Wanita Tersayang

Wanita Tersayang
Panggilan baru


__ADS_3

5 tahun kemudian


Waktu begitu cepat berlalu. Sekarang Avi menjadi wanita cantik yang dewasa. Setelah menyelesaikan S2nya dia bekerja pada perusahaan Denis. Sebagai Direktur pemasaran. Dia sudah terlihat dewasa dengan hijab cantiknya.


Setelah tinggal sendiri tanpa orang orang tersayangnya. Avi memutuskan untuk meneruskan pendidikan kekota lain, agar tak ditemukan oleh Arash. Dia tinggal diapartemen Denis. Mereka tak lagi tinggal bersama beberapa hari sejak bertemu keluarga Avi.


Berkat bantuan Denis Avi bisa sejauh ini. Mereka mulai menjalin hubungan yang serius. Saat jauh berbeda dengan Arash, Denis sangat menghargai Avi. Selalu bisa menjadi teman dan kekasih yang baik. Dan saat ini mereka mulai memikirkan masa depan untuk hidup bersama menjadi sebuah keluarga.


Arash benar benar hilang dari hati Avi. Pemuda yang dulu nya sangat ia cintai. Dengannya Avi sampai melakukan pertunangan walau dengan usia yang sangat muda. Entah bagaimana kabar pria yang dulu mengisi hatinya itu sekarang.


Bahkan saat bertanya kabar dengan mama dan kakaknya, Avi tak pernah menyebut nama Arash. Ya, walaupun Avi sekarang jauh daei keluarganya tapi tiap hari mereka selalu berkomunikasi. Membuat mama Lena mulai terbiasa dalam menjalani hari harinya.


Jika ada sanak saudara yang bertanya mama hanya menjawab Avi sedang mencari peruntungan di rantau orang. Suatu saat dia pasti akan kembali. dengan kedewasaan yang lebih matang dan lebih baik.


"Sayang, kita mau kemana?" Tanya Denis terus fokus menyetir.


"Aku ingin pulang kak, Aku rindu keluargaku." matanya berkaca kaca mengingat keluarga yang telah lama dia tinggalkan.


"Sekarang?"


""Hmmm... besok pagi saja. Sekarang juga sudah larut malam." Avi melihat Denis yang duduk disebelahnya.


"Baiklah, kita makan dulu. Aku lapar"


"Di apartemen saja, aku ada beberapa bahan makanan dikulkas. Itu bisa kita olah" senyum Avi mengambang diwajahnya.


"Ide bagus..." Denis melajukan mobilnya ke apartemennya yang kini ditempati Avi.


Avi dan Denis berkutat didapur mempersiapkan makan malamnya, meracik beberapa bumbu. Sementara Denis membantu memotong beberapa sayuran.


"Apa sudah ada jawaban sayang?" Tanya Denis memecah keheningan diantara mereka karna sibuk dengan kegiatan masing masing.


"Tentang apa?" Avi tak melihat Denis.

__ADS_1


"Sayang, jangan mempermainkan aku" Kali ini Denis melihat kearah Avi.


"Aku bersungguh sungguh kak, aku lupa" senyuman nya tertahan melihat Denis.


"Avi...."


"Apa sayang?"


"Aku melamar mu ... untuk jadi istriku" Denis menghampiri Avi.


"Ooh..."


"Hanya itu?"


"Sayang... perut ku lapar, aku tak bisa berpikir disaat lapar." kali ini dia melihat Denis yang sudah berdiri disampingnya. Denis kembali kemeja tempat ia memotong sayuran.


"Apakah kamu benar benar mencintaiku?"Avi menoleh kearah Denis. Dia tau jika Denis saat ini mulai gelisah bahkan bertanya seperti itu seakan meragukan cintanya.


"Kakak, sudah lebih 3 tahun kita bersama sebagai sepasang kekasih. Apa kamu pernah mengkhianati mu?"


"Lantas?"


"Aku hanya merasa masih ada dia dihatimu" Avi mendekati Denis dan berdiri dibelakang Denis yang sedang duduk memotong sayuran.


"Kakak, aku sangat menyayangimu. Aku mencintaimu. Apalagi yang bisa kakak ragukan? jangan mengingat masa lalu ku. Semoga sudah hilang dimakan waktu. Bahkan menyebut namanya pun aku tak rela." Dia mencium pipi Denis dari samping tapi Denis malah melihatnya. Dan bibir mereka bertemu.


Avi cepat kembali ketempatnya. Karna takut ayam yang digorengnya menjadi gosong.


"Maafkan aku sayang...." Denis mendekati Avi membawa sayur yang telah dipotongnya.


"Aku akan menjawabnya setelah kita bertemu keluargaku" Avi tersenyum menatap Denis. Pria itu melayangkan lagi kecupannya.


"Aku menunggunya" Denis mencuci tangannya dan duduk disofa menyalakan televisi. Untuk menetralisirkan dirinya agar tak berbuat jauh dengan Avi.

__ADS_1


Avi tau itu, jika Denis sering tiba tiba menghindar darinya untuk sebuah alasan supaya tak lebih jauh melewati batasan. Walapun hanya sebuah kecupan tapi mereka jarang melakukannya. Denis menghargai Avi bersama hijab yang dia pakai. Bahkan seharusnya tak ada kecupan diantara mereka. Tapi mereka hanya manusia biasa yang sering melakukan kekhilafan.


Makanan tersaji dimeja makan. Dengan lahap mereka menyantap makanan enak hasil karya keduanya.


"Aku ingin selalu seperti ini, sampai tua nanti." Avi merona mendengar ucapan Denis. Karna dia juga menginginkan yang demikian.


"Setelah kita menikah nanti kamu tidak perlu bekerja. Aku akan buatkan usaha untukmu supaya aku tak terabaikan. Seperti membuka boutique.. itu tak terlalu mensortir perhatianmu."


"Terserah kakak saja" Avi terus memakan makanan dihadapannya.


"kakak? apa tak ada panggilan lain untukku?"


"Kenapa?"


"Sering kali mereka mengira aku kakakmu"


"Apa aku harus memanggilmu abang? atau uda?"


"Uda saja, aku menyukai itu"


"Atau mas Denis?"


"Itu bukan kita"


"Baiklah uda... aahahha aku merasa aneh" Avi terkekeh sendiri mendengar mulutnya.


"Coba lah pelan pelan... nanti juga terbiasa."


"Baiklah uda..." Denis terkekeh melihat Avi yang memerah memanggilnya dengan Uda, panghilan khas minang kabau.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2