memutuskan sambungan teleponnya.
"Apa itu Denis?" Tanya Naina melihat ponsel ditangan Avi.
"Ya ia bertanya apa aku sudah bersama mu" jawab Avi dengan tersenyum.
"Syukurlah aku mengeluarkan ponsel ini." Naina merasa telah melakukan hal yang benar.
"Benar ... terimakasih." Avi lagi lagi berterima kasih atas bantuan wanita didepannya.
Tak lama setelah percakapan mereka, suara helikopter terdengar berhenti dihalaman belakang Naina. Halaman itu cukup luas hingga bisa memarkirkan sebuah helikopter.
__ADS_1
Tampak Denis segera turun dan berlari kearah Avi yang sedang berdiri didepan pintu rumah Naina.
"Sayang... kamu baik baik saja?" Denis langsung menyambar tubuh istrinya masuk kedekapan tubuh kekarnya.
"Ya.. aku baik Uda." Avi juga membalas pelukan suaminya.
"Terima kasih kak Naina... gerakan mu sangat tepat. Aku berhutang padamu..." Denis menyalami wanita yang bernama Naina itu.
"Sama sama.. itulah gunanya saudara Denis.. akhirnya aku berguna juga mu" Denis tersenyum saat mendengar ucapan Naina.
"Apa kalian adik kakak?" Selidik Avi
"Ya... kami saudara .." jawab Denis memandang kakaknya.
"Maafkan aku.. aku benar benar tidak tau." Avi memegang tangan Naina.
"Tidak perlu minta maaf... aku juga tidak bilang."
Mereka melepaskan tawanya. Naina menyuruh Denis dan istrinya masuk kerumah. Dan mengajak menginap untuk beberapa hari.
Karena merasa tak enak hati menolak orang yang telah menolong mereka akhirnya Denis memutuskan menginap dirumah kakaknya semalam saja.
Naina sangat senang karena ia sudah lama tak berjumpa dengan Denis. Semenjak ia diusir dari rumah orang tua mereka.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1