Wanita Tersayang

Wanita Tersayang
Makan malam bersama


__ADS_3

"Oh.. ga apa apa. Pasti disekolah bukan cuma belajar sajakan? Banyak kegiatan lainnya. Asal kalian jujur mama senang." Ucap mama sambil menepuk pelan lengan Arash. Arash tersenyum melihat tingkah mama Lena yang mulai hangat padanya.


"Aduh mama lupa. Nak Arash kenalkan ini Rahman. Dan nak Rahman ini Arash pacarnya Avi." Arash tersenyum lega mendengar penjelasan mama. Dan melihat Rahman dengan tatapan sinis nya.


"Oh begitu buk, kenalkan saya Rahman." Rahman mengulurkan tangannya dengan perasaan yang tidak senang. Terlihat dia sedang cemburu. Tapi entah kenapa itu terlihat biasa bagi mama Lena dan Avi.


Arash menjabat tangan Rahman. Mereka saling menampakan senyumnya yang terpaksa. Vita yang melihat mereka sekilas paham, bahwa Arash dan Raan sama sama terbakar api cemburu.


"Sudah... lama betul berjabat tangannya. Nanti kalau ada yang patah gimana? Kakak ga tanggung jawab ya..." Dia menggoda kedua tamunya.


Dan Rahman masih tak mau menyerah. Dia menyapa Avi dan tersenyum padanya. Avi menyadari kecemburuan Arash hanya menjawab dengan senyuman yang dipaksakan.


Tak berapa lama Rahman undur diri. Karena sudah sejak tadi dia kerumah. Hatinya sedikit senang karna sudah bertemu dengan Avi. Walaupun bukan seperti yang dia pikirkan.


Arash yang masih berlama lama disana pun menanti kepergian Rahman. Vita dan Ica melihat kejadian tadi merasa lucu sendiri. Mereka tak menyangka dua pemuda tampan mengharap cinta dari adik mereka. Walaupun hanya satu pemuda yang dibalas cintanya yaitu Arash.


Tak lama setelah kepergian Rahman. Arash juga undur diri. Karna waktu juga hampir maghrib.


"Shalat disini saja dulu nak.." Basa basi mama Lena.


"Iya, ga baik lo keluar rumah udah dekat waktu maghrib." Tambah Ica meyakinkan Arash.


Arash melihat kearah Avi yang mengangguk tanda setuju.


"Maaf saya merepotkan ma..kak" Kata Arash pada mereka.


"Pahala untuk mama karna ada tamu yang shalat dirumah ini. Anggap saja rumah sendir.." jawab mama ramah. Arash merasa sangat bahagia. Dia menang banyak. Tentu saja ta ada yang bisa menembus dinding cintanya bersama Avi, termasuk itu Rahman.

__ADS_1


Benar saja tak lama kemudian muadzin mengumandangkan adzan. Mereka melakukan shalat berjamaah dengan Adi suami Ica sebagai imamnya. Selesai shalat Arash berbincang bincang dengan Adi dan mama diruang tamu.


Avi dan kakaknya menyiapkan makanan didapur karna sudah kebiasaan mereka, makan malam setelah waktu maghrib. Tampak wajah bahagia dari Avi menyiapkan makan malam untuk semua, terlebih disana ada Arash kekasihnya.


"Ma.. makan malam udah siap. Ayo...ajak Arash sekalian" kata Ica dari arah meja makan yang terbuat dari kayu yang terlihat sederhana.


"Mari nak Arash. Kita makan sama sama." Mama berdiri diiringi Adi dan Arash.


Mama memanggil Deby yang baru pulang kerja yang sejak tadi dikamarnya.kemudian mengetuk pintu kamar Vita untuk memanggilnya makan malam.


"Duluan aja ma, ga pa pa. aku mau nungguin bang Engki pulang dulu." jawab Vita dari kamar yang sedang membaca AlQuran.


"Makan sedikit saja nak, kamu kan lagi hamil." kata mama masuk kekamar Vita dengan membuka sedikit pintunya.


"Iya mama ku sayang. Bentar deh. Mam duluan aja." Ternyata dia masih kalah dari mama.


Bibirnya selalu tersenyum menikmati kehangatan dikeluarga kekasihnya. Sambil sesekali melirik Avi yang duduk disebelahnya.


Setelah makan malam selesai. Arash pamit undur diri. Tak lupa ia meminta izin ke mama Lena dan Adi untuk mengajak Avi besok pulang sekolah kerumah orang tuanya. Merasa telah mendapat izin kemudian ia pulang.


Avi mengantar sampai kedepan rumah.


"Cieeee.. yang mau dikenalin camer..." goda Deby pada Adiknya. Wajahnya seketika merona.


"Kakak ish.. apaan coba." Avo coba mengelak dan duduk disebelah mamanya manja.


"Sepertinya anak itu serius dengan Avi ma." Tanya Adi yang masih betah duduk diruang tamu pada mama.

__ADS_1


"Betul bang, jarang jarang lho anak yang masih memaki putih abu abu seberani dan tanggung jawab seperti itu. Dia juga sopan." puji Deby untuk Arash.


"Aku juga kagum" tambah Ica.


"Nah kenapa kamu?" melihat Avi yang masih memeluk Mama.


"Sayang, Arash baik kan sama Avi?" tanya mama lagi.


"Baik ma." jawab Avi singkat.


"Ya syukur deh kalau gitu. Mama sedikit tenang saat dia mengajak putri mama ini." ucap mama seraya mengelus rambut Avi.


"Cuma pesan abang satu buat Avi, pacaran boleh jangan sampai melewati batas ya dek. Karna kamu perempuan, dan perempuan itu harus bisa jaga diri. Karna kehormatan kamu kehormatan keluarga juga.


Satu lagi, kalau Arash mengajak pergi sebaiknya pulang dulu kerumah. Sebab saat abang pacaran dulu Ayah pernah bicara seperti itu. Jadi kalau bisa kita juga mengikuti aturan dari Ayah. Tak terkecuali bagi Avi.Mengerti?" Avi mengangguk akan nasehat abang iparnya itu. Kemudian Adi masuk lagi kekamarnya.


"Dengar dan lakukan apa yang dibilang bang Adi tadi ya nak.." pinta mama lagi.


"Iya ma... insha allah...Avi paham."


Karna hari sudah semakin larut mereka sama sama berlabuh kepulau bantal, guna mengistirahatkan tubuh dan pikiran. Masih berharap esok akan lebih baik.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2