Wanita Tersayang

Wanita Tersayang
Benci


__ADS_3

"Apa yang terjadi vi?" Rahman bertanya karna cemas melihat keadaan Avi yang lari tanpa mengenakan alas kaki. Bahkan ponselnya masih tertinggal dikamar Anin.


"Tidak ada apa apa kak Rahman" Avi merasa tak enak dengan Rahman. Ia masih enggan bercerita pada orang yang baru dikenalnya.


"Baiklah, kamu mau pulang? akan aku antar"


"Tidak . aku ga mau pulang."


"Lalu kamu akan kemana Vi?" Avi menggelengkan kepalanya melihat kearah Rahman. Tanpa pikir panjang Rahman membawa Avi ke apartemen miliknya. Karna ia tinggal sendiri disana.


Ia tak tega membiarkan gadis seperti Avi terlunta lunta karna tak tau arah tujuan.


Sementara Avi masih ragu untuk masuk ke apartemen Rahman. Dia masih belum mengenal pria seperti apa Rahman itu. Bisa saja ia masuk ke kandang singa. Ia tetap memasang mode waspada dalam setiap langkahnya.


"Ayo masuk." Ajak Rahman meletakan barang belanjaannya.


"I iya kak" Avi masuk dengan langkah hati hati. .


"Kebetulan ada kamar yang kosong. Bersihkan dirimu disana." kata Rahman sambil menunjuk dimana pintu kamar berada. Sementara ia masih sibuk menyusun bahan bahan dapur dikulkas dan dilemari.


"Akj tidak apa apa" ucap Avi masih berdiri didepan Rahman. Dia melihat ada seorang lagi yang berdiri disamping Rahman. Tempatnya berdiri terasa berputar. Lama lama penglihatannya semakin gelap.


Brugh..


Avi jatuh kelantai. Rahman kaget langsung berlari menghampiri Avi. Dia menggendong Avi kedalam kamar. Ia rebahkan tubuh gadis dambaan hatinya.


Rahman masuk kekamar mandi dan membawa kain yang telah dibasahinya sedikit.


"Maaf vi.."


Rahman membasuh tangan Avi dengan kain yg ia bawa tadi. juga mencuci kakinya yang sedikit kotor karna tak mengenakan alas kaki. Setelah bersih ia menyelimuti Avi. Keluar kamar dan menghubungi seseorang.


Tak lama seseorang yang ditelpon Rahman datang dengan perlengkapannya.


"Siapa yang sakit ?" tanya nya

__ADS_1


"Temanku paman" jawab Rahman


"Kenapa dia disini malam malam?" paman itu terlihat tak percaya pada Rahman.


"Denis, kamu berani bermain main sekarang? siapa dia" Paman Rahman ternyata seorang dokter. Wajahnya masih terlihat muda tak beda jauh dengan Rahman. Tapi kenapa ia memanggil Rahman dengan sebutan Denis? Author ga ngerti juga deh. Mungkin panggilan kesayangan pada ponakannya.


" Aduh paman. Aku tak sengaja bertemu dengannya ditepi jalan. Dia sangat ketakutan makanya aku tolong. Dan sampai disini dia sudah seperti yang paman lihat" Penjelasan Rahman diterima oleh pamannya sekaligus juga dokter.


"Hubungi keluarganya Denis!" perintah paman Rahman.


"Aku ga tau" jawab Rahman asal.


"Apa kamu mau dia berlama lama disini? keluarganya bisa saja menyalahkanmu."


"Aku tidak kenal, setelah dia pulih aku akan menyuruhnya pergi" Dia terus melihat wajah cantik itu.


"Paman ingatkan, jangan masuk kedalam masalah orang lain"


"Ya aku mengerti paman, terima kasih. Satu lagi paman jangan beritahu orang tua ku. Percayakan pada ku."


"Baiklah, aku pergi dulu." sambil menyodorkan obat untuk Avi. Dia berlalu meninggalkan apartemen Rahman atau Denis? Siapa sebenarnya dia?


Mata gadis itu terbuka perlahan, memegang kepalanya yang terasa sakit. Melihat pemandangan sekeliling tempat ia tertidur.


Dimana ini? Kepala ku sakit sekali


Ia mencoba mengingat apa yang terjadi sampai dia berada dikamar mewah ini.


Astaga... Rahman.. Tadi aku bersamanya. Tenyata ini apartemennya.


Pintu terbuka Rahman membawa makanan dalam nampan. Ia meletakan dinakas, kemudian duduk disebelah Avi terbaring.


"Ada makanan, makanlah" Avi bergerak hendak duduk, buru buru Rahman membantunya.


"Terimakasih kak" Avi mengambil makanan menyicipi dan memakannya tanpa basa basi karna perut nya juga belum terisi sejak pagi tadi, mungkin itu yang membuatnya pingsan. Teh jahe hangat yang juga terhidang disana juga dihabiskan Avi.

__ADS_1


"Apa kamu mau air putih?" Avi mengangguk, memperhatikan Rahman berjalan keluar kamar. Lalu kembali lagi dengan membawa segelas air putih.


"Maaf aku merepotkan kakak" Avi mengambil segelas air minum yang diberikan Rahman. lalu meminumnya.


Rahman menatap Avi penuh tanda tanya. Tapi dia enggan untuk bertanya. Tidak ingin berlarut masuk kedalam kehidupan Avi. Karna penolakan Avi menjadi pengalaman baginya. Tak ada lagi harapan. Teman hanya itu yang pantas ia raih saat ini.


"Avi kenapa? siapa yang mengejar mu hingga kesetanan seperti itu?" Avi menghela pelan nafasnya lalu melepasnya.


"Arash.."


"Bukankah dia kekasihmu?"


"Benar..."


"Apa dia hendak berbuat kurang ajar padamu?"


"Bukan... hanya saja ia memaksa menikahi ku"


"Bukankah bagus?"


"Tapi masih menyelesaikan sekolahku" Avi tertunduk malu bercerita kepada orang yang pernah ditolaknya.


"Istirahatlah... besok kita akan bicara" Rahman meninggalkan kamar itu.


Avi tertunduk lemas, air mata nya pun ikut turun tercurah kebawah.


Ada apa denganku? Aku merasa membenci Arash. Dia sangat egois. Tak pernah menghargai keinginan ku.


Apa yang dia pikirkan?


Dia mencari ponselnya. ternyata ketinggalan dirumah Anin. Bahkan ia tak mengenakan apa apa dikakinya ketika keluar dari rumah Anin.


.


.

__ADS_1


"Avi.. kemana kamu. Kenapa menjadi seperti ini vi?" Arash bertanya tanya dalam kesendiriannya didalam kamar.


Merasa bersalah karna tak bisa sedikit melunak pada kekasihnya itu.


__ADS_2